Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
Aku Dan Diriku 32


__ADS_3

Aku dan Gilang berakhir di rumah sandi, bahkan semakin ramai karena teman teman Gilang yang lain ternyata ikut berkumpul di rumah sandi.


Aku bersyukur ternyata Gilang sedikit di segani atau sedikit di takuti mungkin? Karena selain karena Gilang tertua di antara yang lain Gilang juga tegas dalam berteman.


Aku bisa melihat dan mendengar nya meski sedikit yang aku mengerti namun teman teman Gilang tak ada yang berani menyingung ataupun menanyakan siapa diriku.


Sudah pasti semua akan tahu jika aku adalah pasangan Gilang, selain aku duduk tepat disisi Gilang juga aku yang memainkan ponsel Gilang dengan kepala menunduk dan sebelah tangan kiri ku yang terus memegangi sisi kaus baju Gilang.


Aku memang penakut, apalagi di kelilingi orang asing seperti sekarang. Yang aku kenal hanyalah Gilang, dan yang paling menakutkan adalah semua orang yang sedang bercengkrama disini adalah lelaki semua.


Bibi hanya sesekali muncul dan kembali masuk membiarkan para anak muda membahas masa masa nya.


Tak ada yang menatap mengintimidasi, tak ada yang menatap horor, tak ada yang menatap risih apalagi menatap benci.


Semua lelaki yang ada di hadapan ku ini seperti menatap hormat, atau mungkin juga menatap penasaran.


Meski begitu tak ada yang bertanya dengan pertanyaan langsung, yang ada mungkin hanya kerlingan mata.


Karena aku beberapa kali mendengar Gilang menjawab "kabogoh" yang berarti pacar atau juga bilang jika aku ini calon istrinya.


Aku tak menjawab ataupun melihat siapa yang mana orang itu, karena aku terus menunduk. Biarlah Gilang menghabiskan waktunya dengan teman teman nya.


Aku hanya akan menemani nya disini hingga waktu aku dan Gilang pulang nanti.


Aku melihat jam di ponsel, sudah pukul dua siang.. entah jam berapa aku dan Gilang kembali ke kota, aku hanya akan mengikuti saja.


Toh aku ingin lebih lama bersama dengan Gilang, aku lebih ingin menghabiskan waktu yang banyak bersamanya.


Meski kami sedang proses, tapi prosesnya itu yang memakan banyak waktu. Dan entah kapan akan selesai.


Jam tiga sore aku kembali ke rumah dingin dan gelap itu, tepat aku dan Gilang sampai hujan turun. Padahal matahari masih bersinar meski tak secerah tadi, tapi kini hujan dominan.


Tak mungkin jika aku dan Gilang pulang dengan hujan yang sedikit deras seperti ini. Aku dan Gilang duduk di kursi dekat jendela tadi, sedangkan di ujung lain dari kursi ada ayahnya Gilang sedang merokok dengan pandangan lurus dan tajam.


Aku masih takut, tapi dengan adanya Gilang di sisiku sedikit meredakan rasa takut ku.


"Hujan pril, gimana dong"


Aku hanya menggeleng lemah, aku ingin pulang meski harus kembali ke rumah itu. Karena aku sungguh tak nyaman dengan situasi seperti ini.


Aku kembali memandangi hujan di luar, bisa ku lihat dari sisi mataku jika Gilang terus saja melihat menatap ku. Ku alihkan pandangan ku ke arahnya.


Aku mengangkat alisku bertanya ada apa?


"Kalo nggak reda, nginep semalam nggak apa apa?"

__ADS_1


Tak langsung menjawab aku kembali memandangi hujan, aku bingung meski aku tau tak ada pilihan lain.


"Iya nggak apa apa"


Kulihat wajah Gilang sedikit meluruh mungkin Gilang lega dengan jawaban ku, lagipula hari sudah semakin sore, jika di paksakan selain hujan juga aku dan Gilang akan sampai malam di Bandung nanti.


Pukul lima semua orang di rumah ini makan sore.. atau makan malam? Intinya semua orang makan, aku dan Gilang pun turut makan bersama.


Karena malu, aku di ambil kan oleh Gilang, hanya sedikit saja aku benar benar tak tahan malu.


Aku tak bicara apapun, aku tak mengapa, aku tak membantu apapun tapi aku bisa makan. Hal itu membuat ku canggung, pasalnya kebiasaan ku adalah sudah kerja baru makan.


Disini aku memang sebagai tamu dan ini sangat wajar, tapi entah mengapa rasa rasanya tak berbeda dari suasana rumah ku.


Bahkan lebih dingin lagi, karena dua anak kecil yang hadirpun tak menampakkan suasana yang ramai.


Setelah selesai aku masih diam di tempat setelah tadi ikut dengan Gilang ke belakang untuk cuci tangan.


Malam menjelang aku kembali di tanya oleh ayahnya Gilang, namun aku hanya bisa mendongak dan bingung harus menjawab apa.


Dengan bantuan Gilang aku bisa menjawab pertanyaan ayahnya itu, katanya apa tidak di cari anak gadis tidak pulang. Atau memang sudah biasa pergi keluar rumah tanpa pulang. Dan aku menjawab sudah ijin padahal ponsel ku pun mati habis baterai.


Sudahlah tak usah di pusing kan lagian tak akan berguna juga jika aku ijin. Meski setidaknya aku harus bilang.


Pukul 10 mataku mulai kantuk bahkan sangat kantuk karena sedari tadi ku tahan, Gilang melihat ku begitu meminta bantal dan aku tidur di kursi panjang ini dengan Gilang berada di dekat kaki ku.


Namun Gilang benar benar tak beranjak, Gilang masih di tempat yang sama dengan rokok dan ponsel, dengan sesekali melirik ku.


Aku tenang meski tidur ku tak bisa nyenyak, semua orang di rumah ini sudah masuk kedalam kamar nya masing masing.


Rumah ini memang luas namun hanya memiliki dua kamar tidur satu kamar mandi dan ruang dapur yang sangat amat gelap.


Disini tinggal aku dan Gilang, meski begitu Gilang tak berani macam macam padaku. Gilang hanya sesekali melirik ku, aku terbangun.


"Kenapa a nggak tidur?"


"Belum, kenapa kebangun. Nggak enak yah tidur nya?"


"Nggak bukan apa apa"


Disini dingin sangat dingin mungkin karena daerah yang dekat pegunungan atau memang ini di pegunungan?


Ah sudah lah jam sudah menunjukan pukul satu dini hari. Aku melanjutkan tidur ku, begitu pun ku lihat Gilang di dekat kaki ku membaringkan tubuhnya. Dengan kaki di satukan dengan kakak ku, aku tersenyum. Dan kami tertidur.


Mata ku terbuka ketika mendengar suara adzan, begitu dekat rasanya. Mungkin memang dekat dengan masjid sepertinya.

__ADS_1


Biasanya di rumah ku, jam segini sudah ramai dan sibuk dengan aktivitas. Namun disini sepertinya orang orang beraktifitas di siang hari, tidak di awali dengan hari yang masih subuh seperti ini.


Jelas saja mungkin sekalipun orang asli sini, orang orang akan beraktifitas setelah matahari terbit, karena sungguh dingin lebih menusuk lebih dari semalam.


Aku beranjak, aku ingin membasuh muka namun aku tak berani. Lalu aku mengambil ponsel ku yang di cas semalam oleh Gilang.


Lalu keluar, jam setengah enam sudah ada cahaya. Dengan ponsel aku di luar mendengar musik sekecil mungkin.


Benar benar dingin, karena disini masih banyak pepohonan apalagi di depan rumah terdapat kebun teh yang di benteng.


Ku lihat embun di sekitar rumah masih terlihat jelas karena pemandangan mengabur bahkan nyaris tak terlihat.


Aku suka dengan udara disini yang tenang dan asri, namun keadaan rumahnya yang aku tidak suka.


Tentu saja karena banyak tekanan yang tak terkatakan. Yang ada aku merasa lebih nyaman di rumah sandi, meski banyak lelaki atau bibi ibunya sama itu tak bicara apapun, namun sikap nya yang hangat tak membuatku ketakutan.


Selain itu rumah nya cerah terang, dan hangat. Bukan hangat udaranya, karena udaranya sama sama dingin. Tapi hangat karena orang orang nya.


Sedangkan disini sudah lah gelap, sedikit kotor seperti tak di urus padahal ada anak muda, sepasang suami istri itu pastinya yang bertugas membersihkan rumah bukan?


Entah lah mungkin aku terbiasa bersih, meski di kamarku tak sebersih di rumah ibunya sandi, tapi kamarku nyaman karena aku tak sejorok ini.


Aku segera masuk, hari sudah mulai siang dan aku takut jika ada orang yang sudah mulai bangun lalu duduk di tempat dudukku, aku harus duduk dimana jika tidak dengan Gilang aku tak mau.


Jam sepuluh pagi Gilang masih saja belum bangun, aku cemas cemas berusaha membangunkan nya. Bukan apa apa semua orang disini sudah membuka matanya, dan aku tak nyaman.


Memang tak ada yang bicara padaku, namun sorot mata yang tajam dari ayahnya Gilang benar benar membuat ku takut, apalagi perempuan dengan pakaian lusuh kemarin itu tak bicara sedikitpun padaku, sekedar basa basi pun tidak dan aku semakin canggung.


Padahal yang aku ketahui dari hilang semalam, yang lelaki itu adalah kakak nya Gilang dan perempuan itu istrinya. Yang berati perempuan itu kakak iparnya Gilang, namun perangainya benar benar tak membuat nyaman.


Jam sebelas akhirnya Gilang bangun, di meja depan kami sudah ada makanan sejak pagi orang orang disini sudah menyediakan makanan dan mereka baru akan makan.


Entah karena menunggu Gilang bangun agar ikut makan, atau karena Gilang yang tidur di kursi menghalangi yang lain aku tak tau.


Karena jujur aku masih saja terus menunduk. Aku takut, bahkan ketika Gilang beranjak akan ke kamar mandi pun aku ikut.


Aku tak ingin di tinggal meski hanya sebentar, waktu yang sebentar itu akan lama jika berada di posisi yang sangat canggung dan menyeramkan seperti ini.


Ah kurang ajar sekali aku ini, bahkan aku sedang mengunjungi calon mertua tapi pikiranku buruk, tapi sungguh seseram itu kondisi disini saat ini.


Aku dan Gilang kembali dan ikut makan. Namun hanya Gilang yang makan aku tidak, aku tak mau aku malu. Jadi aksi diam saja, meski aku tau Gilang marah.


Gilang akan marah jika soal aku yang tidak makan, karena jujur saja aku sedikit susah makan apa lagi dengan adanya penyakit lambung uang ku derita.


Itu sangat membuat Gilang jengkel ketika melihat aku tidak mau makan.

__ADS_1


Biarlah toh nanti di jalan aku bisa jajan cilok, aku ingin cilok seperti pagi kemarin.


jangan lupa like dan komentar nya teman, aku bakal seneng banget kalo kalian komen.😁


__ADS_2