
Hari ini hari pernikahan ku, akhirnya hari yang di tunggu tunggu pun tiba. Pagi ini aku tidur di tempat baru, dimana tempat ini akan menjadi teman bisu untuk kisah kasih ku bersama gilang nantinya.
Aku tidur dengan tia dan teman nya tia, kami tidru bertiga di kausr baru dan tempat baru. Jam empat subuh aku sudah terbangun entah lah sejak semalaman aku terus menerus terbangun, entah deg deg an karena gugup entah apa aku tak tahu.
Aku mandi jam lima setelah satu jam membangunkan tia dan juga temannya itu.
Kami berdandan, tia meriasku dengan alat make up yang dia punya. Masuknya sih kumplit tak seperti yang aku punya. Setelah aku selesai tia dan temannya yang ku tau namanya windi pun ber-make up kami bertiga sudah selesai.
Jam menunjukkan jam delapan pagi, aku tia dan windi ke atas rumah mess nya gilang. Tempat tinggal anak menantu dari bu nda bos nya gilang.
Disini lah acara pernikahan ku di gelar, tak ada tenda tak ada riasan pernak pernik di ruangan ini tak ada kue pengantin.
Ruangan ini seperti biasanya saja, hanya kurai kursi yang di kepinggirkan di gantikan dengan alas karpet sepanjang ruangan ini.
Nasi kuning muai berdatangan, dengan lauk dan sambal. Di tata di depan. Para tetangga satu persatu hadir, memeriahkan acara hingga ayah dan dia datang dan terlambat.
Akhirnya ayah di jemput oleh a emi, karena gilang menelpon ayah dan ternyata tak tahu jalan. Padahal aku sudah menjelaskan nya dan dekat sekali dengan rumah tapi ya sudahlah.
Mamah Tia pun sudah hadir dari beberapa menit yang lalu, jam sembilan kurang lima belas menit ayah dan dia datang.
Dengan menggunakan masker dan membawa handsanitaizer duduk di dekat tangga tempat orang lain masuk, mungkin tak ingin masuk lebih dalam takut terkena virus.
Jam sembilan tepat pak penghulu akhirnya datang, acara segera di mulai.
Meja belajar di lapisi kain kerudung putih menjadi alas untuk menulis tanda tangan dan surat surat pelengkap lainnya. Aku duduk bersebelahan dengan gilang, di sisi kanan dekat gilang ada uwa (kakak dari ayahku) dan di depannya gilang ayah. Di depan ku ada pa penghulu dan di sisi kiri ku ada anak dari bu nda yang akan manjadi saksi dari gilang.
Setelah di beri tahu dasar dasarnya, gilang dan ayah berjabat tangan. Lalu mulai mengucapkan janji suci dengan ayah terlebih dahulu.
"Saya nikahkan dan kawin kan engkau dengan putri kandung saya yang bernama April Aprilia dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawin nya anak kandung bapak yang bernama April Aprilia dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"
"Bagaimana saksi sah?"
"SAH"
"Alhamdulillah"
Semuanya berjalan dengan lancar dengan wajah yang tertunduk aku berusaha membendung air mata ku, semua orang di sekitar ku tengah berdoa begitu pula aku.
Di pimpin oleh pak penghulu, kini hari ini aku resmi menjadi istri dari gilang. Orang yang mencintai dan aku cintai.
Ayah lega kah ayah sudah melihat ku menjadi milik orang lain, setelah ini aku tak akan bisa seluar dulu. Sebebas dulu untuk melakukan segala tindakan ku.
Ijin nya sangat berpengaruh untukku. Termasuk jika aku ingin menemui ayah, tanpa ijin nya aku tak akan bisa menemui ayah.
Selesai semuanya berdoa seseirang menyerahkan mas kawin ke padaku, dengan berhadap hadapan dengan gilang aku masih tertunduk menahan air mata bahagia.
Benar benar rasa yang tak bisa di tahan, ingin pecah sekali rasanya namun disini masih banyak orang.
Dengan saling berpegangan mas kawin yang sudah di rangkai seindah mungkin aku dan gilang berhadapan dan menyebutkan janji.
Janji seumur hidup, setia hingga maut memisahkan, tak akan pernah berpaling dan akan selalu setia menemani di setiap suka dan duka.
Selalu bersama sampai kapan pun.
Setelah nya seseorang kembali mengambil mas kawin itu, kemudian aku menandatangani surat surat yang perlu tanda tangan ku.
Lalu menandatangani buku nikahku dan juga gilang, kami mendapatkan nya masing masing satu.
Lalu aku mencium tangan gilang lama, dan tangis ku penar benar sudah di pelupuk mata.
Tak lama setelah itu pak penghulu berpamitan, sedangkan yang lain mulai membawa nasi kuning ketengah semua orang beserta dengan lauk pauk nya.
__ADS_1
Lalu aku menghampiri ayah, dia, uwa dan bibi yang paling dekat dengan ku dalam keluarga.
Aku menyalami satu persatu dari mereka, pertama ayah. Aku ingin menangis melihat wajah ayah, ada sedikit raut sedih di wajah tua nya.
"Maaf kalo april banyak salah ha ayah, doakan april"
"Iya sama sama"
Ayah menarik kembali tangan yang ku cium tak lama, dengan tangan satunya yang menpuk pelan punggung ku.
Tak ada pelukan dan rasa haru di momen ini, seharus nya ini momen aku menangis meminta maaf dan ayah juga menangis atas pernikahan ku.
Tapi semua itu tak berlaku untukku di hari istimewa ini.
Beralih ke dia, sejak tadi dia menatapku dan ayah. Melihat interaksi kami yang hanya sedikit dan tak berkesan itu.
Aku mengambil tangannya lalu menciumnya seraya mengucapkan maaf.
"Maaf ya mah kalo april banyak salah"
Tanpa menunggu aku selesai bicara dia kembali menarik tangannya dan hanya mengucapkan.
"Iya sama sama"
Dengan wajah malas dan mata yang tak bergairah, tak ada sedih atau pun senang dari sorot matanya. Hanya menatap malas ke arah ku dan terusk melirik ku seperti tak suka.
Lalu bibi, adik dari ayah ini anggota keluarga yang paling dekat dengan ku. Selain rumah nya dekat dengan ku juga nenek di rumah dulu, bibi juga orang yang selalu membantuku. Begitupun anaknya yang tak pernah mengeluh jika aku ganggu dengan menanyakan pr.
Aku hampir sama menangis berhadapan dengan bibi, tapi bibi juga sudah hampir menangis. Memelukku sedikit karena kami duduk sehingga sedikit sulit untuk berpelukan.
Setelah itu bibi bilang.
"Semoga pernikahan mu bahagia ya, sakinah mawadah warahmah."
Dengan senyum dan sedikit isak, aku membalas senyumnya dan bulir bening lolos dari mataku satu tetes.
"Iya nggak apa apa, sekarang kamu punya teman cerita yah sama si aa. Nggak lagi sendiri"
"Iya bi"
Dan bibi memberikan amplop putih kepadaku, aku tolak halus namun bibi bersikukuh agar aku menerimanya. Dan dengan rasa syukur berterimakasih aku menerimanya.
Lalu uwa laki laki, kakak dari ayah tak ada banyak kata yang dia ucapkan. Hanya sekadarnya saja dan berlalu begitu saja.
Setelah selesai, aku kembali ke tempat semula. Mencoba memasang senyum, makanan sudah tersedia di tengah semua orang, dan orang orang sudah ribut untuk segera memakan sajian yang ada.
Dengan kaku dan sedikit canggung aku mencoba mengambilkan nasi kuning yang ada di dekatku untukku suami ku, tapi tetangga yang sering di sapa dengan panggilan Ma Ati melarangku.
"Ehh apaan ini, udah udah pengantin duduk manis aja. Nih sama apa makannya? Pake sambel nggak"
"Nggak usah Ma udah itu aja" dengan senyum haru memandang semua orang yang sedang berbahagia dengan hari pernikahanku.
"Ah masa polosan begini" terheran heran Ma ati dengan selera ku namun memang begitu lah aku, memiliki penyakit lambung membuagku banyak larangan dalam memakan sesuatu. Apalagi sambel.
Dengan senyum merekah aku memulai makan, gilang suami ku pun tengah makan begitupula dengan tia dan windi.
Aku lihat mereka sembab, Tia lebih parah karena selama ijab kabul berlangsung tak henti-hentinya Tia menangis. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sspertinya.
Aku lihat mamah Tia menghampiri aku, bertepatan dengan itu pula ayah, dia, bini dan iwa laki laki berpamitan.
Tepat mamah Tia berada di samping ku mereka orang tua ku berpamitan, tanpa menyentuh nasi atau minum air putih sedikitpun.
Ternyata apa yang dia ucapkan benar benar dia lakukan, aku pernah mendengarnya bilang ke ayah jika ijab kabul sudah selesai mereka harus langsung pulang, dan yah benar ucapan nya benar benar tak main main.
__ADS_1
"Maaf saya harus pamit" aku lihat ayah sedikit membungkuk kan badan seraya mengucapkan maaf kepada semua orang, di balik masker yang dia gunakan aku melihat dia sedikit tersenyum bibi dan uwa pun.
Mereka beranjak dan hanya ayah dan bibi menyalimi bos dari gilang tuan rumah yang tempatnya di gunakan untuk acara ini.
"Kenapa cepet cepet, belum nyicip makan juga" entah basa basi atau memang terheran karena langsung kabur pulang, bu nda mencoba menahan ayah dia bibi dan uwa.
Namun mereka bersikukuh, lebih tepat nya aku bisa melihat tatapan dia yang mengisyaratkan kepada ayah untuk cepat pulang.
Akhirnya tak lama mereka pulang, menuruni tangga. Dan aku tak lagi bisa menahan air mataku untuk tak jatuh.
Aku menangis terjatuh pada pelukan mamah Dewi mamah nya Tia. Tangisan ku yang sedikit kencang membuat semua orang kaget, beberapa detik aktifitas mereka terhenti mendengar tangisanku.
Sungguh sesak sekali yang aku rasakan, begitu bencinya mereka kepadaku hingga merayakan hari bahagiaku pun seakan enggan.
Apa yang membuat mereka begitu membenci ku, apa sebenarnya kesalahan ku. Apa aku tak berhak mendapatkan kebahagiaan ini? Apa aku tak berhak menentukan pilihanku sendiri?.
Semua pertanyaan pertanyaan itu muncul di kepala ku, sesak, sakit, dan perih semuanya aku rasakan pada perasaan ini. Sudahlah tersayat di tabur garam di dan sekarang di cincang hingga tak berbentuk.
Biarlah jika dia ingin pergi, pergi saja sendiri jika memang tak ingin melihat hari kebahagiaan ku. Tapi jangan ajak ayah ataupun bibi yang mungkin masih ingin disini menemani aku.
Isakan ku membuat mamah Dewi tak bisa membendung air matanya. Ikut menangis pilu mengiringi tangisanku, dengan tangan yang mengusap punggung ku pelan mamah dewi menenangkan ku.
Sedikit demi sedikit tapi pasti, aku berusaha menenangkan perasaanku. Ku coba untuk meredamkan rasa sakit kecewa marah yang saat ini melanda.
Aku berusaha memperbaiki keadaan ku, yang jujur saja keadaannya sudah kacau. Mungkin make up pun sudah berantakan. Tak apalah, aku tak perduli, setelah mereda aku duduk dengan tenang.
Aku bisa melihat jika mamah Dewi pun berantakan dengan air mata yang masih membasahi pipinya melihat ku.
Aku mencoba menenangkannya dan meminta maaf padanya karena membuat penampilan nya berantakan, padahal setelah ini mamah Dewi harus pergi dinas.
Setelah semuanya baik baik saja, kami semua makan dengan ceria. Dengan canda dan tawa dengan cerita cerita pengalaman dan godaan godaan yang terlontar untuk sepasang pengantin baru.
Mamah Dewi pamit, karena sudah siang dan waktu dinas nya sebentar lagi. Lalu para tetangga yang lain pun ikut pamit, karena banyak yang harus di urus.
Tegangga yang lain yang tertinggal menyusul tapi tak lama karena harus berganti pakaian sepulang menjemput anak nya yang sekolah.
Hari pernikahan ku memang di adakan di hari biasa, makanya ayah harus mengajukan cuti dan ssbagian dari tetangga tak hadir karena menjemput anaknya sekolah.
Setelah bubar, kini tinggal keluarga besar nya bu nda. Ada menantu anak dan cucu dari bu nda bos nya gilang, dan dua tetangga yang paling heboh dan antusias dengan acara ini kini mencoba mengabadikan momen spesial untuk ku dan gilang. Tentu nya Tia dan windi masih stay.3
"Ayo foto dong foto, nggak apa apa lah foto hp juga yang penting ada kenang kenangan"
"Iya ayo ayo"
Akhirnya kami berfoto mulai dari aku dan Gilang duduk berdua hadap kamera, lalu gilang mencium kening ku, berpegangan datang dan saling berhadapan.
Ibu ibu yang hadir menghebohkan sesi foto kami, apalagi saat gilang mencium keningku semua bersorak.
CIUM!!
CIUM!!
Merah sudah wajahku ini dan gilang hanya tersenyum malu malu dengan sigap menggapai keningku dan menciumnya, semua orang seketika bersorak
YEAA!!
Ahh sekarang tak terasa sedihnya jika orang orang menghebohkan seperti ini. Aku benar benar bersyukur, meski ayah tak ada di sesi foto dan tak ada kenang kenangan sama sekali dengan ayah.
Tapi masih ada orang orang baik hati yang memeriahkan dan membuat pasangan baru ini bahagia. Di sambut dengan tangan terbuka seperti ini sudah membuat aku dan gilang benar benar bersyukur.
Aku dan gilang benar benar tak tahu manahu tentang masakan yang banyak ini. Hiasan mas kawin, dan juga segala wadah yang sudah di kotori oleh masakan masakan yang banyak ini.
Aku dan gilang tak di jadikan ratu dan raja oleh orang tua kami. Bahkan mungkin tak di perdulikan bagaimana berjalannya acara. Tapi kami di jadikan istimewa oleh bu nda, mamah Dewi dan pasti para tetangga yang senantiasa memberikan uluran tangan secara cuma cuma untuk membantu memeriahkan acara ini.
__ADS_1
Untuk hari ini. Aku hanya ingin mengucapkan banyak banyak berterimakasih untuk kalian semua yang selalu ada, yang selalu mensupport, dan memeriahkan acara penting ini.
Bu nda dan sekeluarga, Ma ati, th ayu, dan tetangga lainnya, mamah Dewi, Tia, dan juga windi. Aku benar benar berterimakasih untuk semuanya. Tanpa kalian acara indah ini tak ada apa apanya.