Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
Aku Dan Diriku Bab 21


__ADS_3

Aku Dan Diriku Bab 21


Setelah pertemuan ku dengan Gilang kemarin malam, entah mengapa aku sangat senang sampai ini. Semua terasa berbeda, aku merasa lebih semangat menjalani hari ku, tidak lagi dengan kesedihan. Yang aku rasa pertama kali saat aku bangun dari tidur ku.


Rasa ini, aku baru pertama kali merasakan sekua ini. Dia orang pertama yang bisa mengembalikan senyum ku, dan menghilangkan segala rasa sakit ku. Aku sangat tenang jika sedang bersama dengan nya.


Apakah ini cinta? Apakah dia akan menjadi cinta pertama ku? Jika yang dugaan ku benar maka aku harap dia tak akan pernah mengecewakan ku. Dan aku harap dia juga merasakan apa yang aku rasakan.


...


Aku baru saja, sampai di depan pintu rumah. Sepanjang jalan aku memikirkan gilang, entah apa yang terjadi padaku akhir akhir ini.


Sekarang aku akan mandi terlebih dahulu lalu kakan dan tidur. Sebelum itu aku akan mengecek air ku di belakang, kali ini aku tak berbelok belok, setelah dari toko aku langsung pulang.


Hari ini karena aku pulang cepat aku bisa mengambil air di tempat umum biasa, karena bos sedang ada keperluan katanya jadi aku dan teman ku di pulang kan cepat dan toko sudah tutup.


Pukul setengah enam, ayah baru saja pulang tak lama setelah aku sampai rumah. Aku yakin ayah dan dia bertanya tanya mengapa aku sudah pulang, padahal hari masih sore dan itu terlihat jelas dari cara mereka menatapku. Meski pun begitu aku takkan terlalu menghiraukan mereka, aku akan fokus mengambil air.


Petama aku ke kamar mandi, mengambil wadah kecil ku di sana. Karena wadah di dalam kamar mandi kecil aku hanya bisa menampung air di dalam sedikit dan pastinya akan cepat habis.


Aku keluar, tepatnya aku kebelakang rumah menyaring air dari wadah besar ke wadah kecil, karena sebelum aku isi ulang aku akan mencuci dan menyaring nya terlebih dahulu.


Aku menuangkan air dari wadah besar ke wadah kecil, meski begitu berat aku tetap mengangkatnya, karena agar aku mendapatkan air yang bersih. Karena air sumur yang aku pakai sedikit kuning.


"Saring pake saringan dong, biar nggak berat! Nggak ada kemauan banget"


Ayah melihat ku mengangkat menuangkan air dari wadah besar ke wadah kecil, ayah bicara seperti itu sembari matayang tertuju pada kain kain untuk tempat burung peliharaan nya. Aku dan ayah sedang berada di luar bersama mengerjakan pekerjaan masing masing.


"Iya ayah gini aja"


Ujarku sembari tersenyum kaku lalu kembali fokus pada air ku, aku takut.


"Ck!"


Ayah hanya melirik ku lalu melanjutkan kembali pekerjaan nya. Aku pun harus bergegas karena sebentar lagi hampir Maghrib dan air pasti akan penuh di isi ayah yang akan bebersih kemudian yang lain.


Setelah menyimpan air yang sudah aku saring aku kembali ke dalam kamar untuk mengambil handuk, dan aku melihat dia yang tadinya sedsng berada di dapur kini sudah ada di belakang bersama dengan ayah.

__ADS_1


"Apa yah? Dia bicara apa?"


"Nggak, itu air kata ayah bukannya di saring pake saringan gitu, nggak ada kemauan banget tuh anak"


"Ihh ayah ini, sudah tahu anak nya begitu masih saja di perdulikan! Meski ayah bilang berapa kali pun tak akan dia dengar ayah!"


"Iya, anak itu tuh!"


"Kayak nggak tau sifat nya aja ayah ini!


Aku mendengar semuanya dengan jelas, karena kamar ku dekat dengan pintu belakang. Padahal menurutku itu hanya percakapan yang tak penting, bahkan biasa saja tak terkesan istimewa atau pun khusus. Toh aku menjawab dengan sekenanya saja.


Bukan aku tak ingin bicara dengan ayah, taapi karena sikap ayah yang sekarang sudah berubah, aku jadi canggung dan kurang nyaman aja. Cara bicara yang dingin dan ketus, bukan seperti ayah yang aku kenal. Yang selalu bersikap lemah lembut pada setiap anak anak entah remaja atau anak anak kecil apa lagi termasuk padaku. Tapi sekarang sudah berbeda.


Selain akan mengundang amarah nya dia pada ayah dan aku sendiri, dia akan mendatangi ayah seperti tadi dan terus menatap benci padaku.


Aku kembali menyimpan handukku, ku uringkan niat ku untuk mandi dan mengambil air di sumur. Aku memilih untuk tidur dengan handphone di telinga. Aku tak ingin mendengar apapun lagi.


Tes


Tes


Kepala ku kembali terasa sakit, otak ku kembali mengingat semua perlakuan dia padaku. Bukan hanya sekarang taoi sejak dulu, sekua kejadian kejadian tak di inginkan itu seperti di putar ulang kembali, membuatku semakin merasa sakit dan dada yang begitu sesak nya.


"Ayah, ibu!"


Hatiku menjerit memanggil ibu, memohon dan berharap agar ibu datang menjemput ku dan membawaku. Agar aku bisa segera bebas dari segala rasa sakit ini.


Selemah ini aku, mengapa aku harus berfikir untuk tak menyakiti perasaan orang lain, sedang orang lain pun tak pernah memikirkan perasaan oranh orang di sekitar nya.


Ting


Ting


Aku tersadar, aku mencoba untuk melupakan rasa sakit yang ada. Dua pesan masuk, aku terus menenangkan hati dan pikiran ku sebelum aku membuka hp dan melihat notif pesan.


Gilang

__ADS_1


Bibirku terangkat ke atas dengan sendirinya melihat nama Gilang, aku langsung membuka chat nya.


("Sore, april lagi apa?")


("Aku ganggu nggak?")


Lagi lagi bibirku tersenyum, perasaan ku mulai membaik, tak sesakit tadi. Aku berusaha untuk tetap kuat dan ceria.


("Sore juga, nggak ko nggak ganggu. Soalnya lagi santai juga")


Aku membalas pesan nya hanya dengan satu kalimat saja, namun tetap menjawab dua pertanyaan nya.


Ting


Ting


("Oh gitu, syukur lah")


("Memang nya April nggak kerja?")


("Nggak, di pulangkan cepat soalnya lagi ada keperluan kata bosa nya")


Aku dan gilang terus bertukar pesan hingga malam. Kami bertukar cerita, pengalaman, dan masih banyak lagi. Hingga jam menunjukkan pukul 22.35 setengah sebelas malam.


("Udah dulu nggak apa apa? Udah malam nih, aku udah ngantuk juga")


Aku mencoba mengakhiri berbalas pesan kami dengan hati hati, bukan apa apa selain aku ngantuk besok juga masih banyak kegiatan. Bukankah Gilang juga sama.


("Eh iya, astaghfirullah nggak berasa maaf ya keasikan soalnya")


("Ya udah selamat malam cantik😊")


Deg


Deg


Apa ini? Dia barusan ngegombal? Astaga jantung tolong, kenapa disko gini. Aku tak lagi membalas pesan terakhir nya, jantungku berasa tak karuan. Maksudnya apaan?

__ADS_1


Meski penuh dengan tanda tanya, nyatanya aku merasa sangat senang. Hingga aku tak henti hentinya tersenyum sendiri sembari berguling guling di kasur dengan girangnya.


Perasaan ini, seungguh luar biasa!


__ADS_2