
Bab 28
Setelah seharian ini aku menghabiskan waktuku di rumah Tia, kini aku harus kembali menghadapi realita bahwa aku tinggal di dalam rumah yang tak sehangat rumah Tia.
Aku tengah berjalan menuju gang rumah, jam sudah menunjukkan pukul 18.45 jam tujuh malam kurang lima belas menit.
Tadi aku di antar Tia setelah ikut makan malam bersama di rumah Tia, sungguh suasana rumah yang hangat yang sangat aku dambakan.
Penuh tawa dan canda, semua orang ceria tak ada wajah wajah tertekan ataupun seseorang yang tersisihkan.
Semua hadir bersama berkumpul di depan makanan yang tersedia, semua orang bebas mengambil apapun yang ingin dimakan.
Tok
Tok
Tok
Dan setelah aku berpisah dengan Tia di depan gang, aku kembali merasa hampa. Karena aku akan kembali ke dalam rumah yang di mana, kehadiranku pun tak di inginkan.
Cetrek
Kunci terbuka, aku membuka pintu. Kulihat ayah yang membuka pintu, sedikit melambat kan langkah nya dan menatap ku dengan tatapan yang entah lah aku tak bisa memperkirakan pikiran seseorang dari tatapan nya.
Tak lama setelah itu ayah pergi kembali duduk di tempat, menonton tv.
Aku kembali ke kamar dan dengan biasa aku memakai earphone di telingaku, memutar lagu kesukaan ku lalu berbalas pesan dengan Gilang.
Gilang pun tau jika aku akan ke rumah Tia, bahkan Gilang menawarkan tumpangan agar aku tak perlu jalan atau menggunakan ongkos untuk pergi ke rumah Tia.
Namun tentu saja aku menolak nya, aku masih malu malu dengan Gilang. Dan perlakuan Gilang itu sudah sangat membuat ku senang, kami seperti orang pacaran.
Tapi kami tak pacaran, bahkan kami hanya menjalani hubungan yang setiap harinya semakin menghangat saja.
__ADS_1
Hingga tiga hari yang lalu Gilang mengutarakan niatnya untuk menikahiku.
(April, aku udah meng-istihoroh hubungan kita. Tapi aku belum yakin karena semuanya masih belum terlihat dengan jelas)
Ketika kami sedang membahas tentang makanan dan jalan jalan, Gilang membahas hubungan kami.
Ternyata Gilang seserius itu, bahkan dirinya sudah melakukan apa yang aku saran kan. Atau, mungkin aku yang sudah menyuruhnya?
(Oh gitu, terus gimana? Memangnya belum jelas gimana?)
(Ya belum jelas aja masih rabun ngeblur gitu lho)
(Ohh gitu, ya udah pelan pelan aja)
(Iya, kamu yang sabar yah)
(Iya Gilang, aku sabar ko. Aku akan nunggu kamu)
Hanya begitu saja sudah membuat ku terbang, perhatian dan sikap manis nya sangat memabukkan.
Tak jarang aku dan Gilang bertemu di akhir pekan, Gilang akan membawa ku pergi bermain. Tak jauh dan sederhana saja, aku dan Gilang hanya pergi ke taman.
Dimana banyak orang bersantai di akhir pekan, menghilangkan rasa lelah selama bekerja satu pekan penuh.
Atau juga ke tempat teman nya, oh bukan hanya teman tapi juga bisa di bilang saudara nya Gilang.
Aku benar benar bersyukur bisa bertemu dengannya. Dengan segala keseriusan nya, keinginannya yang ingin membawa ku pergi dari rumah yang bukan rumah untukku ini juga membuat ku semakin jatuh pada lubang cintanya.
Belum apa apa pun aku sudah terjebak, bagaimana jika sudah menjadi istrinya mungkin aku sudah tak akan bisa keluar dari lubang cinta ini selamanya.
Malam ini pun sama dengan malam malam sebelum nya. Aku berbalas pesan dengan Gilang hingga larut, jam 23.05 kami baru bersiap akan tidur.
Setelah ucapan ucapan selamat malam kami mengakhiri percakapan kami.
__ADS_1
Namun entah mengapa telingaku mendengar ayah dan dia sedang bicara di luar kamar yang artinya ayah dan dia sedang berada di ruang tengah.
Bukan bermaksud menguping namun aku penasaran, karena lagi lagi namaku di sebut dalam acara bicara rahasia nya.
Iya, aku menyebut pembicaraan malam mereka sebagai pembicaraan rahasia, karena lihat saja selain hanya berdua dan sedikit berbisik, ayah dan dia memang selalu seperti itu jika ada yang di bicarakan dan tidak ingin di ketahui oleh Henda ataupun oleh ku.
Yang jujur saja aku tetap tau, karena jika mereka melakukan pembicaraan rahasia mereka tengah malam begini aku selalu terbangun dan alhasil terdengar, sekalipun aku sedang tertidur aku akan terbangun karena entah lah selalu seperti itu.
Seperti ada yang sengaja membuatku bangun, atau mungkin membangunkan ku?
"Lihat ayah, anak mu akhir akhir ini sangat senang. Mungkin karena merasa ada yang membela, padahal laki laki yang dia bawa waktu itu kelihatan sekali tak benar sama dengan anak tetangga itu"
"Ya nggak tau ayah juga mah, cuma kelihatan nya memang sedikit seperti itu. Penampilannya saja tak terlalu rapih"
"Iya kan? Ahh, kalo tuh anak tetangga jadi sama lelaki kemarin itu. Bisa di pastikan mereka akan sama sama buruk, sama sama tak benar bagaimana saja si anak tetangga bersikap, selain tak punya sopan santun sama orang tua juga dia itu benar benar pembawa masalah"
Astaga!
Ternyata benar bukan? Telinga ku ini selalu saja ingin tahu, tapi dengan telinga dan naluri yang tajam ini aku bisa tau semua yang seharusnya aku tak tau di rumah ini.
Yang menurut mereka aku tak boleh tau, tetapi aku tetap mengetahuinya tanpa sepengetahuan mereka.
Haduh bagaimana sih bilang nya, pokoknya begitu. Dan apanya yang tidak benar, jelas jelas Gilang ke rumah agar mereka sebagai orang tua ku tau jika anak gadis mereka itu sedang dekat dengan nya.
Dan menyampaikan jangan terlalu khawatir jika anak nya tidak di rumah jika siang hari di hari weekend karena ketidak adaan nya aku adalah pergi jalan jalan bersama nya.
Apa menjelaskan maksud dan tujuan
seperti itu salah? Bahkan dengan terang terangan jika Gilang menyampaikan serius dengan diriku, dan kami aku dan Gilang sedang berusaha mengumpulkan dana agar kami bisa segera menghalalkan hubungan kami ini.
Aku memang sudah pernah membawa Gilang ke rumah, tepat sehari setelah Gilang melamar ku waktu itu.
Bukan nya senang malah berburuk sangka, aku sudah tak mengerti lagi jalan pikirnya dia.
__ADS_1
Kenapa orang yang akan tiba tiba melamar waktu itu malah di setujui begitu saja, sedangkan aku saja tak tau orang nya yang mana. Dan sudha jelas jelas aku membawa orang yang aku cinta dan mencintaiku ke hadapannya malah di komentari seperti itu.
Sudah lah, aku sudah tau garis besarnya. Untuk sekarang biarkan, aku akan tidur banyak yang harus aku kerjakan besok.