Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
Aku dan diriku extra part 1


__ADS_3

Hari ini tepat satu bulan pernikahan ku, saru bulan berjalan dengan damai. Tak ada lagi yang berteriak memaki dan menghina ku.


Tak ada lagi yang menatap sinis dan benci ke arah ku. Tak ada tatapan mengintimidasi dari orang orang sekitar ku.


Aku hidup dengan damai bersama gilang. Aku sudah ikut kerja bersama dengan gilang, aku ikut membantu gilang sedikit demi sedikit sembari belajar.


Yah gilang kerja menjadi tukang jahit, keahlian gilang sudah sangat bagus. Bisa membuat baju dari nol, dan model apapun itu.


Jika aku ingin baju model sendiri gilang bisa saja membuatnya, yang gilang tak bisa itu memotong pola pola yang akan di jadikan baju tersebut.


Karena gilang hanya belajar menjahit, dan belum bisa menjadi yang serba bisa hingga memotong pola sendiri, kalo hanya memotong sedikit bagian bagian yang kurang sih itu tak masalah.


Ssperti malam ini aku ikut bekerja kembali dengan gilang, selepas magrib aku dan gilang kembali ke tempat kerja.


Tak jauh hanya tinggal ke belakang rumah kontrakan kami, karena kami mengontrak persis di depan rumah bu nda tempat gilang bekerja.


Dan posisinya itu membelakangi jadi kami hanya tinggal jalan beberapa langkah saja dan sampai.


Biasanya aku dan gilang akan selesai bekerja jika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam atau jika terlalu lelah kami akan bekerja hingga jam sembilan malam.


Suasana yang sangat baru untukku, meski terkadang aku tidur larut tapi aku hanya rebahan bukan bekerja.


Ternyata selama ini gilang kerja lebih dari delapan jam, bahkan gilang bekerja empat belas jam sehari.


Jika mengingat hal itu aku kasian dengan gilang, pasti gilang lelah siang hingga malam terus bekerja.


Yang aku rasa menjahit itu lumayan lelah, meski hanya duduk saja dan menjalankan mesin tapi sungguh itu cukup menguras energi dan otak.


Karena kita harus menyesuaikan tangan dan kaki, lalu harus mengetahui sifat bahan agar bisa menghasilkan baju yang bagus.


Ah sedikit menyesal aku belajar menjahit karena ternyata lebih lelah dan menguras energi. Jauh dari yang aku pikirkan, niat nya ingin rileks kerja sambil duduk malah sedikit puaing karena harus belajar di setiap barang baru.


Tapi tak apa, toh aku hanya sedikit membantu dan tak terlalu sulit mengerjakannya. Toh gilang juga hanya memberikan pekerjaan yang gampang untukku.


Jam sepuluh lewat, aku dan gilang sudah di rumah kontrakan. Kami sedikit bersantai sebentar, melonjorkan kaki yang pegal karena dingin dari mesin.

__ADS_1


Setelah menyeduhkan kopi untuk gilang, aku ikut duduk di sampingnya yang sedang bermain game online.


Awalnya aku suka protes jika gilang bermain ponsel sendiri dan mengabaikan ku, tapi kata nya lebih baik main game online dari pada main perempuan.


Ih dasar bisa aja gilang tuh kalo jawab, ya sudahlah toh aku masih di anggap. Kadang jika aku ingin bermanja pun gilang tak marah dan malah merangkul ku dan membawaku kedalam pelukannya, sedang dirinya masih memainkan game nya.


Saat sedang melihat Wa aku sedikit terkejut melihat pesan dari ayah, apakah ayah rindu karena jujur saja setelah ayah dan dia pergi begitu saja dari acara pernikahanku satu bulan lalu aku tak pernah lagi melihat ayah apa lagi dia.


Sekarang melihat pesanya membuat ku tak percaya. Dengan heboh aku memperlihatkannya kepada gilang, dan gilang hanya merespon acuh.


Aku tau perasaan gilang, sebagai seseirang yang mengerti kondisi ku gilang benar benar acuh tak ingin tahu tentang orang yang gilang anggap gilang benci.


Iya, gilang bilang gilang benci dan jijik dengan dia, selain orangnya yang sok pintar dan sok menasehati juga orangnya tak bisa memegang omongannya sendiri.


Tak ada satupun sifatnya dia yang mencerminkan jika dia memang layak untuk di hormati. Yang gilang lihat dia hanya selalu membicarakan keburukan dirinya sendiri dan bukan keburukan orang lain.


Akhirnya aku tak menanggapi pesan itu, hanya ku baca dan ku simpan.


....


Aku lihat sejauh ini dunia luar tak seburuk apa yang dia bicarakan. Dan ternyata masih banyak orang orang baik di dunia ini, di luaran rumah.


Tapi tak ku sangka pesan yang ku abaikan malah merembet kemana mana. Aku mendapat kabar dari Tia jika ayahku datang ke rumahnya untuk memintaku datang kerumah ayah, dan yang paling membuat ku terkejut adalah permintaan itu bukan sebab ayah rindu padaku melainkan permintaan yang mengharuskan aku membersihkan kamar lama ku karena akan segera di isi dan di pakai oleh henda adikku.


Sesak, masih saja sesak. Padahal satu bulan sudah aku tak merasakan perasaan ini dan sekarang, karena orang yang sama membuatku kembali merasakan sakit.


Lagian apa apaan itu, kenapa pula harus sampai datang jauh jauh ke rumah Tia hanya untuk memintaku datang kerumah?


Kenapa tak memberi pesan kembali dan menerangkan secara terang terangan kepadaku. Aku juga tahu isinya memang menyuruhku pulang dan membersihkan kamar, tapi aku tak di beri tahu jika harus sekalian mengurus surat surat pindah.


Sebenci itukah dia kepadaku hingga tak mau lagi berhubungan denganku? Baiklah dengan bujukan dari mamah Dewi-mamahnya Tia aku akan berkunjung tapi aku akan ke rumah tia terlebih dahulu untuk memperjelas kedangan ayahku ke rumah nya Tia.


Minggu ini rencananya aku akan segera ke rumah Tia, biar hati ini tenang.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


Aku datang bersama dengan gilang, sesuai janji tak terlalu pagi juga tak terlalu siang aku ke rumahnya Tia.


"Waalaikumusalam, ehh neneng geulis sini masuk sayang"


Mamah menyambut ku dan gilang dengan suka cita, hangat nya perasaan ini mendapat perlakuan yang sangat membuatku terharu.


Aku dan gilang duduk lesehan di atas tikar yang tergelar, ada bapak anton-bapak nya Tia, mamah dewi, Tia, aku dan juga gilang.


Kami semua berkumpul di ruangan yang sederhana, namun tak menjadikan suasan sederhana. Yang ada suasan sangat hangat dan ramai, terlebih ada keponakannya Tia yang berumur lima tahun. Bayangkan betapa cerewet nya anak umur lima tahun.


"Iya gitu ya a, lagian kan kita memang nggak berbuat kesalahan. Intinya kita sebagai anak tetap bersikap sopan dan santun kepada orang tua, sekalipun orang tuanya macam singa. Hahaha"


Semua orang tertawa, kini pembicaraan sudah mulai masuk kedalam masaah yang akan segera aku hadapi.


Rasanya hati ku masih sangat takut jika harus kembali menginjakan kaki ke rumah itu.


"Jadi ayah kamu kesini mungkin dua apa tiga hari yang lalu, sore sore. Katanya minta tolong bilangin ke April biar ke rumah buat beresin kamar karena akan segera di pakai oleh henda adiknya kamu yah. Memang nya kamarnya berantakan banget?"


"Hehe iya maah, memang april nggak nyangkal kalo soal kamar yang berantakan. Karena meskipun april beresin tetap saja akan kotor dan berantakan, soalnya tiap april neresin pasti di komen berdebu kemana mana lah, virus lah, nggak lihat situasi lah, gimana april mau beresin cuba kalo gitu.


Ya udah april cuma lap lap aja daerah yang memang april jangkau dan buat april tidur nyaman sslebihnya april biarin."


Aku menjelaskan semua alasannya tanpa mengurangi atu pun menambahkan, karena memang itu kenyataannya. Lagian juga kelakuan henda yang suka membuang sampah bekas jajan nya ke kamarku juga membuat ku benar benar lebih tak ingin lagi perduli dengan kondisi kamar yang jauh dari kata layak.


"Iya ayah kamu curhat sama mamah, katanya kamu susah di bilangin. Kalo di ajak ngobrol pasti aja diem nggak mau jawab nunduk aja kerjaan nya. Ya mamah ketawa aja mamah jawab, yah munkin april nggak nyaman makanya april nggak mau bicara, nggak mau terbuka sama orang tuanya. Mamah nggak cerita ko kalo april suka main kesini."


"Iya mah makasih banget yah, maaf jadinya malah ngerepotin mamah gini"


Jujur saja sejaj tadi aku bicara aku benar benar sudah sesak menahan tangis, entah mengapa rasanya rasa sakit itu masih terus menghampiri.


Padahal selama sebulan ini aku berusaha untuk melupakan segala rasa sakit, agar aku hanya bisa merasakan kebahagiaan yang di berikan oleh gilang.


Tapi ketika membicarakan kondisi ku di beberapa bulan lalu membuat hati ku kembali sakit.


Setelah selesai dengan pembicaraan yang menguras emosi ku, aku dan gilang kembali pulang. Rencananya akhir bulan depan aku akan ke rumah untuk membersihkan kamar ku dan sekalian membuat surat pindah.

__ADS_1


Itu benar benar di luar dugaanku, aku harus cepat ceoat pindah dari KK nya dan juga kehidupan mereka.


__ADS_2