Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
Aku Dan Diriku 36


__ADS_3

Seharusnya hari ini hari pernikahan ku, namun semua tak sesuai dengan ekspektasi ku. Hari ini aku lalui tanpa ada yang berkesan, seperti hari hari biasa nya saja.


Meski begitu aku dan Gilang tak menyerah, sekali lagi kami akan mencoba untuk mengajukan pernikahan kami ke KUA.


Gilang pun sudah memberi tahu orang tua nya di kampung jika pernikahan nya hari ini gagal. Dengan uang yang seadanya gilang di bantu ibu bos di tempat kerja nya untuk mengatur uang itu.


Bukan apa apa, selain aku seperti anak yang terbuang dan begitupun gilang bos dari gilang itu ingin kami hidup berdua tanpa ada yang di rugikan.


Setidaknya kami bisa mengontrak satu kamar hanya untuk kami berdua, karena aku pun sudah cerita jika setelah menikah nanti aku tak di ijin kan untuk tinggal di rumah itu lagi.


Lagi pula aku tak mau, begitupun gilang. Akan semakin banyak drama yang terjadi jika aku tinggal disana.


Untungnya gilang setuju, dan kami menyerahkan keuangan untuk pernikahan kami ke bos nya gilang.


Jujur bos nya baik sekali, sangat baik. Mata ku jadi perlahan terbuka tentang dunia luar, ternyata dunia luar tak seburuk yang di ceritakan dia.


Masih banyak orang orang baik, dan itu menjadi inspirasi untuk kehidupan ku di masa yang akan datang.


Tak pandang bulu dan berteman dengan siapa saja sangat lah seru, karena aku merasakan itu.


Jika aku main ke tempat kerja nya gilang, ibu ibu yang suka ngumpul disana akan menyambutku. Bukan penyambutan, hanya saja mereka welcome sama orang baru dan itu membuatku nyaman.


Aku akan berhenti bekerja jika sudah menikah dengan gilang, dan aku akan ikut bergabung dengan gilang di tempat kerjanya.


Dengan begitu aku dan gilang takkan terpisahkan hehe.


Seperti hari ini, aku tidak bekerja dan aku pergi ke tempat gilang kerja. Tak jauh dari rumah ku jadi cukup dengan berjalan kaki saja aku sudah sampai di tempat nya gilang bekerja.


Kami akan mengkonsultasikan permasalahan kami dengan bos nya gilang.


Karena mungkin gilang sudah di anggap sebagai anaknya? Aku tak tahu jelasnya, yang pasti perhatian nya sebagai seorang ibu benar benar tercermin kan.


Aku lihat gilang sedang bekerja, aku hanya duduk di bangku kosong sebelahnya setelah menyapa ibu ibu yang lain.


Yah, gilang di kelilingi ibu ibu atau mungkin nenek nenek hehe.


"Kata bapak nanti di cariin lagi tanggal yang pas buat kita nikah, sementara itu uang yang bapak kirim kemarin kan cuma dua juta katanya harus di kembaliin dulu biar bisa nambah lagi nanti buat pernikahan kita"


Baru saja duduk beberapa menit Gilang langsung menyampaikan info terbaru dari orang tua nya.

__ADS_1


Gilang memang seperti itu, selalu melapor apapun yang terjadi padahal aku tak memintanya. Biarlah toh perlakuannya juga membuat ku bahagia.


Karena dengan begitu aku merasa benar benar di hargai dan ada untuk gilang.


"Iya nggap apa apa toh belum kepake juga kan uang nya, acaranya juga di undur nggak tau kapan"


Dengan tersenyum aku menjawab penyataan gilang, karena itu akan membuat gilang tenang jika melihat aku tersenyum.


"Iya, maaf yah jadi berantakan gini. Mana pernikahan kita nggak akan semeriah orang lain, maharpun nggak tau gimana"


Aku melihat kesedihan di mata gilang ketika berucap seperti itu, jujur saja aku tak terlalu megharapkan pernikahan yang wah atau berpesta seperti pengantin pada umum nya.


Aku hanya ingin pernikahan ku di akui negara dan agama, itu sudaha cukup untukku. Lagipula apa yang aku harapkan dengan keadaan seperti ini.


Dengan gilang yang mau membiayai segalanya sendiri pun aku sudah bersyukur, dan orang tua ku merasa terugikan jika aku menikah dengan jarak dekat nantinya.


Apa lagi jika bukan karena uang? Dia bilang nggak punya uang untuk menikahkan aku, padahal aku tak meminta yang mewah berpesta.


Tapi tetap saja dia dan ayah murka, bilang jika aku anak tak tahu diri tak tahu di untung, dan ingin memeras orang tua dengan kukuh ingin menikah tahun ini.


Padahal mereka sendiri yang ingin aku segera menikah karena hubungan ku dan gilang sudah lebih dari satu tahun. Yang jika di pikir lagi, setengah tahun pun berjalan dengan segala rencana pernikahan, bukan satu tahun hubungan hanya pacaran.


Toh semua di tanggung gilang, bahkan aku tak mengeluarkan uang sepeserpun di pernikahan ku nanti.


Aku sangat nersyukur, entah seperti apa nasibku jika tidak bergemu dengan pria seperti gilang.


Selain siap menikahi, juga sangat bertanggung jawab. Berani mengambil resiko sekalipjn hanya demi diriku.


Menjelang sore aku pulang di antar gilang, tak sampai rumah hanya depan gang gilang mengantar ku. Katanya malas jika harus bertatap muka dengan dia.


Saat sampai aku langsung pergi menimba air, air di wadah ku sudsh habis lebih tepatnya tinggal yang kuning kuning nya, kotor dan juga bau.


Setelah membilas wadah aku pergi ke sumur, menimba dan mengisi wadah ku hingga penuh. Jadi besok aku sedikit santai tak perlu repot menimba nimba.


Orang rumah masih dengan murka nya, entah murka karena apa yang jelas semua keinginannya sudah terpenuhi, aku tak tahu apa lagi salah ku. Jadi aku hanya diam dan munutup telinga ini dengan mendengarkan musik.


...


Minggu ini anak dari bos nya gilang menikah, mungkin rasanya akan sangat menyenangkan yah, menjadi seorang putri sehari di hari yang spesial sekali seumur hidup.

__ADS_1


Gilang tentu saja sibuk membantu bos nya, sedangkan aku hanya rebahan di dalam kamar hari ini.


Belum ada jawaban dari orang tuanya gilang tentang hari pernikahan ku dan gilang, mungkin sedikit sulit mencari hari yang pas.


Ada sekitar dua kali ayah nya gilang menelpon ku, menanyakan keberadaan orang tua ku karena ayahnya gilang beberapa mengirim pesan WhatsApp namun tak lagi di balas, selalu seperti itu.


Hingga penentuan hari pernikahan ku tiba.


Kata gilang ayah nya sudah menentukan, sekali lagi ayahnya menelpon ke ponsel ku memberikan nya ke orang tua ku agar para orang tua itu mengobrol dengan jelas.


"Iyah jadi begitu, gimana setuju nggak?"


"Aduh pa, gimana bapak aja saya ngikut aja toh saya nggak ngerti kalo perhitungan bulan kayak gitu"


"Iya paling tanggal segitu, sudah bagus di bulan bagus yah. Terus gimana soal maharnya? Mau berapa?"


Ketika ayah gilang menanyakan itu, mata dia beralih padaku. Sedikit tersenyum aku menanggapi tapi,


"Jawab ini mau berapa katanya di tanya juga"


Meski sedikit halus namun tetap saja nada bicaranya sedikit kesal.


"Berapa aja, nggak ngerti soalnya"


Jawabku seadanya, memang benar aku tak tahu apa apa. Segala nya pertama kali untuk ku, tak ada tempat yang bisa aku jadikan tempat bertanya.


"Berapa aja katanya pak, yang penting gilang nya tanggung jawab, sayang sama istri, udah gitu aja"


"Iya iya. Kalo lima puluh ribu nggak papa?"


Aku hanya mengedikkan bahu ku tanda tak tahu, tak ingin memperkeruh keadaan. Aku akan terima berapapun maharnya karena meringankan nya adalah hal yang sangat membantu untuk lelakinya.


"Hahaha bercanda, ya sudah begitu saja yah. Assalamualaikum"


"Ya pa waalaikumusalam"


Telpon di tutup dia mengembalikan ponsel ku kembali, dengan menunduk aku menunggu perintah. Tapi dia hanya diam dengan tatapan meremehkan, akhirnya aku beranjak dan pergi ke kamar.


Sebenarnya disana ada ayah, ayah hanya diam dengan sesekali menjawab. Aku apa lagi, biarlah yang penting hari pernikahan ku sudah pasti dan jelas.

__ADS_1


Satu bulan lagi, tak sabar rasanya aku ingin segera memulai kehidupan dengan gilang.


__ADS_2