
Gilang masih menanyakan pendapat ku untuk pergi ke kampung halaman nya saja karena gilang sudah pasrah dengan keadaan yang tak mendukung nya.
Aku tau Gilang selalu mendapatkan hal tak mengenakan sepanjang hidup yang di jalaninya hingga Gilang bertemu denganku.
Gilang selalu bercerita tentang kehidupan lama nya, entah disaat Gilang hancur atau disaat Gilang semakin hancur.
Dan itupun menjadi kan ku semakin yakin jika Gilang dan aku bisa bersatu karena kami memiliki luka yang sama.
Karena kami memiliki luka yang sama maka kami tak akan mungkin menyakiti satu sama lain.
Berbeda pendapat sedikit wajar, namun kami akan selalu saling melengkapi, berusaha saling memhami. Dan aku yakin tentang itu.
Aku menolak untuk meng-iya kan saran Gilang walau bagaimanapun kedepannya hidup ku dan Gilang tak akan tenang.
Selain menyimpang dari jalan Tuhan, juga merugikan untuk kami karena ridho orang tua dan Tuhan tak merestui.
Setelah cukup lama saling terdiam aku san gilang akhir nya bangkit, aku harus pulang karena jika tidak aku akan semakin jatuh oleh kata kata dia yang sslalu menusuk hati.
Meski aku yakin, jika aku pulang dan menyampaikan ini dia akan senang karena keinginannya di wujudkan oleh semesta.
Setelah sampai di rumah aku langsung menuju kamar. Masih dengan hati yang berantakan.
Namun sebelum kaki ini sampai di depan kamar dia memanggil ku. Tidak dengan nama, namun dengan panggilan khas nya untukku.
"Heh, gimana jadinya. Mau tetep di lanjut hah?"
Dengan tatapan penuh benci dia melihat ke arah ku, memperhatikan ku dari atas hingga bawah.
Mungkin sebentar lagi aku akan di tertawakan.
Aku mulai duduk di pinggir kamar, menghadap ke arah nya dengan kepala menunduk.
"Nggak jadi mah, dari KUA nya nggak bisa"
Sekilas aku dapat melihat tatapan remeh dan tawa sinis langsung terdengar. Namun alis yang bertaut seakan marah itu menjadi tanda tanya bagiku, mengapa seperti marah kesal dan merendahkan menjadi satu di raut wajahnya itu.
Ketika matanya melotot ke arah ku, aku langsung menundukkan kepala ku kembali jujur aku tak bisa menatapnya.
"Heh maksudnya apa? Kamu mau mempermainkan orang tua hah? Setelah kemarin kamu kukuh tak ingin memundurkan acaranya sekarang malah batal? Waras nggak sih situ?!!"
__ADS_1
Dari nada bicara nya aku tau dia marah sanhat marah, tapi kenapa marah dan bukannya senang?
Apa dia kasihan kepadaku?
"Iya gimana mah, katanya jaraknya terlalu dekat jadi nya nggak bisa. Lagian kemarin kemarin kan waktunya kebuang karena gilang ngurusin data data nya di kampung"
"Alah alasan aja, makanya kalo kata orang tua jangan ya jangan. Sekarang gini kan hasil nya!! Sekarang gimana nasib ayah kamu yang sudah mengajukan cuti untuk hari rabu nanti hah? Bisa kamu bayar karena ayah kamu nggak kerja bisa?!!"
Aku sedikit tercengang, meski begitu sekarang aku tahu mengapa dia begitu marah.
Bukan karena kasihan kepada ku namun karena dia akan rugi karena ayah tak akan mendapatkan uang di hari rabu, karena cuti untuk menikahkan aku.
Bukan hanya itu, dia juga seperti menuntut untuk aku mengganti rugi yang dia terima karena hal itu.
Sesak, sangat sesak aku hanya bisa mengucapkan maaf dan terburu kembali ke kamar.
Tak bisa di tahan air mata ku luruh saat itu juga, tapi dia tak perduli aku masih mendengar jika dia tetap menggerutu.
Sepertinya diriku memang tak berarti. Lantas selama ini apa? Seakan dia memang menganggap ku seperti anak kandungnya.
Apa seperti ini sikap seorang ibu ke pada anak nya? Ku rasa tidak. Tak mungkin bukan seorang ibu membiarkan anak nya terluka.
Selama ini aku bukan anak nya, lebih tepat nya memang tak di anggap anak nya. Apalah aku hanya seorang anak yang di tinggal pergi ibu kandung nya.
Tak ada yang benar benar ingin memberikan aku jawaban tentang segala teka teki ini.
Separah apa aku? Sebebal apa aku? Hingga kebenciannya tak pernah pudar dari dulu hingga sekarang.
Meski hari masih cerah namun aku terlelap karena lelah dengan segala yang ku jalanif
hari ini, tertidur dengan isak tangis yang sesekali masih keluar.
Sesak masih terasa badan yang sangat lelah dan lemas karena belum terisi apapun.
...
Mata ku mengerjap pelan, melihat kamar ku yang gelap perlahan aku melangkah gontai.
Tertidur dalam keadaan perut kosong otak penuh dengan pikiran dan air mata yang masih merembas membuat ku kesusahan untuk sekedar bangkit menyalakan lampu.
__ADS_1
Untungnya kamar ku ini tak terlalu besar, bahkan mungkin cukup kecil jadi hanya perlu berdiri dan maju satu langkah maka aku sudah mencapai saklar lampu.
Mata ku ssmakin perih karena lampu yang menyala membuat ku sedikit susah untuk membuka mata.
Setelah nya aku duduk termenung di pinggir ranjang kayu dengan kasur lepek ini.
Pikiran ku masih tertuju pada gagal nya pernikahan ku, aku harus bagaimana?
Aku tersadar karena mendengar suara tawa dan juga makian di luar kamar, ternyata ayah sudah pulang dan hari sudah gelap.
Kulihat ponsel untuk memeriksa jam, jam 19.15 ternyata aku tidur cukup lama. Sebaiknya aku pergi keluar untuk mencari makan, apa saja lah yang penting aku tak kelaparan seperti ini.
Baru saja aku hendak beranjak aku mendengar nama ku di bawa bawa dalam acara pembicaraan mereka.
"Tuh kan ayah, nggak akan benar anak tetangga ini! Mungkin memang ingin nya mempermalukan keluarga, mempermalukan ayah. Terus gimana nanti ayah bilang nya ke atasan coba? Sudahlah cuti ijin nya untuk menjadi wali ehh malah nggak jadi. Dasar anak gob*og"
"Iya gimana udah terlanjur bilang, nggak mungkin bisa di batalin mah. Tahu sendiri kan pabrik B*I gimana"
"Iya makanya udah mamah marahin tadi oulang pulang dia, bodo amat mau sakit hati atau terpukul juga hah salah sendiri ini"
Kupejamkan mata ini, sesak kembali menyeruak di dalam dada. Aku harus bergegas keluar, biarlah mereka melihat ku keluar ketika mereka membicarakan ku.
Karena aku yakin toh mereka tak akan perduli. Setelah melewati mata mata yang melihat ku sinis, aku menutup pintu.
Ku langkahkan ini ke jalanan, di mana disana tempat para penjual menjual berbagai makanan. Meski tak sekumplit di pasar biasa aku lewati sepulang kerja, disini cukup untukku menemukan makanan yang bisa membuatku kenyang malam ini.
Aku berjalan seolah aku baik baik saja, tak ingin banyak di tanya tanya orang karena walau bagaimanapun di daerah ini banyak yang mengenalku, hanya sekedar kenal jika aku adalah anak dari pak rt 10.
Mareka tak tahu persis apa yang terjadi di dalam rumah, dan jika itu terjadi tamat sudah aku di maki karena benar benar mencoreng nama baiknya.
Setelah membeli gorengan aku kembali pulang, tak apalah hanya ini saja karena uang ku juga sudah menipis masih lama ke hari gajian jadi harus hemat.
Kubuka pintu dan masuk kedalam, tanpa melihat mereka aku langsung menuju ke dalam kamar. Memakan gorengan yang aku beli, memakai earphone agar telinga ku tak lagi mendengar kata kata yang selalu dan semakin menusuk.
hai haii teman teman, sebentar lagi bakalan tamat deh kayak nya cerita ini. Gimana kesannya setelah membaca sampai sini?
kesal, sebal, atau malah marah? iya pasti yah soalnya tokoh utamanya sangat sangat lemah bikin greget. hehe.
tetap ikuti ceritaku ini yah, cerita baru juga baru di beberapa bab di sebelah judul nya IAN jangan lupa baca juga yah.
__ADS_1
dan yang paling penting like dan komen, sepuas kalian deh mau komen apa😁😄.
oke deh happy reading, makasih buat semua yang udah mampir😘😁