
Sudah lah untuk apa aku perduli, kutarik nafas panjang dan ku hembuskan perlahan.
Aku melangkah keluar, melewati mereka orang rumah yang sedang bercengkrama.
Seperti biasa mereka sedang bercanda ria, tapi ketika aku lewat canda tawa itu terhenti tergantikan dengan tatapan membunuh yang tajam ke arah ku.
Hingga aku tak lagi terlihat, mereka melanjutkan kebersamaan nya.
Lega rasanya aku telah melewati mereka, sedikit aku mendengar mereka bertanya tanya, karena pagi buta aku sudah pergi.
Tanpa berniat mendengarkan lebih lanjut aku melangkah tergesa, aku yakin Gilang sudah menunggu.
Saat aku sampai di depan jembatan yang masih lenggang ini aku tidak menemukan keberadaan Gilang.
Aku sudah melihat kanan kita depan, namun mataku masih belum menemukan sosok Gilang dengan motornya.
Segera aku menelpon nya, karena jika berlama lama disini kemungkinan bertemu dengan tetangga sangatlah besar, aku tak ingin banyak di tanyai ini itu.
Karena jalan yang saat ini aku berada itu berbeda arah dengan arah tempat kerjaku.
Sudah dua kali aku menelpon Gilang namun hanya berdering tak di angkat. Apakah Gilang lupa dengan janji hari ini? Atau Gilang masih tidur?
Tin
Tin
Suara klakson sebelah kanan mengalihkan pandanganku dari ponsel, ternyata Gilang.
"Maaf lama, aku kesiangan"
Dengan cengiran khas nya Gilang memperlihatkan raut bersalah nya. Membuat ku tersenyum lalu mengangguk.
Segera aku naik ke atas motor Gilang, setelah memakai helm tentunya.
"Siap?"
"Hum, siapp A Gilang"
Gilang tertawa mendengar jawaban ku, entah mengapa aku tak memakai embel embel A di depan nama Gilang, padahal umur kami cukup jauh selisih.
Meski begitu Gilang tak mempermasalahkan nya. Toh sebentar lagi panggilan kami akan berubah, aku tersenyum senyum sendiri memikirkan itu.
Motor Gilang sudah membelah jalan raya besar, perjalanan ini akan sangat memakan waktu.
Banyak daerah daerah yang aku tak tahu karena udiknya diriku yang tak pernah sekalipun keluar rumah hanya untuk sekedar jalan jalan.
Hanya jalan tertentu yang aku tahu, dan yang lainnya aku sama sekali tak tahu.
Perjalanan yang sangat menyenangkan bagi ku, bagi mataku yang tak pernah melihat keindahan alam selain tempat rahasia ku dan Gilang di tempat itu.
Sepanjang jalan aku melihat banyak sekali pohon pohon, sawah yang terbentang sangat luasnya. Hijau dan segar di pandang mata.
Matahari yang masih malu malu untuk keluar dari persembunyiannya membuat suasana alam yang sangat menyegarkan mataku.
Tak hentinya aku tersenyum senyum melihat pemandangan di depan mataku ini. Tangan ku berpegangan pada pinggang Gilang dan kepala ku terus saja melihat ke kanan dan kiri.
Aku bisa melihat di kaca spion jika Gilang tersenyum senyum mentertawakan ku. Dan samar samar ku dengar Gilang berbicara namun tak begitu jelas karena aku memaki helm, selain itu juga angin yang sangat kencang membuat pendengaran ku sangat berisik.
Ku condongkan tubuhku ke depan agar bisa mendengar apa yang Gilang katakan, ku letakan kepala ku di sisi kanan kepala nya.
__ADS_1
"Apa ay?"
Aku memang kadang memanggil Gilang dengan sebutan 'ay' atau 'ayang' kadang juga seperti tadi sebelum pergi 'Aa'.
Namun hanya momen tertentu dan kadang ketika ingat saja. Toh Gilang juga sudah berani memanggil ku 'yang' jangan tanyakan sejak kapan, aku pun tak tahu sejak kapan aku dan Gilang mulai berani.
Tapi percayalah hanya sebatas itu, dan pegang tangan juga peluk jika di atas motor itu pun. Senyum ku lagi lagi mengembang kala mengingat perlakuan manis nya.
"Nggak apa apa yang, aku seneng liat kamu seneng kayak gitu. Senyumnya nggak pudar"
Masih dengan senyuman manis nya Gilang menjawab pertanyaan ku, dan jawaban nya itu selalu bisa membuatku terbang melayang, bahkan sekarang aku merasa ikut terbang bebas di antara awan awan yang cerah di atas sana.
Udara semakin sejuk kurasakan, sudah dua jam kami melakukan perjalanan panjang ini. Jika menuju tempat Gilang selama tiga jam itu tepat, artinya untuk sampai kami masih harus menempuh perjalanan satu jam lagi.
Aku dan Gilang sedang bertepi di sebuah warung pinggir jalan, semakin naik jalanan yang kami tempuh dan warung ini pun di persimpangan tanjakan jalan.
Gilang membawakan air putih hangat untukku, dan beberapa roti jika cemilan.
"Nih isi dulu, belum sarapan kan?"
Aku mengangguk, dan menerima makanan itu. Aku memakan nya dengan Gilang di samping ku yang sedang merokok juga kopi hitam kesukaan nya.
Gilang jarang ngemil, bukan berarti tidak suka. Hanya saja Gilang lebih suka dan lebih sering dengan kopi hitam juga rokok nya.
Selama asap rokok tak mengenaliku aku tak masalah, dan jika asap nya yang menghampiri ku malas Gilang akan berpindah tempat agar tak mengenaliku.
Aku tak bisa dan tak akan melarang kebiasaan Gilang, meski kadang aku ingin mengubahnya.
Namun melihat perangai Gilang yang tegas dan memiliki prinsip sendiri akan sulit untuk mengubahnya.
Maka dari itu aku tak akan mengusik nya, biarlah kepribadian nya tetap sama. Yang penting dirinya sangat perduli dengan ku menyayangiku dan juga memperhatikan ku.
"Masih lama ay?"
"Masih yang, masih jauh banget. Kenapa kamu capek? Mau lebih lama lagi istirahat nya?"
"Nggak, nggak apa apa. Nanya aja ya udah yu"
Lihatkan, perhatian Gilang selalu menghangatkan diriku. Lalu kami pun kembali melesat ke jalanan berbaur dengan kendaraan yang lainnya.
Satu jam perjalanan kami akhirnya berakhir, aku dan Gilang memasuki gang setelah melewati kebun teh.
Aku bisa melihat rumah rumah yang berjajar sepanjang jalan, lalu di depannya terdapat benteng yang menjadi pembatas antara rumah warga dan kebun teh.
Aku dan Gilang berhenti di salah satu rumah di antara jajaran rumah rumah itu.
Setelah turun dan melepas helm, Gilang menuntun ku masuk ke dalam rumah.
Ah betapa dingin nya udara disini, dan lantai yang baru saja kuninjak benar benar begitu dingin.
"Assalamualaikum bi, ndi"
Aku masih diam, Gilang sudah melongo longo sedikit lebih dalam. Lalu kembali ke arahku dan membawa ku duduk.
Sebenarnya aku malu karena orang yang punya rumah saja belum terlihat tapi aku sudah duduk.
Meski begitu aku menurut karena melihat Gilang pun begitu santai, toh ini rumah nya. Pikirku.
Tak lama aku dan Gilang terududuk seorang pemuda tinggi ramping muncul. Aku lihat dia datang dari arah dimana Gilang tadi sempat menengok.
__ADS_1
Setelah bersalaman kami bertiga aku Gilang dan pemuda yang ku dengar namanya sandi itu duduk di kursi yang berada di satu ruangan yang sama.
"Bibi kemana emang ndi?"
"Ah biasa si mamah mah ka kebon"
Dengan cengiran pemuda itu menjawab pertanyaan Gilang, meski aku tak melihat nya langsung karena aku menunduk. Aku malu bertemu orang baru.
"Ohh"
"Gimana kabarnya nih? Udah agak lama nggak pulang. Lebaran kemarin nggak pulang kan yah?"
"Iya emang nggak pulang, yah ada sesuatu yang harus di urus"
"Iya ya, kerjaan gimana lancar di si ibu?"
"Lancar lancar, cuma ya begitu lah banyak yang susah nya"
Gilang dan pemuda yang bernama sandi itu berbincang bincang, sedangkan aku di beri ponsel oleh Gilang.
Mungkin bermaksud agar aku tak bosan, selain tak bisa mengobrol karena orang baru agar aku juga mau menunggunya.
Menurut aku pun menaikan ponsel Gilang, tak aneh untukku karena aku dan Gilang pernah bertukar ponsel dan itu membuatku tahu semua yang ada di dalam ponsel nya.
Mungkin setengah jam berlalu dan tiba tiba ada seorang ibu ibu yang datang dari arah pintu di mana aku masuk tadi.
"Assalamualaikum"
Dengan tersenyum si ibu itu langsung melihat ke arah ku dan juga Gilang.
Dengan cepat Gilang menyalimi si ibu dan aku pun mengikuti. Lalu kembali terduduk dengan kaki di lipat keatas.
Bukan tak sopan tapi karena dingin dan Gilang juga melakukan itu, pun aku di suruh Gilang.
"Eh Jang, kamana wae. Iraha kadieu?"
Eh Jang, kemana aja. Kapan kesini?
"Karek jol bi, Aya keren setengah jam mah"
Baru aja tiba, mungkin ada setengah jam yang lalu.
"Ohh, mau ke bapak?"
"Iya, biasa we rek menta modal hahah"
Iya, biasa mau minta modal hahaha
"Ah siah maneh mah"
Ah kamu mah
Lalu ibu yang di panggil bibi oleh Gilang tadi masuk kedalam dengan membawa barang bawaan nya.
Kembali aku Gilang dan sandi di ruangan ini. Namun tak lama pun datang lagi seorang bapak bapak.
"Wahh orang Bandung"
Siapa lagi? Sepertinya di kampung halamannya Gilang sangatlah terkenal. Atau mungkin ini bapaknya Gilang? Tapi masih muda kelihatan nya.
__ADS_1