
Aku Dan Diriku Bab 17
"Permisi bu maaf"
Aku sudah berada di sekolah dan sedang di ruangan wali kelas ku untuk meminta izin mengambil uang tabungan lebih cepat.
Aku masuk setelah mengatakan permisi, lalu aku duduk di bangku berhadapan dengan wali kelas ku dengan batas meja di depan kami.
"Gimana april?"
"Anu bu, saya mau minta izin ngambil uang tabungan saya"
"Lho kenapa? Padahal sudsh berapa minggu ini kamu tidak nabung dan sekarang mau di ambil?"
"Iya bu, ada perlu kata mamah"
"Oh gitu, ya udah bentar ya. Kamu bawa kan buku tabungan nya?"
"Iya bu ini"
Aku memberikan buku tabungan ku yang tadi aku bawa, yang langsung di ambil dan di hitung oleh wali kelas ku. Sembari menunggu aku diam duduk, hanya memperhatikan.
Setelah beberapa menit wali kelas ku menyodorkan buku tabungan ku dan beberapa lembar uang.
"April, ini ya selain kamu agak jarang menabung hanya segini total nya. Tiga ratus lima puluh ribu rupiah"
"Oh iya bu nggak apa apa, kan saya jarang jadi dapet sedikit"
Entah akan cukup atau tidak yang penting aku sudah menuruti kemauan nya. Setelah aku mengambil uang nya dan ku simpan di antara lembaran kertas di buku tabungan, aku keluar dan menuju ke kelas menyimpan nya di dalam tas.
Saat nya untuk pulang, aku berpisah dengan tia dan aku naik angkutan umum seperti biasanya, jika sudah di pasar aku akan jalan. Kini aku sudah terbiasa meski harus menempuh jarak yang lumayan jauh dan menghabiskan waktu selama setengah jam lebih tapi aku senang, karena aku memiliki sedikit waktu untuk bersantai.
...
"Apaan ini kenapa cuma sedikit?"
"Iya memang segitu mah, kan April jarang nabungnya. Apalagi sejak april pindah nggak nabung nabung lagi"
__ADS_1
"Oh kamu mau nyalahin mamah gitu? Gara-gara pindah ke sini aku nggak bisa nabung?"
"Nggak mah bukan gitu, maksudnya kan sekarang uang april harus di pake buat ongkos"
"Alasan aja ya kamu tuh"
"Betul mah"
Ketika aku sudah sampai rumah dan selesai ganti pakaian aku langsung memberikan uang yang tadi aku ambil, ku kira dia akan terima saja tapi ternyata dia marah.
Aku hanya memiliki tabungan yang sedikit, lagi pula karena selain ada nenek aku bebas menabung sesuka ku sisa dari aku jajan di sekolah. Aku tak tau jika akan seperti ini.
Aku menahan sesak ketika dia membentak, entah kenapa selain dia suka mencubiti aku ketika aku tidur, dia juga sering marah marah tak jelas padaku.
Sore tiba, ayah pulang dan dia marah marah kepada ayah. Dia tak habis pikir mengapa aku hanya memiliki uang tabungan sekolah yang sedikit seperti ini. Jelas ayah tak tau, karena yang ayah tahu aku hanya akan menabung jika aku memiliki uang lebih dari jajan.
"Sudah lah mah, kan masih anak anak juga. Mungkin uang buat jajan nya kurang jadi nggak dia tabung dan habis untuk jajan di sekolah"
"Ah ayah kebiasaan, makanya anak tuh di ajarin dong. Di kasih tau yang bener kayak gimana, kalo gini caranya suram hidup nya nanti!!"
"April sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hatinya ayah, tapi ternyata april tak sadar bahwa sejak awalpun dia tak bida menerima april di kehidupan dia dan ayah"
Aku masih di tempat yang damai ini, dengan pikiran ku yang kesana kemari, pikiran yang mengingatkan aku dengan segala sikap nya sejak dulu padaku.
Entah aku yang salah atau memang dia yang ingin aku tak ada, yang jelas ini semua sakit untukku.
Apakah salah jika aku merasa tersakiti? Atau aku hanya mendrama pada hidup ku sendiri? Aku tak tau yang mana yang sebenarnya baik, tapi yang pasti aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dejgan segala kemampuan ku sendiri, tanpa tekanan dan paksaan.
Hari sudah mulai menjelang sore, langit mulai meredup, matahari perlahan menghilang bersembuyi di balik awan. Dan bulan yang akan menggantikan terangnya sang matahari.
Aku berusaha menguatkan diri, berusaha menenangkan diri agar tetap semangat meski rapuh. Aku harus terlihat baik baik saja jika aku akan pulang ke rumah, dan aku harus baik baik saja.
Ku usap air mataku, yang sangat sulit di hentikan. Rasa sesak ini masih ada, aku masih ingin berlama lama disini menenangkan hati dan pikiran ku bersama dengan alam.
Namun jika aku terus begitu, aku tak akan bisa pulang. Jalanan yang minim pencahayaan akan membuat ku sulit menemukan jalan pulang, maka dari itu aku harus bergegas.
"Ayolah april kamu pasti bisa! Jangan cengeng gini, udah dong sakit nya udah. Kenapa nggak berhenti berhenti sih hiks"
__ADS_1
Aku berusaha menghentikan nya, namun aku tak bisa. Terlalu sakit, terpaksa aku berjalan dengan keadaan memperbaiki segala kekacauan pada diriku, menghapus air mata sekuat tenaga, merapikan baju kusut ku dan rambut dan membenahi hati yang begitu sesak.
Aku berjalan dengan tangan yang masih berusaha menghapus air mata, dan semua selesai tepat ketika aku di pinggir jalan raya.
"Aku harus pulang"
Aku bergegas untuk pulang, berjalan kaki menyusuri jalanan yang mulai gelap dan kendaraan yang semakin banyak berlalu lalang.
"Oh iya malam ini malam minggu ya, pantas saja jalanan begitu ramai"
Aku terus menyusuri jalanan, hingga aku sampai di depan pintu rumah. Jam menunjukkan pukul 20.05, sudah terlalu larut.
"Dimarahi tidak ya"
Aku bergumam sendiri, bagi orang lain jam 20.05 mungkin masih sore atau belum terlaku larut malam. Tapi di sini, itu sangatlah larut.
Aku memberanikan diri mengetuk pintu, tak mungkin aku tak pulang.
"Assalamualaikum"
Cetrek
Cetrek
Kunci terbuka namun tidak dengan pintu, henda yang membuka nya aku sudah tau itu. Ku buka daun pintu dan benar saja aku menemukan punggung henda yang berjalan masuk ke ruang tengah.
Tak ada yang melihat ke arah ku semua orang terfokus ke arah tv, namun aku dapat sedikit melihat jika ayah melirik padaku.
(Maaf ayah)
Aku hanya dapat mengungkapkan nya dakam hati, betapa pengecutnya aku.
Aku berbaring, dengan baju kotor yang belum aku lepas. Tas aku gantungkan di kunci lemari, tak ada gantungan di kamar ini. Aku mengganti pakaian ku dan kembali berbaring.
(Nanti aja, kalo semua orang sudah masuk kamar)
Aku berniat membersihkan badan, tapi melihat mereka sedang berkumpul aku takut mengganggu jadi ku putuskan menunggu mereka tidur haru aku akan bebersih.
__ADS_1