Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
Aku Dan Diriku 37


__ADS_3

Seminggu lagi hari pernikahan ku, tak henti hentinya aku tersenyum. Segala nya sudah siap, kali ini gilang membayar ke salah satu bapak penghulu terdekat atau mungkin lebih tepatnya ke bapak penghulu yang sama dengan pa penghulu yang menikahkan anak dari bos nya gilang.


Sehingga dengan mudah dan sudah siap untuk urusan KUA, sepanjang aku dan gilang mengurus berkas berkas yang diharuskan ada tak seorang pun yang membantu kami.


Hanya bos gilang yang selalu memberi arahan, atau juga a emi, anak dari bos nya gilang yang sebulan lalu menikah.


Mereka yang memberi arahan kepada kami, mulai dari ke RT RW, kecamatan kelurahan, dan surat vaksin. Ada beruntungnya juga tahun ini kami menikah, selain memang di larang untuk berperta ria dalam membuat acara juga banyak larangan dari perintah.


Karena seperti yang kalian tahu, di tahun ini 2021 adalah tahun yang masih krisis akan wabah covid19. Dan dengan itu pernikahannya ku yang akan di laksanakan dengan sederhana tak akan mengundang banyak tanya.


Karena menurut orang lain akan wajar dan sangat mematuhi pemerintah hihi.


Kontrakan sudah di sewa dan tinggal di bayar muka tiga hari lagi, karena untuk sekarang masih ada orang nya dan jatuh temponya sekitar tiga hari lagi.


Selain dekat dengan tempat kerja gilang juga sangat mudah kesana kemari, yang jelas aku pasti betah. Semakin tak sabar aku menantikan nya.


Hari ini pun aku tengah berkemas, yah memang tak akan di pindah pindahkan sekarang tapi aku akan membawa sedikit demi sedikit barang ku atau baju baju ku ke tempat gilang, jadi nanti tak perlu repot.


Mungkin hanya aku yang senang aakan pernikahan ku ini, karena aku bisa melihat kemurungan di wajah orang rumah.


Bahkan sore ini aku kembali di kejutkan dengan ketidak setujuan nya dengan hari pernikahan ku, padahal tinggal seminggu lagi.


"Kayak nya pernikahan kamu harus di batalin. Buyut nya mamah meninggal tadi siang semua orang pasti bakal repot"


Aku di buat cengo dengan pernyataan nya. Mulut ku sedikit menganga dan pikiran ku kacau, sebenarnya maunya dia ini apa?


"Ya terus kenapa mah?"


Entah lah pikiran sudah blank aku hanya bisa mempertanyakan nya dengan kurang ajar seperti itu.


"Kenapa kenapa, ya jelas lah bakalan bentrok ganggu tau nggak!! Belum malam ini harus tahlilan, belum minggu depan kan tujuhnya ya orang orang bakalan sibuk masak buat tujuh hari tahlilan buyut nya mamah gimana sih!!"


"Nggak perlu mah, aku juga nggak tau gilang punya uang berapa"


"Iya sebelum pacar kamu itu ngasih duit buat masak masak disini lebih baik di batalin aja, nanti ajalan tahun depan kek biar pasa punya duit dulu baru nikah!! Bukannya kayak sekarang pada nyusahin orang tua aja"


Sesak ingin rasanya aku menangis, tak bisa tak boleh aku harus bisa menahan nya. Terlalau banyak aku menangis di rumah ini.


"Nggak tau mah, kayak nya nggak bisa toh tinggal seminggu lagi. Meskipun nggak banyak ngundang orang tapi tetap aja tanggal nya sudah di tentukan"


Baiklah aku harus punya keberanian. Aku ingin egois kali ini, aku tak akan kembali merelekan kebahagiaan yang sudah di depan mata.

__ADS_1


"Kurang ajar ya kamu, hah berani ngelawan!! Bukannya nggak boleh nikah tapi orang orang akan sibuk minggu depan. Kamu pikir nggak capek masak banyak hah?!! Ngasih duit aja belum udah sibuk! Tinggal batalin dulu aja apa susahanya sih"


Aku kembali ke dalam kamar tanpa menghiraukan ocehan nya.


Ku beri tahu gilang, dan sama dengan ku gilang pun tak akan membatalkan nya apapun yang terjadi. Toh di rumah ini tak akan ada pesta, karena kami akan menikah di rumah bos nya gilang.


Yah, bahkan sebelumnya aku di suruh menikah hanya di KUA nya saja, cukup dengan ijab kabul dan selesai. Itu keinginannya.


Karena larangan pemerintah yang tak mengijinkan berkumpul banyak orang, dan harus selalu menjaga jarak menjadikan dia sangat sangat fanatik.


Benar benar tak ada orang yang boleh ke rumah nya bahkan sodaranya sendiri, kecuali harus dengan menggunakan masker dan sebelum masuk memakai handsanitaizer.


Di tengah kebingungan itu bos gilang menawarkan rumahnya yang berada di atas mess nya gilang untuk menjadikkan nya tempat ijab kabul, dan para tetangga yang menyaksikan sehingga tak akan menjadikan fitnah.


Selain itu bos gilang juga memberikan penawaran untuk nasi kuning tumpeng nya akan berasal dari bu bos, sehingga lebihnya uang gilang yang hanya lima juta dan harus cukup untuk segalanya itu benar benar cukup.


Bahkan dari uang itu bisa menjadikan kontrakan kami tak terlalu kosong nantinya.


Bos nya itu membelanjakan uang gilang dengan ku, membeli ember, jolang, gas LPG, galon, bahkan kasur bantal, perlatan dapur dan segala keperluan rumah tangga.


Dengan senang hati, dan hati ini jadi tenang. Dan kejadian sore ini tak akan bisa menggantikan ketenangan itu, karena sekali lagi aku san gilang akan terus maju menerobos keinginanya.


...


Sore ini ini aku berada di rumah kontrakan yang masih kosong dan kotor bekas orang lain, aku akan membersihkan nya sore ini dengan sddikit bantuan gilang tentunya.


Setelah menyapu dan mengepel aku biarkan sebentar agar lantai nya mengering, tak lama dari itu gilang datang membawa lemari kayu.


Tentu saja lemari itu di pinjamkan bos gilang kepada kami, karena kami tak mempunyai apapun. Di rumah aku hanya punya lemari eksel yang kecil dengan empat pintu, tentu saja tak akan cukup. Baju ku saja tak masuk semua hehe.


Selain lemari baju kayu juga gilang membawa lemari piring, memang sih bukan baru bahkan kondisinya sudah tak beepintu dengan bawah nya bolong tak ada alas.


Namun aku bersyukur setidaknya masih ada yang perduli, dan lumayan kan untuk sekedar mengeringkan piring.


Lalu kompor gas, gilang hanya membeli LPG nya saja tidak dengan kompor karena itu usulan dari bos nya gilang, tentu saja dengan senang hati aku dan gilang menerimanya.


Setelah semua nya masuk dan gilang memasang kompor gas dengan LPG di dapur aku kembali ke tempat kerja gilang untuk membawa baju baju ku yang beberapa hari yang lalu aku bawa sedikit demi sedikit.


Lalu aku tata di dalam lemari kayu yang sudah ku alasi dengan koran, tantu saja agar tak terlalu kotor. Meski sudah di bersihkan tetap saja sedikit debu dan jamur akan menempel jika tidak di alasi, apalagi ruang kontrakan ini pengap. Pentilasi nya hanya sedikit.


Lalu di gelarkan karpet, dan kasur busa yang harga nya tak sampai satu juta hehe tapi tetap aku selalu bersyukur, lalu bantal di tata di atas nya.

__ADS_1


Karena belum di pakai plastik dari kasur itu tak di lepas dulu, biarlah biar terlihat masih baru.


Semuanya sudah selesai di tata, tinggal barang barang ku yang sedikit lagi di rumah itu. Mungkin besok atau lusa akan aku bawa.


Ah tak ada pingit pingit dalam acara pernikahan ini, tentu saja karena kesana kemari aku dan gilang yang mengurusnya sendiri, tak ada anggota keluarga yang membantu. Bahkan mereka tak ada yang perduli.


Setelah matahari hampir tenggelam aku pulang, di antar gilang tentu saja seperti biasa di depan gang dan gilang langusng kembali pulang.


Aku akan mengemas sisa sisa baju ku, dan mengemas barang barang yang kecil kecil lengkap dengan segala persurat suratan penting, seperti ijazah, akta kelahiran, dan sebagainya. Aku masukan kedalam tas kecil ku, dan kantong jinjing lainya agar tak terlihat terlalu mencolok.


Semua sudah siap besok tinggal di angkut saja, aku merebahkan diri di kasur tipis ku ini.


Ah sebentar lagi aku akan meninggalkan kamar ini, saksi bisu dari segala penderitaan batin yang kurasa. Tak ada seorang pun yang tau luka yang selama ini ku derita.


Ayah, bukankah tiga hari lagi adalah hari yang pas untuk mengungkapkan segala rasa sayang mu padaku? Bukankah sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain dan tak akan berada disisi mu sepanjang waktu? Bukan kah ayah akan merindukan ku jika aku pergi dari rumah ini?


Tiba tiba saja pikiran pikiran itu datang ke isi kepalaku, membuat rasa sesak hinggap dan mengakibatkan bulir bulir bening jatuh berdesakan.


Apakah ayah akan merindukan ku?


Apakah ayah rela aku pergi jauh dari ayah?


Apakah ayah akan mengingatku jika aku tak berada di depan matanya?


Hiks


Isakan pelan yang tertahan ku tekan, nyatanya sejelas itu aku akan pergi tak ada kekhawatiran yang ku lihat dari ayah.


Aku tak tahu apa yang ayah pikiran, apa yang ayah rasakan tapi, tak bisa kah memberi sedikit pepatah atau sedikit kata untuk menenangkan hati yang sedang gelisah karena sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain.


Tak bisa kah ayah bersuka cita atas hari yang bahagia?


Seharusnya keluarga setiap mempelai entah itu mempelai wanita ataupun pria akan penuh dengan tawa dan suka cita yang bahagia?


Anak gadis nya, bahkan putri pertamanya akan melepas masa lajang nya, di pinang seorang lelaki yang senantiasa menggantikan sang ayah.


Sebegitu burukkah aku sehingga aku tak tak di hiraukan, bahkan tak ada persiapan apapun menjelang acara.


Acara yang begitu berharga dan hanya sekali seumur hidupku, harus aku lalui dengan derai air mata. Keacuhan keluarga yang tak menghiraukan acara penting itu.


Semuanya seakan tak akan terjadi apa apa, seakan esok lusa dan hari H pernikahan ku tak begitu penting untuk sekedar di rayakan.

__ADS_1


Ibu, putrimu akan menikah hiks.


__ADS_2