
Saat mereka sedang mencari kayu Rere pun tersesat dari regunya namun kali ini Julio masih berada di samping Rere, hingga Rere tak terlalu merasa takut, Julio tak sekalipun meninggalkan Rere.
-----
Malam pun tiba semua teman teman Rere sudah kembali ke tempat nya mendirikan tenda, namun Rere belum juga kembali.
"Baiklah semuanya toling berkumpul dulu" ucap pak Fikri sambil bertepuk tangan (sebagai aba aba untuk segera berkumpul). Semuanya pun berkumpul sesuai dengan regu mereka masing masing.
"Baik para ketua regu silahkan kalian mengecek anggota kalian untuk memastikan tidak ada yang tertinggal" sambung pak Fikri. Semua ketua regu pun mengecek anggotanya masing masing
"Loh Rere kemana?" tanya Deni selaku ketua Regu yang menyadari bahwa Rere tak ada di barisan anggotanya, sontak Anggi pun segera melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan Rere.
"Loh tadi Rere ikut sama kalian gak cari kayu bakar?" tanya pak Fikri pada Deni.
"Iya pak Rere ikut dengan saya mencari kayu bakar tadi" jawab Deni sembari mendekat pada pak Fikri.
"Jadi sekarang Rere dimana?" tanya pak Fikri pada Deni. Karna memang Ketua Regulah yang akan bertanggung jawab jika terjadi apa apa dengan anggotanya.
"Tadi kan pak, kita sempat berpencar buat nyari kayu bakar kayaknya itu deh pak Rere kesesat gitu" ungkap Risa
"Ya udah sekarang kalian silahkan menikmati makan malam yang sudah di sediakan, biar nanti saya sama pembina yang lain yang akan mencari Rere, smoga saja Rere tidak jauh tersesat dalam hutan" Pak Fikri pun memberitahukan pada pembina yang lain bahwa Rere tersesat, sedangkan siswa lainnya mengambil makanan mereka untuk mereka santap sebagai makan malam.
Sedangkan kini Rere tengah berada di Tengah tengah hutan, dia seperti masuk ke dimensi lainnya bersamaan dengan Julio.
"Re bukannya kita berada di hutan ya, kok disini kek permukiman warga si" tanya Julio heran yang melihat seperti sebuah desa walau penduduknya tak terlalu padat,
"Kayaknya kita udah keluar dari hutan deh, trus kita nyasar deh kesini" jelas Rere yang belum mengetahui keberadaan mereka bahwa mereka berada di tengah tengah hutan.
"tapi kok disini kayak pagi gitu ya" Julio yang masih memperhatikan sekitar desa.
__ADS_1
"Ya udah dari pada kita bingung mending kita tanya deh sama para warga" Rere pun menghampiri seorang wanita tua yang tengan menggendong anaknya.
"punten bu, mau tanya sekarang jam berapa ya ?" tanya Rere, sedangkan Wanita itu menatap Rere heran.
"oh saiki lagek ae jam wolu isuk ndok" jawab ibu dengan menggunakan bahasa jawa pada Rere dan Rere hanya menganggukkan kepalanya.
"Koe cah loro wae ndok, koncho koncho ndi to ndok, lek?" tanya ibu itu yang melihat Julio dan Rere.
"Hah ibu bisa lihat dia bu?" Tanya Rere heran dengan menunjuk julio yang berada di samping.
"Hehe iyo, oh ya koe kabeh seko ndi lek ogah salah koe kabeh duduke seko kene" tanya ibu itu pada Rere.
(Maaf ya kalau bahasa jawanya amburadul, wajar author bukan orang jawa)
"Re tadi kan pas di hutan itu udah hampir magrib, trus disini udah pagi, kamu gak ngerasa aneh gitu?" tanya Julio setengah berbisik pada Rere.
"Eh iya aku lupa, kok aku baru ngeh ya" kata Rere yang baru menyadari nya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Rere dan Julio pun melanjutkan perjalanan nya untuk mencari tahu dimana tempat mereka kini.
"Yo, jadi menurut kamu kita ada dimana sekarang?" tanya Rere pada Julio.
"aku juga gak tau kita dimana, tapi yang pasti sekarang kita cari jalan keluarnya dari daerah ini, agar kita bisa kembali di dunia nyata, dan gak terjebak disini" jawab Julio sambil mencari jalan keluarnya
***
Sedangkan kini pak Fikri serta bu Anggun tengah mencari Rere dengan 2 penjaga hutan yang memang sering menjaga hutan dari orang orang yang tidak bertanggung jawab.
"Maaf ni ya pak buk, kalau sampai subuh kita tidak menemukan Rere baiknya kita cari orang pinter aja, soalnya takut kalau dia kejebak di desa sunyi pak bu" kata salah satu penjaga hutan itu
__ADS_1
"Desa Sunyi pak? bukannya disini hutan pak" tanya Anggun heran.
"Iya bu, disini memang hutan, tapi maksud nya itu desa Sunyi karna desanya tak terlihat, selain orang yang berkemampuan khusus atau dia yang masuk dan tersesat disana itu yang bisa melihat desa itu pak" jelas pak karto yang menjaga hutan itu.
"Aduh gimana ini pak Fikri, sedangkan Rere dia bisa di bilang indigo lo pak ?" Bu Anggun gelisah dengan keadaan Rere saat ini, karna memang kini sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
"Ya sudah mumpung belum subuh mari kita lanjutkan perjalanan untuk mencari Rere, soalnya jika di sini malam disana pagi siang, dan jika disini pagi maka disana malam, jadi sebelum disini subuh mari kita segerakan untuk mencari" Ucap pak Karto, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka,
***
"Re kayak nya disini mau malam deh Re" ucap Julio yang memperhatikan matahari yang akan segera tenggelam.
"iya yo bentar lagi mau malem" Rere pun berhenti karna merasa sangat lelah setelah berjalan cukup lama.
"Umh Yo gwe capek ni dari tadi kita keliling muter muter cari jalan keluarnya tapi gak ketemu ketemu, lu bisa gak cari jalan keluarnya kan lo bisa ngilang tuh, nanti kalau udah ketemu lo kabarin gwe, gwe takut yoo" ucap Rere setelah berhenti di tempat yang sepi.
"Umh ya udah Re, lo tungguin gwe disini dan nanti kalau gwe udah ketemu jalan keluarnya gwe kabarin lo, inget lo jangan kemana mana" Julio pun menghilang dari hadapan Rere.
Matahari pun tenggelam kini Rere merasakan sangat lapar karna dia belum makan semenjak iya pergi mencari kayu bakar.
Saat malam tiba Rere melihat mereka berlalu lalang, ada yang matanya hilang satu, darah bercucuran, kepala yang terpisah dari badan, perut bolong hingga mengeluarkan bagian dalam perut, kuntilanak yang menggendong anaknya, wajah pocong yang ditempati puluhan ulat, kakek kakek yang bertubuh hangus hingga ulat ulat nya menggeliat ingin keluar dari kulit si kakek, bahkan ada seperti suster yang ngesot hingga kakinya berdarah. Rere yang sudah tak tahan pun menutup wajahnya dengan tangannya tak sanggup melihat mereka di hadapannya.
"Cu tolong pegang mata kakek cuu" kakek kakak menghampiri Rere dengan menyerahkan bola matanya pada Rere, Rere yang melihat itu pun teriak ketakutan.
Rere pun melihat ibu ibu yang menggendong anaknya tadi sedang memakan bangkai burung yang baunya sudah menyengat, terlihat jelas ulat ulat yang berada di dalam daging burung itu, yang di pastikan burung itu mati 2/3 hari yang lalu..
Bersambung......
ββββ
__ADS_1
Jangan lupa untuk mendukung author klik jempol, tinggalkan jejak kaluan di kolom komentar, berikan Rate5 serta vote karya author dengan poin atau koin seikhlasnya saja..
jika ada kesalahan kritik dan sarannya juga penting untuk author, sekian terimakasih sudah membacaππππ