
Aku Dan Diriku Bab 22
Pagi ini aku bangun dengan sangat ceria, tak ada perasaan sedih atau pun kecewa saat aku bangun tidur.
Seperti biasa aku melakukan setiap rutinitas ku sebelum pergi, entah itu akan pergi main atau kerja.
Hari ini aku tak berangkat ke toko, karena libur. Dan sekarang aku akan bertemu dengan sahabat ku shila, semalam kami sudah berjanji akan bertemu di cafe biasa.
("Shila aku otw ya")
Aku memberi kabar pada shila bahwa aku akan segera berangkat. Tak lama dari itu shila membalas.
("Ok, aku juga udah di jalan nih")
Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai di cafe tempat biasa kami menghabiskan waktu bercerita. Tak lupa aku membayar ojol yang tadi mengantar ku. Kemudian aku masuk ke dalam mencari sosok shila.
Tak butuh waktu lama untuk aku mencari shila, dengan memperhatika sekitar aku menemukan shila yang sedang duduk dengan ponsel di tangan nya.
"Shila!"
Aku memanggil nya ketika jarak kami sudah dekat, yang merasa di panggil oun mendongak melihat aku yang sudah ada di depan nya.
"Ahh april kangen banget!"
Shila memelukku ketika aku berada tepat di depannya. Ya, kami tak lagi bertemu sejak aku ikut menginap di rumah shila karena perjodohan waktu itu.
Selain shila sibuk dengan ujian kelulusan nya dan di pantau orang tua nya harus belajar, shila tak pernah bertemu dengan ku lagi beberapa bulan. Kami hanya bertukar pesan sesekali, dan baru hari ini kami kembali bertemu.
Aku berusaha melepaskan pelukannya karena begitu erat.
"Shila, udah dulu malu liat banyak orang, aku sesak"
"Lagian, kemana aja sih kamu! Kangen tau aku sama kamu april astaga!"
Kami duduk, dengan shila yang mengomeli aku. Bukan kemana aja, kan shila sendiri yang bilang tak bisa bertemu sebelum shila lulus astaga.
"Ih ko jadi nyalahin aku sih, kan kamu yang bilang sendiri sama aku. Untuk nggak ketemu dulu karena kamu harus fokus ke ujian. Gimana sih?"
"Hehehe, ya kan april bisa ke tempat shila ih. Jahat deh"
"Dih apaan haha, nggak lah lagian kan ada orang tua kamu. Malu tau"
"Ko malu? Orang tua aku aja udah tau kamu ko, dan mereka nggak larang aku untuk berteman dengan kamu"
"Iya sih, tapi ya tetap aja"
"Huu dasar pemalu"
"Oh iya mau pesen apa nih? Laper, aku belum makan"
"Kenapa? Kebiasaan udah tau punya penyakit lambung masih aja suka telat makan, April ini batu banget sih?"
__ADS_1
"Ya udah ih jangan ngomel, ayo pesen"
"Iya iya"
Akhirnya perdebatan kami selesai, setelah memesan kami hanya bercerita ringan. Shila menceritakan bagaimana sulit nya ujian kelulusan nya, tapi Alhamdulillah shila lulus dan sekarang akan melanjutkan kuliah karena permintaan orang tuanya.
Tak lama makanan kami datang, dan kami makan dengan diam hanya suara riuhnya nuansa cafe dan sendok yang terdengar.
"Ok jadi gimana? Bukan nya kamu mau cerita?"
Shila sudah selesai dengan makanan nya, dan mulai membuka pembicaraan.
"Ok, tapi kamu jangan ketawa yah"
Aku dan shila sudah selesai, setelah menggeserkan bekas makan kami, aku mulai bercerita.
"Ko malah ketawa emang bakalan ada yang lucu?"
"Ya nggak tau sih, menurut kamu aja. Tapi janji jangan ketawa"
"Dih gak jelas banhet sih, ya udah iya janji"
Kami bertaut jari kelingking.
"Jadi.."
"Hu'um"
"Jadi, aku lagi deket sama seseorang akhir akhir ini"
"What? Serius? Siapa?"
Heboh, aku sudah menebak shila akan heboh. Dia membrikan aku pertanyaan beruntun.
"Shila! Pelan pelan. Iya aku serius"
"Orang nya kayak gimana?"
"Ya, nggak gimana gimana lah. Baik ko"
"Uhmm, april punya gebetan"
Shila tersenyum senyum gemas sambil memegang tangan ku. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah shila.
"Belum shila, orang dia aja belum nyatain perasaan nya. Ini cuma dugaan ku aja, kalo kata kamu gimana?"
"Ya udah jelas nggak sih, dia tuh suka sama kamu april. Dia tertarik sama kamu"
"Beneran? Jangan bikin aku berharap ah"
"Beneran, mau aku pastiin? Sini hp kamu biar aku tanya langsung"
__ADS_1
"Eh eh, ya jangan lah enak aja. Kalo dia ilfel gimana?"
Shila berusaha mengambil hp ku yang ada di atas meja namun dengan cepat aku ambil.
"Ya makanya percaya deh sama aku, sejauh ini berapa lama kamu berhubungan sama dia?"
"Mungkin hampir dua bulanan?"
"Tuh udah lumayan, kalo dia nggak suka sama kamu nggak mungkin dia akan bertahan selama itu"
"Ok, aku akan nunggu"
"Iya dong harus, pokoknya semangat siapa tau dia itu jodoh kamu. Dan dia yang akan menarik kamu dari dalam nya jurang yang selalu menghantui kamu setiap hari"
"Iya shila, makasih yaa.. aamiin semoga aja"
Shila menyemangati ku, aku harap yang shila katakan benar. Semoga saja gilang bisa menjadi penyelamat ku dari jurang dalam yang taj terlihat itu.
"Trus kalo kamu gimana?"
"Uhm? Apanya?"
"Sekolah kamu. Kamu kan udah lulus, trus mau di lanjut?"
"Iya lah, harus! Nggak ada bantahan dari ortu ku ya ampun. Aku harus kuliah!"
"Ya udah lah bersyukur aja, dari pada kayak aku? Berhenti sekolah karena keadaan dan nggak mau jadi beban"
"Iya sih, tapi jangan ngerendah dong aku nggak suka"
"Iya, aku cuma ngingetin kamu aja. Jangan oatah semangat semua itu demi masa depan kamu shila"
"Iya, april tuh ya, kadang bisa lho jadi pembimbing"
"Ih apaan emang aku guru?"
"Bukan, tapi orang tua hahahha"
"Shilaa!! Ihh apaan sih emangnya aku udah tua enak aja!"
"Hahah sorry sorry, lagian pake acara ceramah segala. Kayak ortu tau"
"Yee orang di bilangin juga"
"Iya iya, kakak april"
"Ih apaan sih, godain aku terus kamu nih"
"Hahahah iya iya sorry"
Aku dan shila terus berbincang bincang. Karena kami lama tak bertemu, kami banyak menceritakan ini dan itu, pengalaman pengalaman yang aku dan shila alami selama kami tak bertemu.
__ADS_1
Gilang. Semoga saja dia akan menjadi matahari untuk ku. Menjadi sebuah alasan untuk aku terus bertahan. Meski sejauh ini gilang belum mengetahui apa yang terjadi pada ku sepenuh nya.
Meski begitu aku harap dia akan menerima apapun kondisi dan keadaan ku.