Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
aku dan diriku 29


__ADS_3

Dua Minggu ini aku dan Gilang selalu membicarakan rencana pernikahan kami, yang jujur saja sangat di luar ekspektasi.


Dana yang aku dan Gilang kumpulkan tak juga bertambah, selain kebutuhan kami masing masing yang banyak juga Gilang menyumbangkan sebagian dari tabungan nya untuk saudara yang berada di kampung halamannya.


Tentu saja saudara yang di maksud itu bukan saudara kandung dari Gilang, lebih tepatnya saudara seperti sepupu sepupu.


Karena katanya sepupunya di kampung itu akan menikah seminggu lagi dan kurang dana, sehingga hati Gilang tergerak untuk membantunya.


Karena Gilang pikir dengan dirinya membantu memudahkan urusan orang lain, urusan nya pun akan di permudah oleh yang maha kuasa. Itu yang Gilang pegang dan percaya.


Aku tak melarang tentu saja, selain tak ada hak aku melarang nya. Aku juga setuju dengan prinsip kepercayaan nya.


Yang jika kita ikhlas membantu orang lain karena Allah, maka Allah pun akan membantu kita.


Bukannya sok, atau sok alim namun aku dan Gilang memang sama sama mengerti bagaimana rasanya berada di posisi yang membutuhkan bantuan namun tak di bantu oleh siapapun.


Dan rasa itu yang mendorong kami untuk membantu orang lain meski diri sendiri sedang sedikit kesulitan.


Dengan segala liku yang kami hadapi, atau yang akan kami hadapi kedepan nya kami yakin kami bisa melewatinya.


Karena jawaban dari Tuhan sudah pasti dan sudah jelas. Tuhan menjawab keraguan aku dan juga Gilang.


Seminggu yang lalu Gilang menyampaikan padaku jika dirinya sudah yakin dan benar benar siap untuk segera menghalalkan ku.


Kehadiran diriku dalam mimpinya setelah meminta pengunjuk pada yang maha kuasa meyakinkan hatinya, menguatkan tekadnya.


Dan aku pun begitu, sebelumnya pun aku sudah mendapatkan jawaban bahkan sebelum Gilang mengutarakan perasaannya.


Karena aku selalu beroda untuk di beri yang terbaik untuk kedepannya. Dan setelah itu bayangan Gilang selalu mampir di dalam mimpiku.


Tanpa keraguan lagi kami akan terus melangkah maju. Meski kami yakin tak akan semudah itu, mengingat perlakuan orang tua ku dan respon dari orang tua Gilang.


Namun kami akan tetap bergandengan tangan bersama melewati jalanan liku ini.


Kami akan terus berusaha agar kami dapat mencapai mimpi kami, yaitu bersatu nya kami di dalam ikatan pernikahan.


Aku jadi tak sabar untuk segera di halalkan, selain aku akan bebas dari dalam penjara tak terlihat itu, aku juga akan menjadi wanita yang bahagia karena di memiliki lelaki seperti Gilang.


Tuhan, semoga kami memang berjodoh dan semoga engkau memudahkan jalan dan niat kami.


Aku selalu berdoa seperti itu setiap hari sehabis sholat. Harapan harapan yang selalu aku panjatkan kini sudah terlihat secercah harapan ku.

__ADS_1


Kehadiran Gilang memang seperti kehendak-Nya. Tuhan menghadirkan Gilang untuk ku, untuk mengangkat derajat ku. Untuk membawa ku keluar dari penderitaan selama tujuh tahun bersama orang rumah.


Kehadiran Gilang adalah sebagai mentari di hidupku, menyapu segala sisi gelap yang selalu menyelimuti ku dengan sinarnya, dengan hangat sikapnya.


...


Minggu ini Gilang berencana akan membawa ku ke kampung halamannya untuk bertemu dengan orang tuanya.


Aku bingung haruskah aku bilang kepada orang tua ku, atau aku pergi begitu saja?


Karena jujur aku tak yakin jika aku akan di ijinkan pergi. Selain aku akan pergi berdua dengan Gilang juga jarak yang akan kami tempuh memakan waktu tiga jam perjalanan lamanya.


Artinya, seharian aku akan bersama dengan Gilang. Aku tak yakin akan bisa pulang sore harinya.


Dengan keraguan ku, ku utarakan segalanya pada Gilang. Dan Gilang dengan mantap menjawab untuk ikut saja tanpa perlu bicara dengan orang tua ku.


Aku tahu ini salah namun apa yang di katakan Gilang benar, akan rumit jika aku bicara dengan orang rumah.


Maka dengan tekad ku pun aku akan pergi tanpa bicara, biarlah aku di cap anak seperti apa lagi. Toh sudah terlalu banyak cap jelek yang aku punya di mata mereka.


Aku tak akan lagi perduli, biarkan aku egois kali ini untuk bisa meraih bahagia ku. Aku tak akan perduli dengan omongan mereka tentangku.


Hari ini aku bersiap, setelah tadi sore berjumpa sebentar dengan Gilang membicarakan kepergian kami besok Gilang juga meyakinkan ku dengan pegangan tangannya yang lembut namun juga tegas.


Memisahkan baju yang akan aku pakai besok dan empat alat kecantikan ku. Sipat, lip balm, pelembab wajah dan juga bedak tabur. Karena sedikit dan ukuranya yang kecil semua bisa masuk kedalam tas.


Aku bersiap seperti ini karena besok aku akan pergi sebagaimana aku pergi ke tempat kerja biasanya.


Bukan apa apa, aku hanya Taka ingin mengundang curiga mereka. Selain besok adalah hari Sabtu dan ayah ada di rumah, otomatis akan ada tiga pasang mata yang siap memperhatikan ku.


Meski aku didiamkan dan di acuhkan, namun setiap gerak gerik ku sellau di awasi. Bahkan aku selalu merasa seperti tahanan sungguhan.


Yang selalu di curigai akan kabur dari jeruji besi. Mungkin memang begitu.


Baiklah, waktunya tidur karena besok aku akan bersiap lebih pagi dari biasanya. Kata Gilang, Gilang akan menunggu di dekat jembatan jam tujuh pagi, dan itu artinya aku harus bersiap setidaknya jam enam pagi aku sudah siap.


Jika biasanya aku siap jam tujuh maka kali ini jam enam harus sudah siap, baiklah semoga kondisi besok pagi mendukung.


Alarm ponselku berbunyi pukul lima pagi, dan aku terbangun. Mataku belum terbuka sempurna namun telingaku sudah bisa menangkap berbagai suara.


Di luar kamar dia dan ayah sedang mengobrol, bisa ku pastikan jika ayah akan pergi ke pasar dan dia yang sedang menasihati ayah agar tak membeli yang lain selain pesanannya.

__ADS_1


Baiklah, mungkin aku sudah bisa ke air. Baru saja aku akan beranjak aku sudah mendengar dia kembali masuk dan tak lama berada di kamar mandi.


Aku mendengarkan setiap gerakan nya. Meski tak melihat, aku tau kebiasaan nya. Sudah jam lima lebih lima belas menit dan sekarang kamar mandi di isi dia yang akan mencuci baju.


Jika dia sudah ada di dalam kamar mandi, dia tak akan beranjak sedikitpun sebelum pekerjaan nya selesai.


Dan selesai nya itu memakan waktu satu jam. Jam enam atau setengah tujuh dia akan selesai.


Bagaimana ini, aku duduk di sisi ranjang dengan bingung. Jika aku menerobos ikut sebentar untuk cuci muka, aku akan di marahi di pelototi. Dan aku selalu takut.


Jika tidak aku akan kesiangan. Aku masih diam sambil mengecek ponsel, takut takut Gilang chat.


Masih dengan ponsel di tangan dan telinga yang mendengarkan keadaan di luar aku masih bingung, tak terasa sekarang pun waktu sudah menunjukkan pukul lima empat puluh lima menit. Jam enam kurang lima belas menit.


Masih bisa ku dengar jika dia masih ada di dalam kamar mandi dengan kegiatannya. Jam lima lima puluh lima. Henda memanggil mamah nya.


Aku mendengar dia beranjak sembari menyahuti panggilan Henda yang masih terlelap di kamar.


Ok sekarang dia berada di dalam kamar, mengeloni Henda agar kembali tertidur. Henda memang masih di keloni, toh Henda masih kecil.


Tak banyak berpikir aku cepat pergi ke kamar mandi, membawa pasta gigi dan juga sikap gigi kalau sedikit sabun da tangan.


Dengan kecepatan kilat aku mencuci muka, gosok gigi dan buang air kecil. Aku melakukan itu cukup dengan waktu tak lebih dari sepuluh menit.


Aku kembali ke kamar, mengeringkan wajahku lalu segera berganti pakaian.


Ketika aku sedang berganti pakaian aku mendengar suara motor ayah, ternyata sudah jam enam lewat dua puluh menit.


Pantas ayah sudah pulang, aku harus siap keluar nanti jika mendapatkan tatapan tatapan tak menyenangkan.


Setelah aku mengikat rambut ku aku segera memakai pelembab wajah, bedak dan lip balm. Segera aku memaki jaket dan menyambar tas yang menggantung di gantungan kunci.


Setelah siap, aku masih berdiri di dalam kamar di samping kemari kecil ku sehingga aku tidak terlihat dari luar.


Kamarku yang memang tak di beri pintu ini sangat memudahkan naluri dan pendengaran ku yang tajam, aku masih mendengarkan situasi di luar.


Ayah tengah bercerita macetnya pasar, dan Henda yang sudah bangun memburu makanan, lalu dia yang sudah duduk manis dengan memilah hasil belanja ayah.


Meski aku tak melihatnya, namun aku tahu dimana keberadaan mereka masing masing. Meski aku sudah tau, tapi tetap saja hati ku deg deg an. Aku takut, ini masih pagi.


Penampilanku memang seperti biasanya tapi jam yang masih pagi akan mengundang curiga, mana sekarang sudah pukul enam tiga puluh lima menit.

__ADS_1


Bagaimana ini..


__ADS_2