
"wahh orang Bandung"
"Ehh mang aduh kamana wae ieu?"
Eh paman kemana aja ini?
"Ah sok ngabalikeun nanaon teh, sugan teh Aya saha motor na ada wawuh di hareo teh"
Ah suka membalikkan pertanyaan apa apa tuh, kirain ada siapa lihat motor di depan ko kayak kenal
"Haha sugan teh tos teu wawuh"
Haha kirain udah nggak kenal
"Maneh tah sok Tara balik teh poho ka lembur"
Kamu tuh suka nggak ingat pulang ke kampung halaman
Aku hanya melihat percakapan yang hangat itu, meski aku sedikit tau dan mengerti namun aku diam saja.
Aku terlahir campuran antara Sunda dan Jawa, karena itu kadang aku tak mengerti jika orang orang membicarakan sesuatu dengan bahasa Sunda.
Meski aku masih berdarah Sunda, tapi selama aku tinggal dengan nenek aku lebih banyak menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia.
Maka dari itu aku sedikit bodoh dan tak tahu tentang bahasa Sunda.
"Rek menta modal naon?"
Mau minta modal apa?
Gilang menunjuku lalu tersenyum senyum penuh arti pada seorang bapak yang ku dengar namanya agin.
"Jang kawin"
Buat nikah
"Hahahah"
Sedikit terkejut aku ketika tiba tiba mendengar tawa yang sangat lepas itu.
Setelah basa basi di rumah sandi. Ternyata rumah tadi rumah bibi ibunya sandi, bukan rumah nya gilang.
Kami sedang berjalan menyusuri jalan lurus tadi yang aku lewati, kami.. aku Gilang dan mang agin sedang menuju rumah orang tuanya Gilang.
"Assalamualaikum"
Tak terdengar jawaban tapi kami bertiga masuk setelah melepaskan sendal.
Ku lihat sebentar rumah nya yang dingin sedikit gelap dan sedikit kotor itu, namun ku akui rumahnya lebih besar dua kali lipat dari rumah nya sandi tadi.
__ADS_1
Mata ku masih melihat kedalam ketika hampir saja aku menabrak Gilang yang ada di depan ku karena Gilang berhenti berjalan.
Setelah ku lihat ternyata ada seorang bapak bapak di bawah yang sedang berjongkok entah sedang apa aku tak tahu.
Setelah Gilang menyalimi bapak bapak tadi kami bertiga duduk, aku tak sempat menyalimi bapak bapak tadi karena bapak bapak itu sudah pergi untuk duduk menyusul Gilang.
Yah, aku di acuhkan huhu. Meski begitu aku duduk dekat dengan Gilang.
Aku dan Gilang duduk di kursi dekat jendela, lalu bapak bapak tadi dan mang gin duduk di kursi dekat tembok.
Kulihat ada seorang wanita dengan pakaian lusuh tak terawat menghidangkan air putih bening, sedikit pengepul kan asap. Mungkin airnya panas atau hangat.
Dan aku juga melihat lelaki yang sama terlihat lusuh namun matanya yang bisa kulihat sedikit pun aku langsung tahu jika mata mata seperti itu adalah mata buaya, atau juga mata mata orang mesum.
Aku menunduk tak ingin melihat kemana mana apa lagi ke arah lelaki yang sedang menggendong anak kecil itu.
Mungkin jika aku rangkum wanita dengan pakaian lusuh itu adalah istri dari lelaki mata mesum itu.
Aku tak tau itu siapa, atau mungkin kakaknya Gilang? Ah entahlah kulihat sangat jauh di bandingkan dengan Gilang yang tinggi tegap dan masih ganteng tentunya.
Suasana yang canggung dan sedikit tegang ku rasakan ini membuat ku teringat dengan orang rumah di Bandung.
Suasana seperti ini tak asing bagiku, dan sering aku mengalaminya. Namun mengalami hal ini di rumah orang lain tentu saja membuatku lebih takut dari biasanya.
"Nya kitu we pak, ah sok kamana wae si bapak mah"
Ya begitu lah pa, suka kemana aja bapak ini
Aku bisa melihat Gilang dengab wajah yang merah padam, entah sedang menahan amarah atau sedang menyiapkan hati.
Aku tahu betul bagaimana sulit nya bicara padahal hanya mengutarakan apa yang di rasa dan yang ingin di sampaikan, namun jika suasana keadaan dan kondisi nya setegang ini sangat sulit mengontrol emosi.
"Jadi Aya naon Jang, tara tara maneh balik"
Jadi ada apa Jang, jarang jarang kamu pulang
"Nya biasa we Aya kahayang, mun weuh kahayang mah teuing"
Ya biasa aja ada kemauan, toh kalo nggak ada kemauan nggak tau
"Hayang kawin cenah wa si Ujang teh"
Ingin menikah katanya wa tuh si Ujang
"Ohh terus, kumaha"
Oh terus gimana
"Nya teu kukumaha, ieu teh Abi hayang geura ngahalalkeun kabogoh. Da kolot na ges ngabuburu si Abi can boga duit"
__ADS_1
Iya nggak gimana gimana, ini aku ingin segera menghalalkan pacarku. Karena orang tuanya sudah mendesak sedangkan aku belum ada uang
"Ohh nya kawin mah kari kawin we atuh, da lalaki mah modal kudu Aya wali nya teu?"
Ohh nikah tinggal nikah, toh lelaki nggak harus di dampingi wali
Aku masih merasakan suasana yang tegang ini. Ternyata di kampung halaman Gilang bahasa yang di pakai tak terlalu di buat pusing.
Entah itu kasar ataupun halus. Aku tak mengerti padahal Gilang sedang bicara dengan orang yang lebih tua, yang bisa ku tebak ia adalah ayah nya Gilang, namun meski begitu bicara dengan bahasa yang kasar tak membuatnya di marahi.
Atau mungkin emang sudah terbiasa aku tak tau, tapi jika di dengar lagi ayah nya Gilang pun sejak awal memang menggunakan bahasa yang kasar.
Di lihat dari tatapan nya yang tajam meski usia sudah tak lagi muda itu, mampu membuatku takut jika pandangan kami bertemu.
Aku lebih banyak diam menunduk mendengarkan percakapan yang serius itu, bahkan sesekali Gilang meninggikan beberapa oktav suaranya.
Jujur saja aku sangat khawatir, bagaimana jika Gilang berantem dengan orang tuanya sendiri.
Yang aku tahu Gilang membawa ku kesini agar aku bisa di perkenalkan kepada orang tuanya, untuk meyakinkan orang tua nya bahwa Gilang sudah ingin menikah.
Namun yang aku dengar tadi Gilang ternyata berniat meminta sedikit bantuan dari orang tuanya, mungkin dengan harapan agar mendapatkan bantuan dan juga restu sekaligus.
Aku beberapakali di tanya, seperti asalnya dari mana orang asli mana terus orang tuanya kerja apa.
Aku menjawab dengan sedikit gagu, karena selain kurang mengerti aku juga takut dengan tatapan tajam matanya itu.
Kembali aku menunduk. Hingga adzan dhuhur terdengar percakapan serius menegangkan itu selesai.
Ku lihat Gilang meluluh dengan bahu nya yang merosot lalu menghembuskan nafas nya berat, mengambil rokok di nyalakan nya lalu di hisap nya batang rokok itu.
Wajah nya sedikit lega, masih merah namun tak semerah tadi.
Dan mang agin pun sudah pulang, bersamaan dengan beranjak ya ayah Gilang dari kursi lalu mang agin yang ikut berpamitan.
Tinggallah aku dan Gilang di ruangan besar ini, Gilang menatap ku lalu tersenyum. Tatapan nya meredup seperti lelah dan juga lega bersamaan.
Aku tak tahu lagi percakapan mereka seperti apa, karena semakin lama aku semakin pusing dan tak mengerti.
Aku pun ikut tersenyum. Ingin rasanya aku mengelus rambut nya menenangkan. Namun aku tahu tempat dan malu jika melakukan itu.
Kami masih terdiam, hingga Gilang beranjak dan mengajakku dengan isyarat mata dan tangan yang melambai.
Kami berdua keluar dari rumah dingin itu, rumah yang menurut ku tak jauh berbeda dari rumah yang bukan jumlah bagiku di bandung.
Kini aku tau satu hal lagi yang membuat kami bisa mengerti satu sama lain.
Karena kami mengalami hal yang sama, maka dari itu kami mengerti perasaan satu sama lain. Mengerti keadaan satu sama lain. Mengerti keadaan satu sama lain.
Mengerti alasan dari sisi lain dari diri kami. Mengerti sikap kasar dan acuh dari sisi diri kami satu sama lain.
__ADS_1
Intinya, aku dan Gilang bukan hanya berusaha saling mengerti. Namun kami memang benar benar mengerti. Karena posisi dan keadaan kami sama. Sama sama tersakiti oleh keluarga sendiri dan tersisih.