
Aku Dan Diriku Bab 20
"Kenapa aku jadi kepikiran?"
Beberapa minggu terakhir ini fokus ku sedang teralihkan, oleh seseorang yang akhir akhir ini mengisi kekosongan. Bukan shila, kali ini lelaki.
Bukan pula lelaki yang nggak jelas asal usul nya. Aku bertemu dengannya di suatu tempat, tak jauh dari tempat biasa aku menyendiri. Sepertinya kebiasaan kita sama, sama sama suka dengan kesunyian. Dan menjauhi keramaian.
Bruk
"Aduh"
Aku menabrak seseorang, karena minim nya pencahayaan aku tak bisa melihat dengan jelas orang yang sudah aku tabrak.
"Eh maaf kak, saya nggak sengaja"
"Iya nggak apa apa juga ko"
"Iya, hm saya permisi"
Aku kembali melanjutkan perjalanan pulang setelah meminta maaf, aku memang tak melihat dengan jelas wajah nya, tapi suara dan poster tubuhnya sudah jelas dia seorang lelaki.
"Toh aku sudah meminta maaf"
...
"Assalamualaikum"
Aku memang tak kapok kapok meski sudah berapa kali di interogasi karena pulang lewat dari jam 7, aku hanya melalukan itu ketika sedang pusing dan jengah saja dengan keadaan rumah. Selain terlalu banyak drama, banyak omong dan tak bisa aku jadikan tempat istirahat membuat aku semakin hari semakin malas pulang.
Tapi jika aku tak pulang, aku tak tahu harus kemana. Karena selama ini aku sendiri, tak ada yang tahu kondisi ku, jadi mau tak mau ya seperti ini. Membuat masalah dengan pulang di atas jam 7 malam karena lelah dan ingin beristirahat tapi bukan di rumah.
Entah drama apa lagi yang terjadi sekarang, yang jelas di luar kamar aku bisa mendengar dengan jelas jika dia sedang marah marah. Aku hanya mendengar suaranya dan jawaban dari ayah yang hanya sesekali meninpali.
Aku tak ingin ambil pusing, aku akan tidur kemudian bangun pagi dan berangkat bekerja seperti biasa.
Aku bangun pukul 6, saat aku membuka mata yang aku pikir adalah air, lalu hari. Tak ada masalah, semuanya aman setelah ku pastikan tak ada lagi orang di dalam kamar mandi, aku bergegas keluar kamar dan menuju kamar mandi. Lalu bersiap.
"Kayaknya hari ini telat pulang lagi deh, otak aku kenapa berisik banget sih. Pengen istirahat"
Aku bermonolog sendiri sembari berjalan menuju tempat bekerja. Rencananya aku akan pulang sedikit lebih larut lagi, aku ingin pergi dari rumah itu tapi entah bagaimana caranya. Ayah dan dia tak akan melepaskan aku begitu saja, meski aku tau jika mereka mau mereka akan sangat bisa mengusir ku. Tapi karena ego, dan tak ingin di pandang jelek oleh orang lain mereka tetap mempertahankan aku meski sebenarnya aku sudah tak ada bagi mereka.
Meski sebenarnya beberapa orang di sekitar rumah sudah tahu tentang apa yang selalu terjadi di dalam rumah, tak ada yang mengadu ataupun menggosipkan apalagi dia yang sangat menjaga nama baik. Tapi ya karena dasarnya tinggal di tempat yang banyak orang ada tetangga berdekatan dan juga mereka melihat perilaku dia dan ayah juga henda, mereka sedikit mengerti meski tak seluruh.
Namun walaupun begitu, tak akan ada yang akan bisa menegur atau membelaku, tak ada yang cukup berani. Kan keluarga dia keluarga terpandang!
Disini aku sekarang, di tempat yang sama seperti kemarin menyendiri di tempat favorit ku. Tak ada rasa takut ataupun khawatir jika nanti aku pulang akan di marahi, sudah terlalu banyak ketidakadilan yang aku terima sehingga aku tak lagi merasa takut. Aku sudah mati rasa.
Srek
Srek
__ADS_1
Aku menolehkan pandangan ku ke belakang ketika mendengar seperti seseorang yang datang.
"Siapa?"
Srek
"Eh ternyata ada orang"
Aku berdiri dari duduk ku, aku baru sadar ternyata tempat ini sudah bukan lagi tempat yang hanya aku yang tahu.
"Iya ada orang, siapa ya? Ada perlu disini?"
"Nggak ada, kaki nya aja yang jalan sendiri kesini. Ternyata ada tempat sebagus ini disini"
"Oh"
Aku hanya ber oh saja, membalikan badan dan membelakangi orang itu. Terserah dia mau apa, sepertinya dia bukan orang jahat juga.
"Perempuan ngapain di tempat kayak gini sendiri?"
"Ngadem, kenapa nggak boleh?"
"Hehe santai dong, uhm kayak nya kemarin kita ketemu deh"
Aku mengernyit
"Kapan?"
"Semalam kamu nabrak aku waktu kamu mau keluar dari tempat ini"
"Eeh santai aja, bukan itu ko maksud aku"
Dia menjulurkan tangan nya sudah berdiri di sampingku saat ini.
"Namaku, Gilang"
Aku menyambut uluran tangannya, tak ada salahnya kan berkenalan dengan orang baru.
"April"
Setelah itu kami saling diam, duduk berdampingan menikmati malam yang tenang, dengan pemandangan yang indah.
Sejak saat itu, aku dan di gilang sering berbalas chat. Tak lama kami berdiam diri malam itu dia meminta no ku, tak ingin banyak tanya aku memberikan saja no ku tapi tak ku sangka Gilang akan begitu rajin men nge-chat ku.
Sudah hampir satu bulan lebih seperti nya sejak hari itu, dan kami tak pernah lagi bertemu, hanya berbalas pesan saja hampir setiap hari.
Awalnya aku biasa saja, tak ada pikiran aneh aneh namun semakin lama isi chat nya semakin sering dan pembicaraan kita selalu nyambung dan terasa hangat. Terkadang dia juga menyelipkan sedikit perhatian di dalamnya.
Bagiku hal kecil akan sangat berpengaruh, dan itu benar. Aku bukan wanita kuat meski segala masalah yang ada selalu tak pernah absen. Namun itu semua belum seberapa, masih ada banyak yang lebih dari aku. Meski begitu aku benar benar tersentuh oleh perilaku Gilang, dia memberikan sedikit perhatian yang bahkan ayah pun tak lagi bersikap demikian.
"Kalo setiap hari di perlakukan kayak gini, aku takut baper sendiri. Aku kan nggak tau maksud gilang apa bersikap kayak gini ke aku, kalo aku yang baper sendiri sakit hati nanti"
__ADS_1
Aku bicara sendiri memikirkan apa yang terjadi pada diriku, yang seolah belakangan ini berharap kepada gilang.
Ting
Satu pesan masuk, dan kalian tahu aku berharap itu chat dari gilang. Aku mengambil hp ku melihat notif yang masuk, dan benar saja gilang yang chat.
"Lagi apa? Udah lama nih nggak ketemu. Ketemu yu di tempat pertama kali kita ketemu"
Deg
Deg
Apa ini, jantung ku nggak karuan gini. Aku berusaha menetralkan perasaan ku terlebih dahulu. Dan aku membalasnya.
"Ya boleh, kemari saja"
Aku mengirimkan nya, tak lama dia membalas.
"Kemari saja? Emang kamu lagi di sana?"
Dia menanyakan keberadaan ku, memastikan. Karena ya memang sejak tadi aku disini, seperti biasa aku mampir setelah pulang kerja.
"Iya kenapa?"
"Astaga ya udah tunggu aku ya, aku kesana sekarang"
"Ok"
"Bagaimana ini, dia akan kemari"
Aku kebingungan sendiri setelah membaca chat terakhir nya, ah ya sudah lah toh kita nggak ada apa apa aku aja yang terlalu berlebihan. Aku berusaha menenangkan diriku.
Setengah jam aku menunggu, akhirnya Gilang datang.
"Haii, maaf ya lama nunggu"
"Eh hai, iya nggak apa apa. Udah dari tadi juga ko aku disini, biasa"
"Iya, aku tahu ko tapi kalo bisa jangan terlalu sering kesini sendiri. Bahaya tau gelap gini mana sepi, kalo ada orang jahat gimana?"
Eh?
"Maksudnya?"
Aduh, malah nanya hal yang udah pasti aku tau jawaban nya. Kenapa tiba tiba aku jadi kayak orang bego? Ok tenang april.
"Iya kalo mau kesini, ajak aku aja"
Lah, malah kesitu?
"O-oh iya boleh"
__ADS_1
Kami berbincang cukup lama, kami menikmati saat saat kami bertemu dan membicarakan banyak hal. Aku merasa nyaman bersama nya.
Aku harap ini bukan hanya sekedar perasaan ku saja, dan aku harapa gilang nggak berniat buat nyakitin aku dengan sikapnya yang seolah olah aku miliknya.