Aku Dan Diriku

Aku Dan Diriku
aku dan diriku 27


__ADS_3

Bab 27


Aku menunggu pesan berikut nya dari Gilang, aku benar benar sekali menunggu dengan hati yang disko.


Dengan emoticon tersenyum dan ada love love di sekitar nya, Gilang membalas.


(Alhamdulillah, syukurlah berarti April menerima Gilang. Aku senang, maaf yah aku menyatakan perasaan ku lewat WhatsApp seperti ini. Meski terkesan tak gentel tapi aku sungguh serius ko April)


Lagi lagi senyuman ku tak pudar pudar nya dari bibirku, malam ini setiap balasan dari Gilang telah menjadi bom cinta dalam hatiku.


Aku senang sangat sangat senang. Saking senangnya aku tak perduli lagi dengan segala masalah yang selalu aku hadapi.


Selama aku kenal dengan gilang, pikiran ku sedikit teralihkan dan perasaan ku menghangat setiap kali aku bersama Gilang ataupun menerima pesan dari nya.


Setiap hari sepulang kerja aku selalu berbalas pesan dengan nya, tentu saja Gilang duluan yang memulai percakapan.


Mulai dari (udah sampai?) Atau (masih di jalan?) Dan pesan awal itu yang mengantarkan ku juga Gilang terlibat dalam cerita cerita yang hangat.


Percakapan percakapan panjang yang menyenangkan. Menenangkan hati dan pikiran ku yang tak terfokuskan dengan masalah.


Sehingga aku merasa lebih baik, ketika aku bertukar pesan dengan Gilang aku tak lagi perduli dengan omongan orang rumah di luar kamar.


Meski mereka berteriak kepada ku agar aku tak berisik atau agar aku merubah diri. Aku tak lagi perduli, nyatanya diri kita memang akan berharga dan sempurna jika bersama dengan orang tepat.


Dan mungkin orang rumah bukan orang tepat karena dia yang selalu mengklaim aku sampah yang tak berguna. Bahkan jauh dari kata sempurna, meski setiap manusia tak akan mungkin ada yang sempurna.


Namun jika kita bersama orang yang tepat, mau sekarang apapun dirik kita. Kita tetaplah istimewa dimatanya.


(Iya Gilang, April percaya. Dan April akan tunggu. Kalo Gilang ada perasaan ragu sama April kita istihoroh aja selain meyakin kan hati kita, agar hati kita kita juga tenang)


(Iya aku setuju, aku juga nggak mau terburu buru mengakibatkan kegagalan. Aku nggak mau gagal dan salah pilih lagi pril)


Gilang memang pernah bilang, jika dirinya pernah gagal ketika akan menikah. Selain mungkin karena kondisi dan keuangan juga karena keluarga nya yang tak merespon keinginan untuk menikah kala itu.


Gilang juga pernah di selingkuhi bahkan di jadikan selingkuhan oleh yang lain nya. Pengalamannya jauh lebih banyak berkali kali lipat di banding dengan diriku.


Bahkan diriku tak punya pengalaman apapun tentang cinta, dan aku akui Gilang adalah cinta pertama ku. Dan akan menjadi cinta terakhir ku ketika kami sudah menikah.


Ah membayangkan kami menikah' membuat aku semakin terbang menggila.


Aku dan Gilang memang terpaut cukup jauh jika di usia kami di sandingkan. Namun fisiknya yang sangat menawan tak terlihat jika dirinya sudah sedikit berumur.


Aku yang masih berumur 20 tahun sedang kan Gilang 29 tahun, perbedaan tak menjadikan cinta kita tak tumbuh.

__ADS_1


Selain usaha Gilang yang membuat hati ku meleleh, cara nya bersikap pun membuatku yakin jika dirinya benar benar dapat menghormati wanita. Apalagi jika sudah menjadi wanitanya.


(Iya Gilang, masih ada waktu kita teguhkan hati dulu. Nanti baru kita bahas lagi)


Tak sedikitpun aku meragukan kesungguhan nya. Karena aku tau rasanya berharap dan takut di tolak, sama seperti aku yang takut terlalu berharap dan berakhir kosong.


Hanya dengan Gilang mau mengikuti saran ku saja aku yakin jika Gilang memang benar bersungguh sungguh.


Malam ini lebih larut dari biasanya, padahal besok kita masih harus beraktifitas. Tapi tak apa karena malam ini menjadi malam terhangat yang pernah aku rasakan selama aku bersama dengan Gilang.


Kami mengakhiri berbalas pesan di jam 01.23 setengah dua dini hari.


Tak terasa karena aku sangat sangat senang.


...


Baru tiga hari yang lalu aku di lamar, tapi aku tak memberi tahu siapapun. Biarlah hubungan yang sangat hangat dan menuju keseriusan ini aku dan Gilang dulu yang tahu.


Setelah kami menetapkan kesungguhan yang benar benar pasti dan mendapat jawaban dari Tuhan barulah aku akan memberitahu orang lain.


Tentu saja hal ini akan berurusan dengan orang tua ku dan orang tuanya. Walau bagaimana pun mereka adalah wali kami, dan kami harus melibatkan mereka dalam urusan yang sangat serius ini bukan?


Kemarin aku mendapat kabar yang tak kalah membahagiakan setelah acara lamaran Gilang tiga hari yang lalu.


Tak ku sangka aku akan kembali ke tempat masa kecil ku habiskan. Daerah yang sangat sangat di penuhi manusia manusia yang terus berkembang hingga daerah yang dulu lenggang kini sudah semakin sesak terlalu banyak penghuni.


Aku mengunjungi rumah Tia, dan rumah Tia tak jauh dari rumah lama ku dulu di saat aku masih tinggal dengan nenek.


Bedanya Tia di daerah atas dan tak akan terkena banjir sedangkan aku di bawah dan kerap kali banjir melanda jika musim hujan.


"Assalamualaikum"


Aku sampai di rumah Tia, Tia benar benar sudah menunggu ku sejak lama. Dia mencari ku kemana mana dan sangat frustasi karena tak kunjung menemukan ku.


Dan ketika tetangga nya yang membicarakan tentang diriku dan menghubungi ku Tia langsung meminta nomor ku dan kami bisa berkomunikasi juga bertemu hari ini.


"Waalaikumusalam, astaga April huhu hiks hiks"


Tia memang tak pernah berubah, dia langsung memeluk ku dan menangis. Melihat nya seperti itu tentu saja membuat ku sedih dan aku juga ikut menangis.


Kami berpelukan dan menangis bersama di depan rumah nya. Tia tau semua tentang aku, bagaimana tidak kami berteman sejak kami masih TK atau mungkin sebelum masuk TK.


Masuk SD yang sama bermain bersama di depan rumah ku dulu, karena Tia akan berada di rumah nenek nya jika orang tua Tia bekerja.

__ADS_1


Dan rumah nenek Tia berhadapan dengan rumah nenek ku, tentu saja itu semua memudahkan pertemanan kami.


Kami selalu bersama, tak pernah bertengkar meski kami masih sekecil dulu. Dan hingga kini pun kami tak pernah sekalipun bertengkar tentang hal apa pun.


Perteman kami yang lebih dari 17 belas tahun ini tak membuat kami lupa meski jarak memisahkan bahkan sempat tak berkabar.


Dulu sempat terlintas dipikiran ku apakah Tia sudah melupakan ku? Namun ternyata hingga saat ini pun Tia masih mengingat ku, merindukan ku bahkan mencari ku.


Bukan aku tak mencari Tia, namun dengan kondisi ku aku benar benar tak bisa kemana mana dengan bebas.


Untuk bisa kemari saja aku sengaja bolos kerja agar dapat memiliki banyak waktu.


Setelah acara menangis kami selesai aku dan Tia masuk kedalam rumah nya.. tanpa ba-bi-bu pun aku menceritakan segala nya. Segala yang sudah aku lalui hingga sampai saat ini.


Begitupun Tia, tapi aku bersyukur Tia hidup damai dan tenang tak seperti diriku. Tia hanya mengalami hidup susah tak punya teman di masa SMP nya.


Karena ada tetangga yang mengetahui pekerjaan orang tua Tia yang dulu, karena dulunya orang tua Tia bekerja di pengurusan limbah warga.


Dan tetangganya itu menyebarkan rumor rumah Tia yang bau, sehingga Tia di bully. Tia menangis saat itu katanya dan Tia ingin bersama dengan teman lama setianya. Yaitu aku.


Aku hanya tersenyum dan menangis mendengarkan nya bercerita. Tak beda jauh Tia pun menangis bersedih mendengar cerita ku, apalagi tentang keadaan ku dan di perlakukan seperti apa aku di rumah.


Aku dan Tia memang sedekat itu, kami akan bercerita dan menceritakan tentang apa saja karena tak mungkin kami menghina satu sama lain. Yang ada kami bersimpati dan akan saling membantu jika bantuan kami memang di butuhkan dalam pertemanan kami ini.


Bukan hanya Tia mamah Dewi mamah dari Tia pun ikut bersimpati, mendengarkan sstia cerita yang mengalir begitu saja.


Karena jika ku sudah bersama dengan orang yang membuatku nyaman, aku akan lebih mudah terbuka dan tak akan bisa menutupi sesuatu. Aku tidak bisa berbohong jika kepada orang yang membuatku nyaman. Karena sulit.


Tapi jika orang itu membuatku tertekan, maka akan banyak sekali kebohongan kebohongan uang ku lakukan. Dan hal itu yang setiap hari ku lakukan ketika berada di dalam rumah.


Meski semua sudah aku ceritakan tapi untuk Gilang yang melamar aku belum menceritakan nya, aksi hanya bicara tentang Gilang yang menyukai ku.


Itu dulu, karena sisanya akan bisa di lanjut dengan chat berbalas pesan. Kan kami sudhas memiliki kontak masing masing.


Dari pagi hingga sore menjelang tak terasa jika bersama orang orang yang menyenangkan, hari ini aku habiskan hari di rumah Tia dengan duduk santai tanpa beban dengan di temani cerita hidup yang di jalani.


Orang tua Tia bahkan menawarkan aku untuk tinggal bersama mereka disini, aku sangat sangat ingin. Namun apakah itu semua mungkin?


Selain aku masih memiliki wali sah orang tua kandungku sendiri yaitu ayah, aku tidak yakin bisa melakukan itu. Dan mamah Tia pun setuju.


Tak semudah itu jika ingin keluar dari lingkaran keluarga meski sudah tersakiti. Pasalnya hanya hati yang tersakiti, bukan fisik. Dan hati sesakit seberdsrah apapun tak akan ada yang bisa melihatnya. Sehingga sulit menjelaskan jika hanya dengan kata kata saja.


Keluarga Tia ini tak akan bingung lagi, karena mereka sudah tau semua konflik yang terjadi dalam kehidupan ku.

__ADS_1


Kan sudah ku bilang, kami memang sedekat itu. Bahkan aku sudah menganggap orang tua Tia adalah orang tua ku. Karena bahkan mereka lebih baik dari pada dia dan adikku di rumah, tentu saja ayah pun terlibat karena jika ayah tidak berpihak pada dia, dia akan murka semurka murka nya.


__ADS_2