
Maaf typo bertebaran tandai aja oke!
Happy reading๐ค
Hari ini aku, suamiku gilang, mamah dewi, dan tia tengah menunju rumah ku. Dengan mamah yang membelikan mie ayam di tempat kami makan.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumusalam, tuh dateng juga"
Pertama ku lihat ayah yang membukakan pintu, laku henda yang mengintip di belakang ayah. Kami berempat duduk di ruang tamu, ruangan yang sempat menimbulkan kericuhan karena banyaknya bicara dia.
"Nah kan akhirnya dateng juga"
Dengan senyuman dia menyapa kami, lebih tepatnya ke arah mamah dewi. Tanpa berbasa basi aku dan gilang segera ke kamar ku yang dulu.
"Tuh sok liat beresin, berantakan gitu. Liat aja mamah Tia berantakan gitu gimana saya nggak marah coba"
Aku sempat melihat mamah Tia hanya tersenyum menanggapi sebelum aku beranjak dan menuju kamar.
Ku lihat lemari yang ku buat menjadi sekat kasur ku dan pintu masuk sudah di pinggir, sejajar dengan tembok memperlihat secara langsung betapa berantakannya kamar ini.
Debu dimana mana, babtak yang sudah beejamur karena tak pernah di tempati. Siapa juga yanv mau di tempat sampah ini?
Kasur yang dingin dan penuh dengan debu, semakin lepek saja kasur ini. Lemari kayu ku yang sudah tak utuh karena tiga pintu sudah koyak terlepas dan di buang karena pernah aku tinju.
Tersisa hanya tiga lagi di bagian atas, dulu baju ku di simpan di situ dan di lemari plastik yang sah milikku karena memang aku beli sendiri dengan uangku.
Bunga plastik yang terbuat dari keresek semakin berdebu di bagian kelopaknya, bunga ini kenang kenang pemberian dari Tia.
Dulu sewaktu Tia mengejar ayahku dan dia yang berkunjung ke rumahh lama, dan Tia menitipkan ini kepada ayah.
Aku akan terus menyimpan nya. Ku masukan segala barang yang ku kira masih perlu, kedalam kemari plastik yang sudah kosong karena baju ku sudah berpindah tempat semua.
Bantal ku buang, begitupun kasur. Sebentar aku keluar rumahn untuk memanggil seseorang yang mau mengangkut barang barang yang sudah menjadi rongsok tak berguna.
Setelah berhasil membawa orang itu aku kembali ke kamar membersihkan sisa sisa, lihatlah ada samoah bekas permen dan juga ciki.
Itu bukan sampah milikku, aku ingat sekali jika terakhir aku menggunakan kamar ini aku tak membuang sampah, lagi pula aku sslalu membungkus sampah ku dengan kantung keresek. Siaoa lagi oelakunya kalo bukan Henda.
Tak ambil pusing aku masukan sampah sampah itu ke dalam kantung keresek yang ada babyak beberapa di kamarku ini, karena au memang selalu sedia untuk tempat sampah.
Lalu mengeluarkan bantal dan kasur, aku tak sendiri gilang membantuku. Sedangkan dia sibuk menggosipkan aku dengan mamah nya Tia, aku melewatinya beberapa kali karena memang jika ingin keluar rumah aku akan melewati ruang tamu.
Asik dengan ceritanya, bahkan aku melihat adegan dia menangis, entah menangis karena apa aku tak tahu. Yang jelas, dari pembahasan bicaranya sudah oasti dia membicarakan aku.
Aku tak ingin lebih melukai hati ku ini, aku tak melihat nya lagi dan fokus untuk membersihkan kamar yang suoer kotor ini.
Sesekali daoat ku lihat ayah mencuri curi pandang padaku, meski tak melihat nya dengan jelas jujur saja hati ku sakit melihat nya. Aku berdoa di dalam hati agar ayah selalu di beri kesehatan oleh allah, di lindungi selalu oleh allah.
__ADS_1
Ayah aku akan benar benar pergi jauh dan menghilang dari hidupmu, aku melihat sesekali ayah tersenyum padaku dan ku balas pula dengan senyuman.
Andai ayah tahu aku sangat merindukan kasih sayang ayah. Aku benar benar rindu dengan ayah yang selalu menunjukan kasih sayangnya padaku.
Aku membongkar ranjang kayu tempat ku tidur dengan gilang. Bukan hal sulit untukku, karena beberapa kali aku membongkar pasang ranjang kayu ini sendirian tanpa bantuan sekalipun aku bisa.
Setelah semua barang keluar, aku mengepel, gilang menunggu di luar sembari membereskan barang barang rongsok itu ke dalam gerobak yang akan di bawa oleh pa dede, tetangga ku yang menerima barang rongsok.
Aku tak menyapunya, karena jelas saja di larang akan ada debu dimana mana jika aku menyapu kamarku ini.
Bahkan aku mengepel nya berulang kali hingga benar benar bersih dan bebas dari debu, bahkan debu yang menempel sekalipun.
Setelah selesai, aku lihat ayah tersenyum padaku aku masih balas dengan senyum lali menunduk, aku duduk dekat dengan pintu. Di sebelahku ada dia, lalu ayah, lalu gilang bersandar pada tembok yang mana tembok itu tembok kamar ku, lalu tia, dan mamah dewi.
Sedikit aku terlibat dalam percakapan mereka tadi, tidak sih aku tak menjawab atau ikut bercerita, hanya mendengarkan saja dengan kepala yang ku tundukan.
Entah lah pikiran ku kemana yang jelas aku tak terlalu mengerti apa yang mereka bahas. Namun tiba tiba dia membrikan secarik kertas.
"Nih perjanjian, tanda tangan di situ biar sama sama kita enak"
Aku membaca kertas yang sudah ada tulis tangan di dalamnya, dengan tanda tangan dia juga materai sepuluh ribu.
Hah, astaga sebegininya dia terhadapku? Apa yang dia takutkan pada seorang anak bau kencur seperti ku ini, hingga harus ada perjanjian di atas materai?
Kulihat isi dari perjanjian itu, tersenyum aku melihat isinya. Bisa bisa nya dia berpikir seperti itu terhadapku, memangnya aku ini apa? Sedikitpun tak pernah aku berniat ingin memusuhinya tapi mungkin dia memang menganggap ku seperti musuh.
Hah, ada ada saja kelakuan nya ini di luar nalar. Ketika aku sedang membaca nya dengan tersenyum senyum sendiri membuat yang lain penasaran.
Akhirnya mamah Tia meminta kertas itu, membaca nya dan menegaskan alasan jika aku tak akan bisa menandatangani perjanjian ini.
"Ya bukan begitu, biar buat jaga jaga aja toh kalo nggak terjadi apapun sama keluarga saya, saya nggak akan menuntut april"
"Ya tetap dong bu nggak adil untuk april, masa april harus menanggung hukuman yang jelas tidak di perbuat oleh april?"
Aku lihat ayah dan dia hanya diam manggut manggut, namun dapat ku lihat raut kesal di wajah nya dia.
.merasa tak terima mungkin atau kesal karena aku tak langsung menyetujui perjanjian gila itu.
"April, mamah ingatkan yah jangan menandatangani surat perjanjian ini. Memang nya ini sudah di sepakati oleh keluar bu?"
Mamah Tia kembali bertanya kepada dia yang masih diam memperhatikan.
"Ya nggak belum, itu saya buat hanya untuk perjanjian saya dengan anak ini saja. Saya ingin hidup saya tenang kedepannya, tanpa harus takut di sakiti lagi oleh nya hiks"
"Iya saya mengerti, tapi tidak seharusnya april yang menanggung semua ini. Saya faham dengan perasaan ibu yang takut di sakiti, takut di kecewakan saya tau, tapi inj masalah lama yang entah ujung nya dimana. Dan masalah nya sekarang seperti bom yang akan meledak sehingga merembet kemana mana, dan april nggak seharusnya kena dampak bu dia belum tahu apa apa"
Sebentar lagi air mata ku luruh, badan ku sudah gemetar dan air mata berdesakan ingin keluar, dada ku sesak. Situasi macam apa ini? Kenapa tiba tiba semuanya tegang.
"Ya pokoknya saya nggak mau hak anak saya di ambil oleh april, gimana nasibnya nanti jika rumah ini di akui olehnya? Anak saya nggak punya apa apa dong, lagian april punya hak nya di rumah yang lama bersama dengan almarhumah ibunya dan ayahnya bukan rumah ini"
"Ok sekarang april, mamah tanya sama april. April mau harta rumah ini?"
"Nggak"
"April mau tergoda nggak sama rumah ini?"
__ADS_1
"Nggak"
"Tuhh jelas yah, saya saksi nya bu, anak saya Tia dan aa suaminya april saksi nya. April nggak akan ngambil rumah ibu, april nggak akan mau harta ibu"
"Iya, bukannya apa apa saya nggak mau kehidupan anak saya memprihatinkan kedepannya cukup saya saja yang di sakiti jangan anak saya"
"Iya, a gilang gimana tanggapannya a. Aa nggak akan mungkin ngerebut rumah ini kan?"
"Nggak! Saya pastikan april akan hidup dengan saya apa ada nya. Saya akan tanggung jawab. Tanggung segala kebutuhan april. Dan saya nggak akan biarin April kesini nyusahin orang tuanya, apalagi sampai minta minta"
"Nah bagus a begitu bagus sekali, sudah bu jelas yah. Surat perjanjian ini tak di perlukan, saya saksi dari anak anak ini. Kasian bu april nggak tau apa apa dia"
Ayah dan dia manggut manggut meng-iya kan, dan surat perjanjian itu di bawa oleh mamah Tia. Tak berselang lama kami berempat pamit, gerah rasanya berada di situasi seserius tadi.
"April, dengerin mamah. Pokoknya apapun yang terjadi siapapun yang mendesak april untuk tanda tangan di surat ini april jangan mau yah? Mamah mohon banget, kalo april sampai tanda tangan surat ini april bakal masuk penjara nak. Nanti kalo bapak april kecelakaan atau anggota keluarga nya sakit april yanh di salahin kan nggak masuk akal, yah jangan pernah mau pokoknya"
"Iya mah, nggak akan april tanda tangani."
"Iya pokoknya jangan ya, a jagain april yah. Kasihan harus di fitnah seperti itu, ibu macam apa dia itu. Mamah ngerti dia sakit hati trauma ngerti mamah sebagai perempuan, tapi membebankan semuanya ke april yang masih dua puluh tahun aja belum ya kasihan a. Ya mamah minta aa jaga april baik baik"
"Iya mah pasti itu, lagian nggak akan saya ijinin april kalo harus minta minta kesana. Lebih baik saya banting tulang dari pada harus minta kesana"
"Iya begitu, astagfirullah nggak kepikiran lho mamah sampe segitunya ya allah"
Kami sudah berada di kontrakan ku dan gilang, duduk meluruskan kaki sambil mendinginkan kepala.
Kejadian hari ini sungguh luar biasa, aku saja tak pernah menduga dia akan bertindak sejauh itu.
Mendapat pikiran dari mana dia menuliskan perjanjian seperti itu? Ku harap kedepannya aku akan hidup tenang tanpa ganguan.
Bahkan dari dulu keinginanku hanya hidup dengan haik, damai dan tenang. Tak pernah sedikitpun pun terlintas untuk balas dendam, apalagi sampai melakukan hal yang di luar batasan.
Pikiran seperti itu hanya di pikirkan oleh orang bodoh, dan aku tak sebodoh itu.
Ah Tuhan semoga aku bisa menunjukkan bahwa aku mampu dan bisa tanpa mereka, aku bisa bahagia dengan kemampuan ku sendiri, aku bisa bergelimang harta tanpa merebut hartnya dia, aku bisa sukses tanpa harus meminta modal kepadanya.
Tuhan, berkahi segala langkah ku, jadikan setiap langkah ku adalah langkah menuju kebenaran dan kesuksesan agar aku bisa menunjukkan pada nya dan pada dunia bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa harus menjatuhkan orang lain.
Aamiin aamiin ya robbal alamin.
Teman teman, gimana nih ektra part nya. Ini part terakhir ya, dengan ini Aku Dan Diriku benar benar selesai.
Gimana ending nya? Apa membuat kalian kecewa? Atau kalian masih bertanya tanya, kalian bisa komen ya.
Kalo ada yang masih kesel atau greget komen aja nanti aku jawab. Oh iya sesuai janji aku cerita sedikit asal usul cerita ini.
Sebenarnya ini cerita sungguhan, terjadi di dunia nyata yang aku bikin jadi sebuah novel Aku Dan Diriku. Sebenarnya aku bingung mau kasih judul nya apa, karena jujur aku sam a sekali nggak terlau ngerti.
Dan aku coba aja iseng iseng di bikin cerita, eh ko lumayan gitu bagus aku terusin deh sampe tamat.
Oh kalo kalian penasaran ini kisahnya siapa, jawabannya ini kisah nyata yang aku jalani. Meski yah sampe sekarang aku belum bisa buktiin kalo aku mampu, tapi jujur sampe saat ini aku belum pernah minta minta ke dia beneran bahkan hati ini aja masih trauma banget sama suara teriakan.
Sampai saat ini aku belum siap jika harus bertatap muka, kalo aku ke rumah waktu ngurusin surat surat pindah tuh, hati ini masih sesak dan sakit banget rasanya kayak kejerat sama sesuatu yang sama. Sesak sakit perih, nggak tau deh pokoknya perasaan itu susah di jelaskan dengan kata-kata.
Intinya aku mau pendapat kalian teman teman tentang cerita ini, aku mau kali jujur sejujur jujur nya tentang cerita ini. Ini cerita pertama aku, yang selalu ngikutin makasih banget tanpa kalian aku bukan apa apa.
__ADS_1
Inget yah, jangan lupa komen kasih pendapat kalian. Like nya juga sekalian sama subscribe, lop u buat kalian ๐๐๐ค