
para tamu undangan sudah mulai berdatangan. diantara para tamu undangan mata Kay tertuju kepada bosnya, untung saja ia memakai hijab dan kaca mata sehingga bos congkak plus cabul itu tidak mengenalinya.
ternyata Joan adalah sahabat Aditya, mereka tiga serangkai, Joan, Aditya dan Yoga. Joan memperkenal kan kau kepada sahabatnya.
" Kay kenalkan ini Yoga dan Aditya, mereka sahabat ku dari bangku SMA"
"salam kebal semuanya, aku Kayrina Adiraja" Kayla memperkenalkan diri dengan nama adik sepupunya.
Joan yang bingung hanya terdiam saja, Kayla tersenyum dan menjentikkan jarinya didepan wajah Joan sambil berbisik "tolong bantu aku ".
Joan yang baru sadar tersenyun dan berkata " aku butuh penjelasan mu nanti".
" oke" Kay menyetujui nya...
"oh ya dit, Kay ini seorang disain grafis sekaligus penulis loh, siapa tau kalian bisa kerjasama" celetuk Azizah.
"sudah lama aku tidak menekuni pekerjaan disain interior ku zah, aku lebih tertarik dengan tulisan saat ini". jawab ku memotong pembicaraan Azizah.
" tapi kan ilmu nya masih nyantol Kay, belum ilang kan" canda Azizah...
"Alhamdulillah masih zah" jawab ku sambil tersenyum sinis,
ketika bersenda gurau tiba" mata Kay tertuju pada nampan seorang pelayan, Kayla berpamitan kepada Azizah, Joan, Yuda, dan Aditya.
"pelayan bisa saya lihat sapu tangan nya" tanya Kay kepada pelayan.
" ini nyonya, silahkan" pelayan tersebut memberikan sapu tangannya kepada Kay.
" dimana kau temukan benda ini" selidik Kay.
__ADS_1
" terjatuh didekat meja yang dekat vas bunga besar itu nyonya " jawab pelayan tersebut
" baiklah akan ku umumkan di meja informasi siapa tau ada yg memilikinya" kata Kay seraya membawa sarung tangan itu.
Kay harus menemui umi, karena hanya umi yang mengetahui ciri² fisik ayah nya.
Kay menghampiri umi yang duduk bersama keluarga besar Azizah.
"mi ada yang mau Kay tunjukin ke umi, umi bisa ikut dengan Kay" pinta Kay kepada umi.
" baiklah kay lebih baik kita cari tempat yang agak sepi biar lebih enak bicaranya disini bising" jawab umi.
akhirnya umi dan Kay keluar ball room didekat lift akhirnya Kay menunjukan sapu tangan nya.
"sama persis kan mi " tanya Kay.
"apakah ayah berada disini mi, atau anak keturunannya yang berada disini" tanya Kayla lagi.
"mungkin..." jawab umi sambil menghela nafasnya.
"Kay akan berikan ini ke meja informasi dan akan menunggu siapa yang mengambil sapu tangan ini..." kata kay kepada uminya.
"semangat sayang" jawab umi sambil membelai kepala Kay
kay kembali mengantar umi ke tempat semula dan menghampiri ke meja informasi.tak lama diserahkan meja informasi mengumumkan hal tentang sapu tangan tersebut.
Kay berdiri dipojok ruangan, sesekali matanya melirik meja informasi.
sementara Aditya yang sudah didalam lift menerima wa dari Yoga yang isinya mengabarkan kalau sapu tangannya terjatuh dan sekarang berada di meja informasi.
__ADS_1
Aditya pun meminta tolong kepada yoga untuk mengambilnya tapi yoga bilang kalau dia sudah berada dikamar hotel dengan teman wanitanya. akhirnya Aditya menyuruh petugas hotel untuk mengambilnya dan berpesan jika ada yang menanyakan milik siapa jawab saja punya tamu istimewa hotel in dan saya hanya disuruh mengambilnya dan dititipkan kepada resepsionis hotel.
dimeja informasi petugas hotel yang disuruh Aditya baru akan mengambilnya ketika Kay menghampirinya.
"maaf , apakah bapak pemilik sapu tangan ini" tanya Kay.
" bukan nyoya tapi ini milik salah satu tamu istimewa hotel ini dan kami tidak bisa memberitahukan identitasnya" jawab petugas hotel dengan tegas.
" baiknlah kalau begitu, maaf mengganggu" Kay mempersilahkan petugas hotel itu membawa sapu tangan itu.
"heemmm, rupanya ayah ku bukan dari kalangan orag biasa" gumam Kay.
tapi siapa...
kenapa orang ini begitu sulit dijangkau.
hampir saya Kay mengetahui pemilik sapu tangan ini tapi lepas begitu saja.
acara resepsi selesai pukul 11 malam KAMMI semua kembali ke kamar hotel.
pagi harinya kami semua sarapan bersama di restoran hotel. jam 9 Azizah dan Joan sudah berangkat ke bandara untuk melakukan trip bulan madu keliling benua Amerika. aku umi dan BI Kokom kembali ke rumah papi.
jam 9 malam mobil travel yang menjemput akan datang umi dan bi Kokom merapihkan bawaannya. sambil beberes aku mencoba menanyakannya ke umi, apakah bersedia tinggal di Jakarta bersama ku atau menetap di kampung
umi menjawab "lihat nanti saja kay, kasihan anak² yang sedang giat²nya mengaji".
"baik mi, kalau begitu jangan tinggalkan murid² umi kasian" jawab ku
jam 9 malam travel yang men jemput umi dan BI Koko datang dan tinggal lah aku papi Fatimah dan bibi dirumah ini
__ADS_1