
Dua hari lagi, bibirku tak henti henti nya tersenyum. Aku akan segera pergi dari rumah ini. Menjalani kehidupan baru bersama orang yang menghargai dan mencintaiku.
Aku benar benar bersyukur, dan berharap semoga saja semua nya berjalan dengan lancar. Aamiin.
Hari ini aku akan pergi ke rumah bos nya gilang, tentu saja bersama dengan gilang jika aku pergi sendiri malu rasanya, apalagi ada anak anak dari bos nya gilang. Meskipun sebenarnya aku sudah tau dan kenal tapi hanya sekedar kenal tak dekat.
Aku akan mencoba kebaya anak gadis nya ibu nda, bos dari gilang. Aku memang tak menyewa riasan pengantin, tak apalah aku akan dandan sekadarnya saja nanti.
Kebaya sekolah beserta dengan samping yang sudah menjadi rok, sehingga memudahkan pemakainya.
Kebaya putih plos dan rok nya sudah pas, setelah di coba lalu aku dan gilang kembali ke tempat kerja nya gilang.
Sebenarnya tak jauh jarak dari rumah bu nda sama tempat kerja nya gilang, bolak balik pun tak sampai lima menit.
Untuk gilang cukup memakak baju koko nya yang baru, tak terlalu baru karena sudah di pakai lebaran beberapa bulan lalu hihi.
Baju sudah kerudung sudah, iyah aku memutuskan untuk memakai kerudung di hari penting itu, selain aku menginginkan nya sejak lama ini adalah kesempatan untuk ku menjalankan kewajibanku sebagai seorang wanita. Yaitu menutup aurat hehe.
"Hari ini bapak bakal dateng ke sini, mungkin sore nyampe nya"
"Ngapain?"
Aku memang lupa atau mungkin gilang belum bicara perihal ayahnya yang akan datang ke bandung.
"Ya memastikan aja, sambil silaturahmi juga. Ya masa iya sih sudah lah nggak akan datang ke hari pernikahan kita terus nggak ada ngobrol ngobrol, seenggaknya para orang tua itu bisa bicara secara langsung dengan calon besan."
"Hmm iya iya, gimana baiknya aja. Tapi kamu juga ikut kan ke rumahku?"
"Ya iya lah april masa nggak ikut, kan yang nganter kita, aku sama kamu"
"Hehe iya iya"
Dan seperri dugaan gilang ketika siang menuju sore ayah gilang datang bersama dengan kakaknya.
Aku menyiapkan makanan seadanya saja karena memang aku dan gilang sedang tak pegang uang untuk sekedar memberi kan makanan enak.
Setelah salam salaman dan hidangan tersaji, kami makan hanya empat orang, ayah gilang kakak gilang, gilang, dan aku. Di ruang mess nya gilang.
Setelah makan mengopi, merokok dan sedikit berbincang sehabis magrib kami berempat pergi ke rumah ku.
Pertama gilang mengantarkanku, lalu kembali menjemput ayah dan kakak nya. Hanya lima menit menggunakan motor karena jarak yang dekat.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum"
__ADS_1
Cukup lama pintu dibuka, membuatku resah. Jujur saja perasaan ku tak tenang, aku takut dia tak menerima tamu nya kali ini, aku takut dia marah marah dan berakhir dengan murkaan.
Entahlah perasaan ku benar benar berbeda dengan apa yang ku rasakan pagi ini. Kali ini seperti suasan sangat mencekam dan tegang.
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan sosok ayahku di balik pintu, tersenyum tipis ayah ke arahku dan dua orang di belakang ku. Lalu mempersilahkan masuk dan duduk lesahan di atas karpet.
Dari pintu masuk sebelah kiri ayah dan kakak gilang duduk di dekat jendela, di sebrang nya ada dia yang duduk dekat dengan tembok pembatas ruang tamu dan ruang tengah, di depan pintu kamar aku duduk bersebelahan dengan dia namun berjarak karena di tengah nya ada ayah. Sedangkan henda di belakang dia sesekali melihat tamu yang datang dan sesekali menonton tv.
Ruangan yang sedikit sempit itu menjadi saksi dimana para orang tua dari anak yang tersisihkan berkumpul, membicarakan rencana yang sudah di buat dan akan terlaksana dua hari lagi.
Obrolan sudah di buka, dengan dia dan ayah Gilang dominan berbicara. Ayahku hanya tersenyum mengangguk dan sesekali meng-iya kan pembicaraan yang aku sendiri kurang mengerti.
Hingga obrolan mereka membahas tentang perilaku dan sifat anak dari masing masing.
Entah hanya aku yang merasakan nya, atau memang dia tengah memojokkan ku, dia membicarakan segala perilaku burukku.
Aku tak apa, tapi yang menjadikan hatiku sakit dan sesak adalah mengapa harus membahas hal itu di depan calon mertua ku dan menjelang hari pernikahanku?
Apa maksudnya? Selama ini mau dia membucarakan ku, keburukan ku atau perilaku kurang ajarku kepada orang lain pun aaku tak masalah.
Tapi kenapa harus membahas hal itu di saat semua orang berbahagia untuk pernikahan anak nya?.
"Iya pa, saya udah ngasih tau anak ini tapi tetap saja perilaku nya tidak sopan. Nggak menghargai orang tua, selalu melawan. Udah capek saya didik anak ini"
"Haha, yah bu wajar saja namanya juga anak muda. Sama aja gilang juga gitu, tapi ya kita sebagai orang tua harus bisa memaklumi. Kan tugas kita untuk membimbing mereka"
Intinya, dia ingin memberi tahu ayah gilang jika aku anak bandel, nggak bisa di atur dan sangat sangat melunjak tak tau berterimakasih.
Sekarang hati ku semakin sesak mendengar semua yang dia ucapkan, mana gilang tak ada disini! Dimana dia itu, katanya hanya memarkirkan motor tapi kenapa sudah setengah obrolan gilang belum datang juga.
Karena tak tahan akhirnya aku beranjak, sedikit membungkuk dan permisi aku keluar rumah mencari gilang.
Katanya gilang akan memarkirkan motornya di rumah temannya yang hanya terhalang beberapa rumah dari rumah ku.
Aku segera kesana, dan yang benar saja gilang malah asik mengobrol dengan temannya itu aku sedikit kesal dan akhirnya menuntut gilang untuk segera ikut dengan ku.
Dengan perasaan yang semakin sesak aku tak bisa menahannya lagi, air mataku luruh setetes demi setetes namun segera aku usap kasar karena malu. Entah lah gilang menyadari nya atau tidak yang penting sekarang gilang sudah ada bersama ku, dan aku akan sedikit tenang.
Karena memang gilang itu sudah seperti penguat bagi diriku, aku akan bisa mengahadapi segala macam situasi jika bersama dengan gilang.
Dan aku akan sangat rapuh dan tak kuat jika tak ada dirinya. Sesampainya di rumah gilang segera duduk tepat di belakang pintu sedangkan aku kembali ke posisi semula.
Masih dengan pembahasan yang tadi, membahas aku dan gilang tapi bukan tentang acara pernikahan kami melainkan sikap sifat kami, aku dan gilang.
Meski yah sebenarnya dia yang lebih banyak bicara, entah mengapa seperti ada kobaran api semangat yang ada di dirinya ketika membicarakan aku di depan mataku dan di depan calon mertua dan calon suamiku.
Aku hanya menunduk mendengarkan mereka bicara, di ruangan itu ada enam orang dewasa termasuk aku dan gilang tapi, yang lebih banyak bicara dia dan yang menjawab ayahnya gilang.
__ADS_1
Entah mengapa semakin kesini suasannya semakin mencekam, aku bisa melihat gilang yang menunduk dengan wajah yang sangat merah. Dan seketika dia angkat bicara, yang membuat dia tak terima dan berakhir gilang sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Sudah lah! Sebaiknya begini saja. Dari pada membicarakan hal yang membuat orang lain sakit hati lebih baik sudah, tanggal oeenikahan sudah di tetapkan. Temoat dimana dilaksanakan sudah di tetapkan. Dan ibu dengan bapak hanya tinggal hadir!! Sudah seperti itu saja."
"Iya tahu kalo soal itu, masalahnya ini anak tuh susah di atur nggak bisa di ajak bicara. Masa nikah mau di tempat orang lain, apa kata orang disini! Apalagi ayah nya april itu kepala RT mau di taruh dimana muka kita!!"
Dia menjawab dengan tak kalah sewot, aku takit akan terjadi pertengkaran. Karena jujur baru kali ini aku kelihat gilang dengan wajah semerah itu.
Seperti menahan amarah yang akan meledak lepas kendali kapan pun. Aku melihatnya khawatir, sedikit menggeleng dan dia melihat kearahku dan ke arah dia beberapa kali.
"Iya saya tahu! Tapi ya sudaha roh april nikah sama saya sudah! Bapak ibu hadir saja. Bapak jadi walinya april sudah selesai. Kan ibu yang bilang sendiri tak ingin melaksanakan acaranya disini karena takit virus Corona (covid19). Selain itu harus banyak mengeluarkan biaya ini itu, sedangkan uang hanya ada lima juta dengan segala nya harus terpenuhi!"
"Yakan kalian mintanya waktu itu kondisi virus nya sedang menyebar luas di seluruh daerah bandung, ya saya khawatir. Yang terakhir sekarang nggak ada bilang lagi sama aya, kalo bilang kan saya juga akan memperbolehkan nya yang penting tetap memaruhi aturan!!"
"Sudah bu, lang sudah! Nggak apa apa. Toh semuanya sudah selesai tinggal kehadiran nya saja, dan mohon maaf saya sebagai ayah nya gilang tidak akan bisa ikut hadir karena tak bisa jauh"
"Iya paling begitu saja. Tak apa pa saya bisa mengerti"
"Ya sudah kami pamit yah. Maaf kalo ada salah salah bicara, atau menyingung perasaan"
"Iya pa sama sama, saya juga terimakasih sudah jauh jauh mau datang kemari"
"Iya mari bu pa, april assalamualaikum"
"Waalaikumusalam"
Akhirnya perdebatan yang sangat menegangkan berakhir sudah. Aku sangat takut jika gilang akan lepas kontrol tadi, tapi syukurlah wemuanya baik baim saja.
Tapi aku tak yakin, karena dia terlihat sangat amat murka. Dengan mata melotot merah dan tertuju ke arah ku.
Aku segera ke kamar setelah gilang dan ayah nya juga kakaknya pergi menjauh, dan pintu rumah tertutup.
"Apa apaan itu, dasar orang tua tapi tak seperti orang tua. Cara bicara nya benar benar sepeti anak kecil!! Tak bisa menghargai lawan bicara memangnya siapa dia mengajariku untuk memaklumi segala sikap anak tetangga itu!!"
"Sudah lah mah, jangan marah marah biarin sudah nggak ada orang nya juga"
"Ya bukan gitu ayah, tau apa dia orang baru pertama kali bertemu tatap muka saja sok sok an mengajari mamah. Meski mamah masih muda belum setua dia tapi mamah lebih faham, dia mah apa nggak tau apa apa sok mengajari"
"Iya iya sudah lah, malu sama tetangga. Marah marah teriak gitu mah"
"Apaan sih yah, ayah membela mereka hah!? Lagian apa apaan si gilang membentar mamah dengan mata melotot wajah merah begitu!! Dia pikir bagus bersikap seperti itu hah!! Heh anak sialan semuanya gara gara lu setan!! Semua orang menyalahkan saya dikira nggak becus didik lu!! Bilang apa lu sama mereka hah sampe berani beraninya si gilang bentak guaa!! Aaaa!! Anj**g!!"
Di kamar aku bisa mendengar dia berteriak, mengumpat mengeluarkan segala macam umpatan. Dengan ayah yang berusaha menenangkan dia, henda yang menangis ketakutan melihat mamah nya yang teriak dan menghamburkan baran di sekitarnya.
Aku tahu karena aku mendengar semuanya, semua barang di lemparkannya. Kini aku mendengar langkah kaki nya mendekat.
Dan benar saja, dia mendorong lemari oenyekat di kamarku hingga aku akan menimpa ke arah ku, namun untung nya tak jatuh dan tetap berdiri.
Di baliknya dia muncul dengan wajah penuh amarah dan mata menatap tajam ke arahku, entah keberanian dari mana aku pun imut menatapnya.
__ADS_1
Namun aku menatap nya dengan pandangan sayu yang benar benar sedih melihat semuanya kacau seperti ini.