Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
Aku Dan Diriku Bab 14


__ADS_3

Aku Dan Diriku Bab 14


Flashback


"Nih hari ini uang jajan nya di kurangi ya, sisanya buat ongkos"


"Iya mah"


Saat itu aku hendak berangkat ke sekolah, biasa uang sakuku lima belas ribu rupiah per hari, karena saat pertama kali aku pindah ke tempat dia aku masih bersekolah di bangku sd kelas enam, dan itu waktu yang tanggung jika harus pindah sekolah. Akhirnya aku pergi sekolah dengan kendaraan umum setiap hari nya.


Sekarang uang sakuku menjadi sepuluh ribu rupiah per hari, yang artinya hanya ada untuk ongkos tak ada jatah untukku bisa jajan.


Awalnya aku tak tahu arah jalan, karena aku memang tak pernah berpergian sebab itu aku benar benar buntu tak tahu arah.


Di hari pertama pindah ke tempat dia, aku benar benar ragu dan takut meski kadang aku menyangkal rasa itu lalu meyakinkan diriku sendiri bahwa semua akan baik baik saja, toh ada ayang jika nanti nya terjadi sesuatu.


Sekarang aku tengah di jalan raya menunggu mobil angkutan umum yang akan membawaku ke sekolah.


"Aprill"


Seseorang memanggil ku dari kejauhan, aku baru saja tiba dan hendak menyeberang tak lama setelah aku berada di sebrang sahabat kecil ku menyapa.


"Haii, Tia"


Aku kembali menyapa dengan melambaykan tangan ku karena jarak kami masih jauh.


"Baru nyampe kamu?"


"Iya nih agak macet"


"Sama aku jugaa, kalo aku kesiangan hehe"


"Huu kebiasaan deh"


"Hehe, ya udah ayo bareng"


"Ayoo"


Kami berdua masuk ke dalam gedung sekolah.


Aku dan tia memang sedekat itu, bisa di bilang kami teman kecil dan kata sahabat sudah melekat pada diri kami. Kami bersahabat sejak kecil, bahkan sebelum kami masuk sd.


Aku dan tia duduk di bangku masing masing, kami tak duduk sebangku karena guru yang mengacak tempat duduk kami sesuai dengan absen, aku duduk dengan teman lelaki namnya tegar, dan tia duduk dengan teman perempuan namanya windi.


Meski masih kecil tapi teman teman begitu usil, mereka akan meneriaki kami yang duduk dengan lawan jenis dengan kata 'cie cie' entah lah aku juga tak tahu mengapa kami seperti itu, yang jelas masa masa ku di sekolah sd sangat menyenangkan.

__ADS_1


Aku begitu bahagia, apalagi sebelum nenek meninggal aku akan pulang dengan berjalan kaki karena cukup dekat, tak terlalu dekat juga tak terlalu jauh cukup untukku.


Meski pulang sekolah aku hanya akan melihat nenek, tapi aku senang, aku bahagia sangat bahagia. Main sekedar nya jajan sepuasnya hehe. Teman teman di dekat rumah ku pun sama seusia dengan ku banyak dari kami yang seangkatan tapi kita beda sekolah. Aku dan teman teman yang rumah nya searah dengan ku akan melewati sekolah teman teman ku yang lain, terkadang kami bertemu entah jam sekolah yang sama atau mereka masuk siang.


Dan sekarang aku tak bisa melewatinya, tak bertemu dengan teman teman karena aku harus bergegas untuk pulang, beberapa menit saja aku telat pulang ke rumah aku akan di marahi.


Jam istirahat sudah berbunyi sedari tadi, tapi aku dan tia masih duduk di bangku. Aku yang masih mengerjakan tugas dan tia yang sedang menunggu ku, aku memang selemot itu dulu.


Akhirnya tugas ku selesai, aku dan tia pergi ke kantin.


"April mau beli apa?"


"Uhm nggak tau, kayak nya nggak dulu deh"


"Loh kenapa?"


"Iya soalnya uang nya ada buat ongkos aja"


"Kenapa mamah kamu nggak kasih uang jajan?"


"Nggak tau tia, mungkin lagi nggak ada uang"


"Ih dasar nenek sihir, ya udah kamu makan makanan aku aja ya kita makan bareng"


"Nggak usah tia, tia makan aja april nggak apa apa ko nungguin tia"


Tia menarik lengan ku sembari mengomel, karena aku harus ikut dengan dia kemanapun, dan makan makanan dia bersama sama.


Dan akhirnya aku dan tia makan bersama di kantin, tia akan sangat senang jika permintaan nya di ikuti, tapi jika tidak sebenarnya tidak apa apa.


Tia adalah sahabat terbaik yang aku punya saat kecil dulu sifat maupun sikap nya tak pernah berubah, meski kadang tia di ajak bergabung bersama teman yang lain namun tida tak akan pernah lupa padaku.


Begitupun aku, jika aku bergabung bersama teman teman yang lain aku tak akan pernah lupa dengan tia. Kami akan selalu bersama apapun keadaannya.


Tak terasa bel masuk sudah berbunyi, aku dan tia bergegas untuk masuk ke dalam kelas, beriringan dengan teman teman yang lain. Aku kembali ke bangku ku, begitupun dengan tia, tak lama dari itu guru pun datang dan siap mengajar.


...


Sekarang aku sedang menunggu mobil angkutan umum, tadi ketika bel pulang berbunyi semua murid berhamburan keluar kelas, beramai ramai kembali ke rumah masing masing. Aku dan tia berpelukan, kami tak bisa lagi pulang bersama sama sembari bercerita di sepanjang jalan. Karena sekarang arah menuju rumahku berbeda.


Setelah mendapat kan mobil angkutan umum aku masuk dan duduk, aku memilih duduk di dekat pintu karena aku tak kuat jika harus masuk lebih dalam, aku akan mabuk jalan karena tak kuat bau mesin dari mobil. Hehe


Aku sampai di pasar, akhirnya setelah perjalan selama lima belas menit menggunakan angkutan umum. Belum, aku belum sampai rumah karena aku harus masuk lagi ke dalam dengan menggunakan becak atau ojek pangkalan di sekitar pinggir pasar.


Uang saku ku tinggak lima ribu, karena pagi ini aku hanya di beri sepuluh ribu yang lima ribu sudah aku gunakan untuk angkutan umun tadi dan pagi hari tadi.

__ADS_1


"Lima ribu lagi ya, uhm sebaik nya aku coba jalan kaki saja, toh aku sudah hafal jalan nya kalo lupa aku tinggal tanya orang yang lewat aja kan. Oke deh"


Aku putuskan untuk berjalan kaki saja, dengan harapan aku bisa sampai rumah dia dengan selamat. Aku sudah siap menjelaskan jika nanti aku pulang di marahi karena telat.


Biasanya uang lima ribu ku ini aku gunakan untuk naik becak atau ojek, selain ketika aku masih awal dan belum tau jalanan aku punya uang jajan, tapi sekarang aku nggak punya uang jajan jadinya malah merepotkan orang lain.


"Huhf kasian Tia dia pasti masih lapar, karena makanan nya di bagi dua dengan ku"


Jadi teringat Tia, terkadang aku merindukan nya, selain sekarang rumah yang aku tinggali sangat jauh, aku tak punya teman seperti di rumah sebelumnya. Bahkan aku tak pernah keluar rumah selain hanya pergi ke warung jika di suruh belanja. Yang aku lakukan setiap hari hanya berdiam diri dengan diri sendiri dan berbagai pekerjaan rumah.


"Heh dari mana saja kamu ini, pulang nya ko lama!"


Akhirnya aku baru saja sampai di rumah.


"Eeh iya mah anu tadi aku jalan kaki dari depan, aku nggak naik ojek ataupun becak, jadi sedikit terlambat. Maaf mah"


"Ohh jadi sekarang kamu jalan kaki, sudah hafal jalan?"


"Iya mah Alhamdulillah sudah hafal"


"Oh gitu, syukurlah jadi tak perlu di tambah lagi uang jajan nya ya, segitu aja uang jajan kamu toh itu sudah lebih dari cukup kan"


Setelah berucap seperti itu dia masuk kembali ke dalan rumah, belum sempat aku melepas sepatu dia sudah datang dan menyerang ku dengan berbagai pertanyaan nya.


"Huhf untung saja aku sudah siap"


Setelah melepaskan seragam aku pergi makan siang. Sembari beristirahat setelah perjalanan panjang tadi.


"Jangan lupa cuci piring ya"


"Iya mah"


Belum juga aku menyelesaikan makanan ku sudah ada perintah dari dia. Dia dan henda sedang di dalam kamar dan aku di ruang tengah sedang makan siang, dan di depan ku ada mamah nya dia juga ada adik nya dia.


Terkadang aku cukup takut karena yang namanya satu keluarga sifatnya pasti tak akan jauh berbeda bukan? Dan ternyata itu benar, kadang mereka keluarga dari dia akan ikut memarahi ku jika aki salah ketika mengerjakan sesuatu. Aku mengerti meski tak sepenuhnya, mana orang yang mengajari ku dan mana orang orang yang hanya meremehkan lalu memarahi ku.


Setelah selesai makan aku langsung mencuci piring, di lanjutkan mengepel kamar, dapur, tangga, ruang tengah dan kemudian teras depan. Aktifitas rutin ku setiap harinya hanya itu.


Bahkan ketika aku hendak berangkat sekolah, aku harus mencuci piring terlebih dahulu, bangun sejak subuh laku mengerjakan ini itu, mengepel seluruh lantai. Setelah itu baru aku bisa mandi dan di perbolehkan sarapan. Jika sempat aku akan sarapan dan jika waktu sudah mepet aku akan pergi sekolah tanpa sarapan. Karena jika pergi sekolah aku telat aku di marahi, jika pekerjaan belum selesai pun aku di marahi.


Namun semua pekerjaan itu tetap aku kerjakan tanpa membantah ataupun mengeluh, karena jika aku membantah atau mengeluh kalian sudah tahu apa yang akan dia lakukan. Yap, dia akan marah, mengomel sepanjang hari kadang ayahpun ikut di omeli karena tak bisa mendidikku dengan benar katanya.


Jika aku bilang sebentar ketika dia memanggil dan aku sedang tanggung karena mengerjakan pekerjaan ku yang belun selesai, dia akan marah. Selalu setiap hari dia akan marah marah.


Sampai suatu hari dia marah besar karena aku lupa mencuci piring yang terakhir dia gunakan. Aku tak tahu karena saat itu pekerjaan ku sudah selesai dan aku pergi mengambil jemuran di atas, dia menaruh piring kotor di dapur dan aku sama sekali tak tahu. Alahasil ketika aku turun selesai mengangkat jemuran, dia marah.

__ADS_1


"Kamu tuh gimana kerjaan belum selesai malah ambil kerjaan baru!!"


"Yang mana mah?"


__ADS_2