
Kebahagiaan ku rusak di pagi hari setelah semalam hari pernikahan ku di tentukan.
Dia tak setuju jika tanggal 18 bulan ini pernikahan di laksanakan, karena sebagai ketua RT pastinya dirinya dan ayah akan sangat sibuk menyiapkan keperluan untuk acara 17 agustusan nanti.
Sebelum aku berangkat bekerja, ayah menyampaikan nya dengan dia yang sudah melipat alis berkali kali lipat hingga begitu berkerut.
Marah dan setuju hanya karena tanggal nya bentrok dengan acara 17 agustusan, yang ku tahu tahun kemarin pun tak terlalu heboh. Hanya membuat bendera, aku bisa membantu dari sekarang jika mau.
Namun tetap saja keputusan nya tak bisa di ubah, membuat aku bingung dan melamun sepanjang hari.
Pekerjaan ku pun tak karuan, beberapa kali aku di tegur karena tak fokus. Tentu saja karena pikiran ku menuju pada nasib pernikahan ku yang tak seheboh yang lain.
Aku sudah memberitahu kepada Gilang tentang penolakan orang tua ku, tentu saja Gilang frustasi.
Bukan nya apa, sejak awal mereka yang meminta agar kami secepatnya menikah, setelah di tetap kan mereka malah menolak dengan alasan bentrok dengan acara 17 agustusan.
Siapa yang tidak pusing mendengar hal itu. Lagi pula, Minggu depan Gilang sudah akan pergi ke kampung halamannya untuk mengurusi kurang kuat untuk pernikahan kami.
Waktunya sangat dekat sehingga persiapan benar benar mendadak. Aku tak perduli yang penting aku akan segera menikah dan keluar dari rumah ini. Hanya itu yang aku mau.
Namun penolakan mereka membuat semuanya kacau, aku tak tahu akan seperti apa pernikahan ku ini.
...
Gilang sudah kembali ke Bandung setelah hampir satu Minggu Gilang berada di kampung halamannya.
Dan hari ini aku dan Gilang akan pergi ke KUA untuk mendaftarkan acara pernikahan kami.
Kata bos Gilang lebih baik mendaftarkan langsung agar tak memakan biaya yang banyak. Karena keuangan untuk pernikahan kami sangat lah terbatas, bahkan belum tahu berapa.
Sekarang kami tengah berada di kantor KUA setelah berkeliling karena sempat nyasar di depan tadi.
"Iya nggak bisa waktunya terlalu mepet, kan bukan si aa aja yang mau nikah. Lagi banyak ini juga. Apalagi si aa ini waktunya tinggal tiga hari lagi"
Iya, waktu untuk ke hari pernikahan kami adalah tiga hari lagi.
Aku dan Gilang mundur mengangguk mengerti, setelah ini apa lagi? memang bisa di mengerti selain mendadak juga waktu yang sangat dekat tak akan bisa dan itu bisa di mengerti.
__ADS_1
Sepertinya ketidak setujunya ayah dan dia di dukung oleh keadaan yang memang semua serba mendadak.
Di perjalanan pulang aku benar benar sedih, tak bisa ku bendung air mata ini. Aku menangis tanpa Gilang tahu dan berusaha agar Gilang tak menyadari jika aku sedang menangis.
Di pikiran ku terus saja terngiang perlakuan orang rumah terhadap ku, dan keadaan ini membuat aku benar-benar frustasi.
Sampai kapan aku harus terus berada di rumah itu, kegagalan ini membuatku benar benar putus asa.
Seakan esok dan lusa takkan ada lagi, itu yang kurasakan sungguh aku benar benar takut jika harus berlama lama di rumah itu.
Perlakuan nya semakin menjadi, dan aku semakin tertekan. Aku takut jika harus terus kembali kerumah itu setelah ada secercah harapan di depan mata.
Hingga kami sampai aku sudah tak menangis, bisa menjadi pertanyaan panjang jika aku menangis meski Gilang tak akan bertanya karena tau sebab aku menangis.
Aku hanya tak ingin membebani pikirannya lebih dari pernikahan kami yang gagal di laksanakan tiga hari lagi.
Aku dan Gilang pulang ke tempat kerjanya Gilang, untuk membicarakan langkah apa lagi yang harus kami ambil.
Karena ke gagalan ini sungguh membuat ku dan Gilang tak bersemangat. Pasalnya segala yang mengahalangi sudah kami terobos agar bisa tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Namun mungkin memang belum jalan nya sehingga kami harus mengalami hal ini.
Aku dan gilang duduk lesehan, gilang berada tepat di samping ku dan aku menyenderkan kepalaku nyaman di bahu gilang.
Aku tak tahu harus apa lagi, ke gagalan ini membuat ku frustasi. Aku tak mau dan benar benar tak mau kembali ke rumah itu lagi.
Aku ingin segera dari sana dan memulai hidup baru bersama dengan gilang. Tapi mengapa Tuhan seakan tak mengjinkan.
Lagi, air mata ku luruh. Tanpa suara dan hanya sesak di dada yang sangat menyiksa.
Mungkin menyadari aku bergetar karena tangis, gilang menoleh ke arah ku tanpa bicara gilang membawaku kedalam dekapannya.
Aku tak menolak, karena jujur ini yang aku butuhkan. Sandaran yang membuat ku nyaman, dan tenang.
Aku ingin terus seperti ini tuhan ku mohon, aku menjerit dalam hati memohon kemudahan dalam urusan ini kepada Tuhan.
"Sabar dulu yah, mungkin belum waktunya"
__ADS_1
Masih dalam dekapan dan tangan besar gilang masih setia mengelus kepalaku sayang. Mungkin gilang mencoba mesmberi pengertian dan kesabaran untukku.
"Terus sekarang gimana lang, aku nggak mau pulang ke rumah"
Aku masih terisak dan semakin terisak, mengingat aku akan lebih lama tinggal di sana di rumah yang bukan rumah, kembali kesana dan jauh dari gilang.
Aku ingin segera menikah dengan gilang sshingga aku akan pulang ke rumah dimana tak ada Dia dan tatapan tatapan benci juga jijik ke arah ku, aku tak ingjn melihatnya lagi aku lelah.
"Ya sabar dulu, emang nggak memungkin kan bisa di ngertiin. Karena jaraknya hanya tiga hari, sedangkan aku di beri tahu oleh anak majikan yang kemarin menikah minimal satu bulan untuk mengajukan pernikahan ke KUA"
"Terus gimana sama aku, aku bener bener udah nggak mau balik ke rumah itu lagi lang"
Masih dengan isakan dan dalam pelukan gilang, aku tahu jika aku bersikap seperti ini akan memberatkan untuk pikiran gilang.
Tapi aku sudah tak bisa menahan kesedihan ini, hingga gilang mengatakan tekat yang membuat ku tercengang.
"Ya sudah bagaimana jika kita kabur saja, kita pulang ke kampung halaman ku. Dan disana kita memulai hudip baru berdua"
Jujur aku ingin sekali menyetujui itu, tapi akan banyak kemungkinan kemungkinan buruk yang terus bermunculan jika aku dan gilang melakukan itu.
Aku bingung di buat nya, aku memang ingin sesegera mungkin pergi dari rumah itu tapi aku juga tak ingin mengambil jalan yang salah.
Bukan apa apa, mental ku masih terguncang dan belum siap, bayangkan saja jika aku pergi dengan gilang ke kampung halamannya tanpa ikatan. Itu sama saja aku kabur dari masalah.
Dan gunjingan gunjingan dari orang orang akan terus berdatangan meski tak di minta. Aku tak ingin seperti itu, dan yang pasti aku tak ingin menyakiti ayah dengan aku kabur pergi begitu saja.
"Gimana hum?"
Sibuk dengan pikiran ku hingga aku tak sadar jika gilang menunggu jawaban ku.
"Aku mau, tapi apa nggak bisa di selesaikan cepat cepat dengan cara yang baik?"
"Ya gimana, kita udah sabar sabarin loh sikap orang tua kamu. Bahkan kita sampai bela belain pergi minta uang buat nikahan kita ke ayah aku, padahal aku sendiri nggak pernah minta apapun ke dia. Dan hanya untuk saat ini untuk kamu, tapi kenapa ssolah semesta tak mengizinkan?"
Aku dian menunduk semakin menunduk dan masuk ke dalam dekapan gilang. Aku tau semua nya sudah rumit sejak awal, tapi apakah tak ada jalan lain? Cara lain agar aku bisa tenang menjalani kehidupan ku di masa depan.
Kami sama sama terdiam. Mencoba menenangkan diri dengan pikiran masing masing. Apa yang semesta harapkan dari dua insan yang sama sama pernah terluka ini? Hingga cobaan terus datang beruntun kepada kami.
__ADS_1
maaf typo bertebaran ya teman teman, tandai aja typo nya 😅.. oke lah
happy reading 😄