
Aku Johan Putra Chaniago, panggil saja Johan. Karena itu panggilanku sejak waktu kecil. Aku yakin dengan membaca namaku, kalian sudah tahu dari mana asalku. Ya, aku berasal dari Alahan Panjang, Sumatera Barat. Orang Minang asli pokoknya.
Nama ayahku, Samsul Bahri dan ibuku, Ida. Mereka jatuh cinta dan pacaran sejak SMA, hingga akhirnya berhenti pacaran untuk maju ke jenjang pernikahan. Aku adalah anak kesayangan mereka, sebab aku adalah anak tunggal. Kami tinggal di Kota Padang, tak terlalu jauh dari Alahan Panjang.
Orangtuaku pintar memasak, bukan hanya aku yang bilang, hampir semua orang yang mampir bilang begitu. Orangtuaku dulunya memiliki warung nasi padang, Ampera Nan Lamak. Sekarang? Sudah tidak lagi, sebab mereka sudah meninggal. Kecelakaan bus saat pergi ke Jakarta, melihat Pak Syahril, adik ayahku yang masuk rumah sakit.
Pak Syahril itu adik sekaligus saudara satu-satunya bagi ayahku, itulah sebabnya kalau terjadi sesuatu, ayah pasti langsung cepat tanggap.
Sejak saat itu, aku diasuh oleh Pak Syahril. Katanya, dia merasa bersalah padaku dan mendiang orangtuaku. Istri Pak Syahril, bu Ningsih sebetulnya keberatan. Karena, ekonomi mereka pas-pasan. Pak Syahril hanya bekerja sebagai guru SD, dan bu Ningsih hanya ibu rumah tangga.
Mereka punya tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Anak keduanya, Taufan sebaya denganku. Hanya saja, berbeda berat badan. Dia anak yang berisi, sementara aku tidak.
Selama tinggal dengan Pak Syahril dan bu Ningsih, kehidupanku lebih sederhana dibandingkan sebelumnya. Tapi, aku tak pernah menuntut, itulah mengapa Pak Syahril memanggilku "anak baik".
" Mas, apa gak sebaiknya kita gantian mengurus Johan?" terdengar suara bu Ningsih yang bercampur dengan suara TV yang sedang menyala. Aku langsung mengintip dari pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Gantian dengan siapa maksudmu?"
" Orang Minang kan Matrilineal, jadi dia lebih dekat dengan keluarga ibunya,"
"Bicara apa kamu? Keluarga ya keluarga, gak ada istilah dekat ke sini, dekat ke sana!" Pak Syahril sedikit membentak bu Ningsih. Aku jadi sedih, merasa menjadi beban keluarga ini.
"Bukan begitu, mas kan tahu keadaan ekonomi kita seperti apa, menghidupi tiga anak saja kurang." Bu Ningsih masih melanjutkan pembicaraannya.
__ADS_1
"Sudahlah, nanti dia dengar. Membuat hati anak yatim piatu sedih itu dosa, rejeki sudah ada yang ngatur! Orangtuanya meninggal karna ingin melihatku kan? Lagipula waktu mereka masih ada juga sering membantu keuangan kita," Bentak Pak Syahril, benar-benar mempertahankan ku.
Sejak mendengar perdebatan itu, aku kepikiran terus. Walau sebenarnya bu Ningsih tidak memperlihatkan sikap yang buruk padaku, wajahnya tetap ramah. Bu Ningsih bukan orang Minang.
Beberapa bulan setelah kejadian, Pak Syahril masuk rumah sakit lagi. Rupanya, adik ayahku ini menderita penyakit batu ginjal. Kami semua jadi sedih, apalagi bu Ningsih. Semua tabungan digunakan untuk biaya pengobatan.
Berminggu-minggu dirawat, Pak Syahril tak kunjung sembuh, malahan kondisinya semakin lemah. Hingga akhirnya, ayah kedua bagiku itu ikut menyusul ayah dan ibu ke Rumah Tuhan. Kami berduka, semua keluarga datang melayat.
Ada nenekku, ibu dari ayahku sekaligus juga ibu dari Pak Syahril. Nenek tinggal di kampungku, Alahan Panjang. Jadi, kami jarang bertemu. Nenek tinggal sendiri, tidak mau tinggal bersama anak-anaknya, takut merepotkan katanya.
Kalau kata ayahku, nenekku tidak mau jauh-jauh dari kakek. Kakekku sudah meninggal sebelum aku lahir, dan makamnya berada di kampung kami.
Nenek sangat sedih, dua anaknya kini telah pergi ikut sang ayah, kakekku.
"lah pai kaduonyo, tingga ambo. (keduanya sudah pergi, sekarang hanya tinggal aku)" Itulah ucapan nenekku setelah pemakaman anak keduanya.
Empat puluh hari setelah kematian Pak Syahril, nenek bilang dia akan pulang ke Alahan Panjang. Aku jadi makin sedih, karna selama di sini nenek adalah tempat berbagi cerita untukku. Nenek selalu menasehati untuk serius belajar, agar kelak aku bisa jadi orang yang sukses, terima kasih nek.
"Ningsih, rencananya amak mau pulang ke Alahan Panjang." Nenek berpamitan pada bu Ningsih. Ingin rasanya aku cegah, tapi pasti nenek jadi sedih.
"Kenapa gak menunggu sampai seratus harian saja mak? Ningsih kesepian, gak ada teman bercerita." Bu Ningsih terlihat menunduk dengan wajah yang sedih.
"Amak ndak bisa berlama-lama Ning, kan ada anak-anak yang menjaga dan menemani." Kata nenek.
__ADS_1
"Iya mak, biarlah ning belikan tiket bus untuk amak pulang," Kata bu Ningsih.
"Sebagai perempuan dan ibu rumah tangga, mak paham pasti setelah ini kondisi ekonomi akan sulit, walaupun begitu keadaannya, jangan biarkan anakmu putus sekolah. Pendidikan itu penting,"
"Iya mak, insha Allah."
"Kalau ada apa-apa, kabari lah mak di kampung. Beras banyak, hasil ladang pun ada." Ucap nenekku. Percakapan itu terus berlanjut.
"Mak, bukannya ning membeda-bedakan. Masalah Johan," Bu Ningsih berbicara pelan, mungkin agar tidak terdengar olehku.
"Iya ning, amak paham. Biarlah Johan ikut amak, biar ada teman amak di kampung."
Mendengar ucapan nenek, perasaanku jadi campur aduk. Aku senang sekaligus sedih. Senangnya, aku tidak jadi beban lagi. Sedihnya, apa aku tidak jadi beban buat nenek nantinya?
"Maaf ya mak, ning juga peduli sama Johan, takutnya di sini dia kekurangan. Orangtuanya dulu orang berada."
"Iya ning, amak paham. Uruslah kepindahan sekolahnya, biar ikut amak sekolah di kampung ayahnya." Kata nenek meyakini Bu Ningsih, kalau nenek tidak keberatan.
Benar, beberapa hari setelah itu surat pindah sekolahku keluar. Tiket juga sudah dibeli, dua tahun aku di sini. Mungkin, ranah minang adalah tempatku sesungguhnya. Berapa kalipun aku pergi, tetap saja balik ke sana.
Hari keberangkatan aku dan nenek pun tiba,
"Johan, jaga nenek ya. Kalau ada apa-apa kabari ibu," Bu Ningsih menangis memelukku.
__ADS_1
"Iya bu ning, makasih udah ngerawat Johan selama ini." Ucapku pada waktu itu.
"Nanti kalau ada waktu kita ketemu lagi ya, terserah mau Johan yang ke sini atau ibu yang ke kampung." Itulah ucapan bu Ningsih melepasku dan nenek pergi ke nagari dingin, Alahan Panjang.