
Aku mencoba menghilangkan memori trauma yang tersimpan dalam otak ku, namun trauma itu bukan nya hilang malah semakin bertambah..
Hingga enam bulan setelah kejadian penculikan itu, aku dan kedua orang tua ku mengalami kecelakaan maut yang sangat tragis.
Itulah faktor utama bertambahnya trauma ku.
Flashback sebelum kecelakaan orang tua rara !!
Sore itu kami berencana hendak pulang, setelah seharian kami puas bermain sepertinya ayahku mendapat beberapa kali telfon dari seseorang.
Aku mendengarnya cukup jelas, wajar saja karena nada dering handphone itu lumayan sangat keras..
Sampai-sampai ibu ku bertanya beberapa kali padanya ..
"Pah, kok gak di angkat sih telfon nya??" Tanya mamahku
"Gak apa-apa kok sayang, bukan hal penting .." jawab papah ku saat itu, ia mencoba menghiraukan panggilan telfon nya saat itu
Saat aku dan ibu ku hendak pergi ke toilet, aku melihat wajah ayahku yang sangat panik, tak biasanya mimik muka ayah seperti itu.
Aku hanya mengabaikannya saja, aku fikir itu bukan urusan ku karena aku masih anak-anak saat itu.
Aku begitu bahagia bisa jalan-jalan bersama kedua orangtua ku, jarang22 mereka bisa menyempatkan waktunya untuk menemani ku bermain.
Aku tahu ayah dan ibu ku sangat sibuk mengelola perusahaan kami, ayah yang merupakan orang ke 3 terkaya di indonesia sangat sibuk mengurus pekerjaan nya yang mengharuskannya bolak-balik ke luar negeri karena ia masih harus mengerjakan beberapa proyek di sanah.
Sedangkan ibu ku beliau begitu sibuk mengurus perusahaan di sini walaupun paman hadi sudah membantu meringankan pekerjaannya, namun tampaknya pekerjaanya begitu sibuk sampai-sampai aku harus di asuh oleh bi sri pembantu sekaligus perawat ku.
__ADS_1
Saat perjalanan pulang, ditengah jalan kami berhenti tepat di restauran karena rara (kecil) ingin sekali makan pizza.
"Paahh, berhenti dulu rara mau pizza yaa .. !!" Pintaku merengek manja
Orangtua ku sangat baik, mereka selalu menuruti semua kemauan ku mungkin karena aku anak sematawayang nya sehingga apa saja yang aku inginkan mereka selalu membelikannya.
Kami pun menyantap pizza itu di dalam restauran, namun lagi-lagi aku melihat wajah ayahku yang begitu berbeda saat itu.
Ia sesekali memainkan handphone putihnya kemudian ia taruh kembali di saku celananya.
"Kenapa paahh .. ??" Tanya mamahku, rupanya ia pun sadar dengan sikap papah saat itu
"Itu mah salah satu klien papah, dia gak terima kalau pekerjaannya papah batalin .. " jawab papah ku
"Loh kenapa bisa di cancel pah .. ??" Tanya mamah penasaran
"Mereka udah gak jujur sama papah, dikira papah itu bodoh, semua harga barang mereka naikin kalau kaya gitu bisa-bisa papah yang rugi .. " kata papah suaranya tampak bergebu-gebu, mungkin saat itu ia merasa kesal masalah pekerjaannya
"Aduuhh .. anak papah sayang, maafin yaa papah selalu gak punya waktu buat rara, papah sibuk terus di kantor .. " ia pun mengelus-elus rambutku dan mencium kening ku
"Iihhh ... apaan sih, lagian rara kan udah besar kalau di cium papah nanti di sangka rara pacarnya om22 .. hehe !!" Ucap rara dengan polos nya
" hahaha " kami pun tertawa bersama, ternyata itu adalah tawa terakhir orang tua ku yang aku dengar
Setelah kami merasa kenyang, kami pun bergegas pergi..
Di jalan kami menyempatkan untuk bernyanyi bersama, saat itu wajah ayah ku berubah menjadi panik, ia mencoba beberapa kali melirik kaca spion mobil ternyata ada mobil yang mengikuti kami saat itu..
__ADS_1
"Kenapa pah .. kok panik gitu ??" Tanya mamah penasaran
"Sepertinya ada seseorang mengikuti kita mah .. " jawab papah
Ia masih saja fokus dengan stir mobilnya, tiba-tiba mobil yang mengikuti kami melaju kencang tepat bersebelahan dengan mobil yang kami tumpangi, kaca mobil itu tampak gelap sehingga kami tak tahu siapa orang di balik mobil itu.
Mobil BRV hitam itu terus saja mengikuti kami, hingga memepet mobil yang kami tumpangi, ayah ku pun mencoba menaikan kecepatannya hingga tepat di lampu merah ia mencoba mengerem untuk berhenti, namun naas nya rem itu seketika blong hingga mobil yang di kendari kami menabrak salah satu mobil dan mengakibatkan tabrakan beruntun saat itu.
Setelah kejadian itu, trauma ku semakin bertambah parah aku selalu menangis dan berteriak-teriak hingga banyak tetangga ku menganggap aku gila.
Aku mungkin depresi saat itu, wajar saja usia ku masih sangat muda untuk menanggung kejadian itu, mungkin saat itu aku mengalami trauma yang berkepanjangan bisa di sebut post-traumatic stress disorder atau PTSD.
Paman hadi yang tak tega melihat keadaan ku saat itu membawa ku untuk segera berobat dan terapi, mungkin aku harus bertemu seorang pisikolog karena kata paman saat itu aku harus mencoba mengeluarkan semua isi hati ku pada dokter (mungkin bisa di bilang curhat ) hehehe ...
Sepertinya hanya paman yang bisa mengerti keadaan ku saat itu, hingga paman meminta ku untuk tinggal bersama nya agar ia bisa dengan mudah memantau keadaan ku.
Paman hadi begitu baiknya pada ku, ia begitu sangat menyayangi ku beliau pun sangat perhatian pada ku hingga aku sempat berfikir ..
"Apakah aku anak kandungnya"
Namun semua itu hanya perasaan ku saja yang berharap ingin memiliki sosok pengganti ayah bagiku.
Terkadang saat aku mengingat kejadian itu aku selalu mengunci diri di dalam kamar dan mencoba melukai diri sendiri..
Ternyata butuh waktu lima tahun untuk aku bisa menyembuhkan trauma ku saat itu, beruntungnya paman yang selalu menyemangati ku begitupun bu Juli dokter cantik yang selalu sabar menghadapi ku.
Tanpa mereka sepertinya aku takan bisa bersikap normal saat ini, saat ini aku sudah berubah menjadi sosok yang lebih kuat paman ku selalu mengajarkan ku untuk bersikap tangguh agar satu saat nanti saat aku kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi ku aku tak perlu meratapi nya.
__ADS_1
Karena menurut beliau "semua orang yang hidup pasti akan kembali padaNya, itu berlaku bukan pada orang yang meninggal saja tetapi mereka yang hidup pun bisa jadi akan mencoba meninggalkan kita entah dengan cara mengkhianati kita atau sebaliknya.
Hingga sampai saat ini, aku selalu mengingat akan pesan paman pada ku..