Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
Aku Dan Diriku 33


__ADS_3

Maaf kalo banyak typo bertebaran ya teman teman, soalnya aku update langsung jadi nggak sempet di cek.


tandai aja typo nya ya. happy reading 😄😘


Akhirnya aku bisa pulang, meski nyatanya aku akan kembali ke rumah yang bukan rumah untukku. Namun aku bisa keluar dari rumah yang begitu menyeramkan, apa aku boleh menyebutnya dengan rumah hantu?


Astaga,


Sekarang aku dan Gilang tengah di perjalanan, ini sudah jam dua siang lewat lima belas menit.


Yah Gilang sedikit berbincang bincang lagi dengan ayahnya, namun aku tak tau apa yang di bicarakan mereka.


Yang aku tangkap hanya satu yaitu ayah Gilang yang meminta no orang tua ku.


Katanya hanya untuk memastikan segala keperluan yang di butuhkan di acara pernikahan nanti.


Ahh membayangkan acara pernikahan yang entah bagaimana bentuk nya membuat ku senang.


Aku tak perlu mewah atau di meriah kan seperti pernikahan pada umumnya. Asalkan sah secara agama dan negara aku ikhlas.


Lagian sudah seharusnya seorang wanita meringankan mahar nya bukan, agar mempermudah sang pria.


Mungkin semua itu di tentukan jika seseorang yang ingin menikah namun keadaan nya seperti kami saat ini.


Aku akan terima apapun yang ada pada diri Gilang, dan Gilang pun akan menerima segala nya yang ada pada diriku.


Asalkan selalu bersama, kondisi seperti apapun pasti akan terlewati. Aku yakin itu.


Di perjalanan ini aku tengah memakan cilok, aku lapar tentu saja tapi bagaimana lagi. Orang yang pemalu memang suka sekali menyiksa dirinya sendiri.


Jalanan sedikit macet, hari mulai senja. Mungkin karena macet jadi waktu yang kami tempuh lebih lama dari kemarin.


Kami sampai di tempat kerja Gilang, dekat memang dengan rumahku namun lebih dekat ke sini. Lagipula bisa sedikit istirahat dulu.


Toh orang rumah kan tak tahu aku kemana sejak kemarin, jika melihat aku bersama dengan Gilang bisa bisa tamat sudaha hubungan kami ini.


Kami memang se-nekad itu, aku yang sudah tak perduli apapun yang penting aku bisa keluar dari rumah yang bukan rumah, dan Gilang yang sudha bulat untuk segera menghalalkan ku.


Meski perkenalan kami masih sangat singkat, namun nyatanya semua itu tak membuat kami ragu.


Aku yang tak ragu mempercayakan segala nya kepada Gilang, dan Gilang yang terus maju meski segala rintangan menghadang.


Setengah tujuh malam aku di antar Gilang di depan gang, berat rasanya untuk aku melangkah kembali ke rumah.


Ah biarlah bagaimana pun reaksi mereka setelah melihat ku, aku tak perduli.


Tadi Gilang sudah hampir di omeli oleh bos nya, Gilang memang di beri mess dan Gilang tinggal satu rumah dengan bos nya.


Bedanya Gilang tidur di lantai dasar sedangkan bos nya di lantai dua, aku pun sudaha kenal dengan bos nya, aku tahu Gilang dan bos nya itu memiliki hubungan yang sangat dekat.


Bahkan bisa ku lihat keakraban mereka, tak ada sikap canggung kepada Gilang dan Gilang juga seperti itu.

__ADS_1


Aku senang dan tenang, bahkan Gilang sedikit di ceramahi oleh majikannya itu tentang bagaimana cara untuk menghormati wanita memperlakukan wanita.


Tentu saja bos nya itu seorang ibu dari lima anak, anak anak nya pun sama begitu baik kepada Gilang bahkan menantu menantu dari bos nya Gilang itu sudah tau aku siapa, dan aku sudah sedikit mengenal mereka.


Sepertinya Gilang mendapat keluarga baru di Bandung ini, karena katanya Gilang itu sudah dari dulu kerja di tempat itu. Makanya tak ada kata canggung lagi, dan bahkan mereka semua sekeluarga bos nya itu mendukung sangat hubungan kami.


"Assalamualaikum"


Aku tak mengetuk pintu seperti biasanya, tangan ku gemetar walau aku pernah pergi kebur karena perjodohan waktu itu, namun kini kondisinya berbeda.


Cetrek


Cetrek


Pintu di buka sedikit, menampakan siapa yang membuka kunci dan ayah yang sedikit melongo ke celah pintu yang terbuka sedikit itu.


Aku tersenyum kaku lalu mengangguk, masuk ke dalam lalu kembali mengunci pintu.


Belum sampai aku ke dalam kamar, masih di ambang pintu aku di tanyai.


"Dari mana aja kamu?"


Ayah yang bicara, dengan dia yang menatap ku jijik seolah aku seorang yang penuh dengan lumuran lumpur yang kotor.


Henda yang sedang duduk di samping dia pun ikut menatap, menatap aku yang masih berdiri mematung belum menjawab pertanyaan dengan tatapan sama jijik nya dengan dia.


"Nggak dari mana mana"


"Bilang aja dari Garut sama pacar kamu itu, nggak tau diri banget sih jadi perempuan. Pergi tidak bilang mau kemana lalu perginya dengan lelaki lagi, lebih berani ya kamu dari dugaan saya!"


Kali ini dia yang bicara, sudah lebih dari empat kata jika ingin menjawab pernyataan ku.


Aku masih diam, masih berdiri dengan ahaha yang berdiri tak jauh dariku menatap ku dengan alis yang berkerut marah, marah dan mungkin saja bingung dengan sikap ku akhir akhir ini. Aku sadar perubahan ku ini aku sangat sadar.


"Kali di tanya itu jawab, sama lelaki bisa pergi dua hari sama orang tua nggak bicara seperti orang bisu"


Aku masih menunduk, apakah akan di perbolehkan jika aksi memang pergi dengan Gilang untuk meminta restu? Apakah boleh aku percaya dengan pilihan ku? Apakah boleh jika aku ingin bersama dengan pilihan ku tanpa bantahan sedikit pun?


Tentu saja jawaban nya adalah tidak, aku tau bahasan sebelum aku mencoba. Karena aku sangat mengerti apa yang ada di pikiran nya.


Aku seharusnya menikah dengan lelaki kaya, agar kelak aku tak lagi menginjakan kaki ku dirumah ini lagi.


Aku seharusnya dengan lelaki kaya agar tak menyusahkan nya. Tapi apalah daya, yang aku cintai adalah lelaki sederhana yang siap menerima segala kekurangan ku.


Aku masih diam tak berniat menjawab. Dan mereka pun masih dengan posisi mereka masing masing, ayah mulai bergerak duduk di tempat biasa.


Aku masih menunduk, tak ada tangis namun tetap saja sesak melihat ayah yang abai padaku.


Walau aku tau aku sudah mengecewakan ayah, tapi ayah percayalah aku begini agar aku tak membuat ayah menderita lebih jauh.


Aku begini agar bisa membebaskan ayah dari bingungnya pilihan antara aku dan dia.

__ADS_1


Aku ikhlas melakukan apapun untuk ayah, sekalipun aku di benci. Tapi sungguh ayah aku sangat amat menyayangi ayah.


Tak lama aku di usir dan aku masuk kedalam kamar merebahkan tubuhku yang lelah, lelah karena suasana dan kondisi di rumah ini dan di rumah calon mertua ku sama.


Jelas saja karena kondisi ku dan Gilang juga sama, tak akan beda jauh.


...


Dua Minggu setelah aku pergi ke kampung halaman Gilang, aku dan Gilang masih dengan komunikasi kami yang sangat baik.


Hingga aku ceritakan jika orang tuaku menekan agar aku dan Gilang segera menikah, karena katanya hubungan kami sudah selayaknya hubungan suami istri.


Sudah tak layak lagi jika masih berpacaran. Padahal aku dan Gilang hanya bertemu seminggu sekali dan setiap hari nya kami hanya chatting-an.


Gilang semakin pusing, tapi Gilang tetap menenangkan ku. Menguatkan aku agar aku bisa lebih sabar lagi, karena Gilang yakin tak lama lagi kami akan segera sah katanya.


Satu bulan berlalu, dan ketidaksukaan dia padaku semakin menjadi. Segala sesuatu yang aku lakukan salah Dimata nya.


Bahkan ketika aku menerima makanan dari gilang, yang Gilang kirim sendiri ke rumah karena aku sakit.


Dia dengan tatapan benci nya bicara seolah Gilang adalah seorang dukun, yang akan menguna guna ku agar aku terjatuh pada pelukan Gilang.


Aku tentu saja sangat sadar jika aku mencintai Gilang, bukan karena guna guna. Ah aku ingin segera sah dengan Gilang agar aku tak disini secepatnya.


Hingga tiba tiba no tak di kenal masuk kedalam ponsel ku, aku ragu namun aku mengangkat nya.


Ternyata ayah Gilang menelpon ku, entah sejak kapan no ku di simpan oleh ayahnya Gilang. Karena seingat ku aku tak memberikanya, aku hanya memberika no orang tuaku.


Mungkin Gilang yang memberikan nya, setelah nya aku keluar kamar hari ini semua orang lengkap dengan ayah ada di rumah.


Aku memberikan ponsel ku pada ayah dan dia, lalu mereka beebivafa lewat telepon. Setelah nya telepon selesai ayah dan dia cepat meng-introgasi ku.


Yah aku tak menyela jika aku memang salah, tak memberitahu jika ayah Gilang akan menghubungi mereka orang tua ku. Jujur aku lupa, karena rasa takut selalu dominan dalam hati ku.


Tapi setelah nya aku bisa melihat kelegaan di raut wajah dia, mungkin karena tak lama lagi aku akan menikah dan akan segera keluar dari rumah ini.


Setelah nya kembali seperti biasa aku di dalam kamar, esok lusa dan seterusnya aku lakukan dengan biasa.


Tak ada lagi interogasi, karena sudah jelas jika ayah Gilang akan membantu membiayai pernikahan ini.


Hingga ketika waktu sudah di tentukan pada tanggal 18 Agustus 2021 pernikahan ku dan Gilang akan berlangsung.


Tentu saja aku mendengar langsung karena ayah Gilang kembali menelpon ke ponsel ku, karena ponsel ayah benar benar tak bisa di hubungi.


Bukan rusak tapi memang jarang di pakai, mereka akan membuka ponsel ketika tengah malam dan itu tentu saja membuat ayah Gilang bingung, sehingga menghubungi no ku yang selalu stay.


Aku senang bukan main, akhirnya aku akan segera bebas. Ayah Gilang menanyakan mahar ku ingin apa. Yang aku jawab apa saja, yang penting Gilang menyayangiku dan pertanggung jawab terhadap ku.


Jujur itu sudah cukup untukku. Karena yang aku butuhkan adalah pelukan dan kasih sayang yang tulus tanah banyak, agar hati ku kembali menghangat.


Mungkin sisi ceria ku pun akan kembali jika aku sudah bebas dari rumah yang bukan rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2