
Aku Dan Diriku Bab 16
"April, tugas kemarin sudah di kerjakan belum?"
Ketika aku dan tia sedang makan makanan kami, denvi tadang menghampiri kami. Menanyakan tuhas yang bu sri beri kemarin.
"Oh iya udah ko, mau di kumpulkan sekarang memangnya?"
"Iya, soalnya bu sri mau pergi, setelah jam istirahat kelas bakalan kosong"
"Boleh bentar ya aku ambil dulu, tia yang kamu sudah?"
"Sudah, ayo ambil bareng"
"Denvi nanti aku antar ke meja kamu deh, tanggung lagi makan soalnya"
"Iya santai aja, aku juga mau ngasih tau yang lain dulu. Tapi jangan lama ya"
"Ok"
Bergegas aku dan tia segera menghabiskan makanan kami, setelah itu kami pergi ke kelas dan mengumpulkan buku berisikan tugas yang sudah kami selesaikan.
"Kita disini aja deh ngabisin waktu istirahat nya. Kekenyangan nih"
"Iya deh, aku juga kenyang"
Aku dan tia beristirahat di dalam kelas, setelah istirahat pun kelas akan kosong karena bu sri tak bisa hadir untuk mengajar, tapi sepertinya akan ada tugas jadi masih akan ada kegiatan lainnya setelah ini.
"April, kamu benar benar sudah pindah rumah yah?"
Salah satu teman laki laki menghampiri meja ku dan tia, kami duduk di meja yang sama karena masih jam istirahat. Tegar yang merupakan teman sebangku ku pun tak terlihat di kelas, jadi takkan masalah.
"Iya, perasaan udah lama deh kenapa baru nanya sekarang?"
"Hehe aku masih nggak percaya aja, tapi setelah beberapa minggu ini tia selalu pulang dengan windi dan tak ada kamu jadi penasaran aku hehe"
Dia menanyakan kepindahan ku beberapa minggu yang lalu, entah mengapa dia tak percaya aku pindah.
__ADS_1
"Iya beneran lah, orang nenek udah nggak ada, aku mau tinggal sama siapa di rumah?"
"Uhm gitu, ya udah deh semangat terus ya. Bye"
"Nah, gitu doang"
Tanya ku pada tia, tia hanya mengangkat kedua bahu dan nyengir memperlihatkan gigi giginya.
...
Jam istirahat selesai, ketua kelas membawa tumpukan buku paket dan membagikannya pada masing masing meja dua buku, karena satu meja terdapat dua orang.
Kami mengerjakan tugas tanpa bu sri, meski begitu kami semua mengerjakannya karena besok harus di kumpulkan.
Kelas sedikit berisik karena tak ada guru, dan hanya di berikan tugas. Namun meski begitu teman teman ku tetap mengerjakan tugas yang diberikan meski sembari bermain dan bercanda, tidak diam di tempat dan menggangu yang lain.
Seru, ini lah keseruan anak sekolah. Masa SD yang menyenangkan, teman sekolah dan tetangga rumah juga ada. Rasanya begitu menyenangkan.
Ketika bel pulang berbunyi kami semua bergegas pulang, sedikit tergesa-gesa.
"Heh april!! Di sekolah kamu nabung kan?"
"Iys mah nabung, kenapa?"
"Kapan tabungan nya bisa di ambil?"
"Kurang tau, kenapa mau di ambil aja tabungan ku mah?"
"Iya ambil aja, mamah perlu lagian kan satu semester lagi kamu sekolah disana. Ambil aja lah"
"Oh iya mah, besok april coba bicara dengan wali kelas april"
"Hm"
Tabungan, meski dia butuh sepertinya tak akan membantu banyak, karena tabungan ku hanya sedikit. Toh sejak pindah kesini aku sudsh tak menabung kan karena uang saku saja pas pas an.
"Ya sudah lah ikuti saja"
__ADS_1
Ucap ku perlahan, takut terdengar olehnya.
Hari ini sama dengan hari sebelum nya, aku menghabiskan waktu dengan menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah.
Setiap hari aku lakukan dengan demikian, hingga suatu malam aku mendengar dia memarahi ayah. Hari sudah begitu larut, dan aku terbangun karena ada suara ribut di luar kamar.
"Ayah ini gimana sih, masa gitu aja nggak bisa? Bilang dong darurat! Walau gimanapun henda harus periksa besok!"
"Ya gimana mah, kata atasan belum bisa lagian kan minggu lalau ayah sudah ambil separuh uang gajih ayah"
"Ya terus gimana dong? Masa anak mamah mau di biarin gitu sakit! Sedangkan anak ayah kalo sakit aja langsung di periksa! Jangan pilih kasih dong!!"
Aku sedikit mendengar perdebatan mereka, karena sudah larut mereka bicara sedikit berbisik meski begitu amarah nya dia tak bisa di semubunyikan, apalagi karena sudah larut suaranya begitu jelas.
"Bukannya pilih kasih mah, kalo nggak bisa gimana? Ayah harus maksa gitu? Ya nggak bisa nanti kalo ayah di pecat gimana?"
"Alah tau ah pusing!!"
Dia masuk ke dalam kamar, lalu tidur kembali. Begitu pula ayah, mereka kembali tidur setelah sedikit ribut tadi, yang entah sejak kapan. Aku pun kembali tidur, karena sudah kembali nyaman.
Namun tak lama aku terlelap aku merasakan sakit di wajah ku, aku mencoba biasa saja karena aku tahu dia yang sedang mecubit cubit pipiku. Sakit. Aku berusaha menghindar dengan menghadap ke arah ayah tetap saja dia terus mecubit wajah ku, aku berpura pura tidur dan kembali berusaha mengubah posisi menjadi tengkurap wajah ku di benam kan pada bantal, tapi itu semua tak membuat dia berhenti mencubiti aku. Dia kembali mencubit di bagian tangan yang sedikit keluar, sangat sakit.
Aku ayah dan dia juga henda tidur di dalam kamar yang sama, karena kami tinggal di rumah mamah nya dia, jadi satu rumah di tinggali dengan beberapa kepala keluarga dan mereka masing masing memiliki satu kamar untung setiap kepala keluarga, dan tidur satu kamar beberapa orang. Seperti aku dan ayah juga henda dan dia kami tidur ber empat satu kamar.
Dia tidur di atas kasur dengan ranjang yang tinggi dengan henda dan aku tidur menghampar di bawah atau lebih tepat nya di samping nya, jadi akan sangat mudah jika dia mencubiti aku seperti sekarang.
Aku tak tahu mengapa dia selalu seperti itu, bukan hanya sekarang namun sering dan itu menyakitkan. Terkadang jika aku bangun pagi dan bersiap siap aku mendapatkan sedikit memar pada tangan ku, memang sesakit itu.
Apakah dia tak suka jika aku ikut bersama dia disini? Atau dia hemas padaku?
...
"April jangan lupa ya ambil uang nya"
"Oh iya mah"
Aku pergi sekolah biasa hari ini. Aku terus bermonolog pada diriku sendiri agar aku tak lupa harus mengambil uang tabungan karena sudah beberapa kali aku lupa.
__ADS_1