Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang
3. Sekolah Baru


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertamaku ke sekolah, untungnya tetanggaku Kepala Sekolah SD.


Aku bersiap-siap, memakai seragam dan sepatu. Seragamnya masih berlambangkan sekolah ku di Jakarta.


"Nek, udah siap" Kataku.


"Wah, cucu nenek udah gagah." Kata nenek, memujiku.


Nenek tak ikut, harus ke ladang katanya. Jadi, aku hanya pergi dengan tetanggaku, Pak Imam. Pakai motor, jadi tidak pergi dengan Robi.


"Robi, aku perginya sama Pak Imam." Kataku ke Robi, dia lagi bersiap-siap dengan sepedanya.


"Pulang saja barengan," Kata Robi.


"Aku gak punya sepeda," Kataku.


Robi menepuk kursi belakang sepedanya, aku tersenyum. "Oke!"


Setelah sampai di sekolah baruku, aku diperkenalkan sebagai keponakan Pak Imam. Semua anak melihatku, lalu berbisik-bisik.


Aku memperkenalkan diri di depan kelas, lalu duduk di sebelah anak perempuan, kalau tidak salah namanya Putri, panggilannya puput.


Puput katanya juara satu di kelas, bu guru berharap aku bisa diajarkan pelajaran di hari sebelum aku masuk.


"Putri," Puput mengulurkan tangan, ingin salaman.


"Johan," Aku jabat tangannya, kami salaman.


"Ciyeeeee...." Semua anak di kelas menggoda kami, Robi juga.


Padahal baru kelas 5 SD, ada-ada saja. Putri melihat mereka dengan muka ketus, lucu juga.


Pelajaran pertamaku Matematika, pelajaran kesukaanku.


"Kamu ngerti?" Putri nanya, aku ngangguk.


"Aku nggak suka matematika," katanya.


"Biar aku ajarin," Kataku.


"Iya,"


Putri memperhatikan saat aku menjelaskan materi, kalau tidak salah mengenai bangun ruang.


"Kamu pintar," Katanya tiba-tiba.


"Makasih," Katanya lagi.


"Iya," Kujawab.


Menurutku dia juga pintar, sekali diajarkan langsung paham. Kalau aku memang suka mengulang pelajaran sebelum tidur.


Saat jam istirahat tiba, aku pergi jajan, Robi juga. Kami membeli jajanan telur gulung.


"Putri itu banyak yang naksir," Kata Robi tiba-tiba.


"Kan masih SD," Kujawab.


"Emangnya anak SD gak boleh suka-sukaan?" Katanya lagi.


"Boleh, tapi belum pantas." Kataku.


"Awas, nanti kamu ikutan" Robi bilang.


"Ikutan apa?"


"Ikutan naksir," Katanya.


"Enggak," Jawabku meyakinkan.

__ADS_1


Hari pertamaku sekolah lumayan menyenangkan, semua anak-anak di sini sangat ramah. Mereka berbicara Bahasa Indonesia padaku, walau sedikit lucu karna logatnya. Tapi aku hargai, sudah kubilang aku bisa bahasa minang karna dulu tinggal di Padang.


"Johan, ayo!" Kata Robi memanggil.


"Iya," Kujawab dia.


Kami sudah janjian mau pulang bersama naik sepeda.


"Johan!" Ada suara perempuan memanggilku, kutoleh dia.


"Oh, Putri. Kenapa?" Kutanya.


"Aku dapat 95, makasih ya." Katanya sambil melihatkan hasil tugas matematika tadi.


"Oh, iya sama-sama." Kujawab.


"Kalau boleh nanti ajari aku lagi, rumahmu di mana?" Tanya putri lagi.


"Depan rumahnya Robi, gak tau nama kampungnya." Kujawab.


"Oh iya aku tau, boleh ya?"


"Boleh apa?"


"Ajarin lagi, kalau ada yang susah." Dia meminta.


"Oke boleh, aku pulang dulu. Kasian Robi kepanasan nunggu." Aku pamit.


Aku pulang dengan Robi, dia yang bawa sepeda aku jadi penumpang. Semoga bannya tidak kempes.


"Kayaknya aku salah," Kata Robi diperjalanan.


"Matematika?" Tanyaku.


"Bukan," Dia jawab.


"Putri," Jawabnya singkat.


"Kenapa lagi si Putri?"


"Bukan kamu yang bakalan naksir, tapi dia yang naksir kamu." Katanya sambil terus mengayuh sepeda.


"Kamu cemburu?" Gurauku.


"Ngapain, aku nggak suka!" Tegasnya.


"Hahaha, iya udah." Aku yakin, dia salah satu dari sekian murid yang naksir Putri.


Sekitar lima belas menit bersepeda, kami sampai di rumah. Aku berterima kasih pada Robi, sudah mau menumpangiku dengan sepeda miliknya. Kami pulang ke rumah masing-masing.


"Assalamualaikum, nek" Kataku sebelum masuk rumah.


"Waalaikumsalam, pulang sama Robi?" Tanya nenek.


"Iya, nek."Jawabku.


"Itu di dapur liat, ada sepeda nenek beli."


Aku kaget, langsung berlari melihat ke dapur. Nenek membelikan aku sepeda warna hitam, keren juga seleranya.


"Nenek yang beli?" Tanyaku.


"Iya, kasian kalau kamu numpang terus sama Robi" Kata nenek.


"Iya, tapi memangnya nenek ada uang?"


"Ada, warisan ayah kamu itu untuk keperluan sekolahmu sampai besar nanti. Untuk makan, kita punya hasil ladang." Jawab nenekku.


"Makasih, nek." Aku peluk nenek, nenek membalas pelukanku.

__ADS_1


Setelah itu, aku mengganti baju dan menunaikan ibadah sholat. Terus langsung makan siang.


"Gimana sekolahnya?" Tanya nenek saat aku sedang makan.


"Seru, cuma kalau pulang panas." Jawabku.


"Iya, terik. Apalagi di ladang," Kata nenek.


Benar juga, bukan hanya aku yang kepanasan, nenekku juga melawan panasnya matahari saat berladang. Aku langsung diam.


"Johan!" Suara Robi memanggil.


"Masuklah, Robi" Jawab nenekku. Robi masuk ke rumahku, dengan seragam yang sudah diganti.


"Kamu ini, kalau sebelum masuk harus baca salam." Kataku pada Robi.


"Hehehe, iya." Jawabnya


"makanlah samo Johan," Ajak nenek.


"Ndak nek, alah sudah. Nak ajak Johan main ka danau.(Tidak usah nek, udah siap. mau ajak Johan main ke danau)" Kata Robi.


"Oh, iyolah. Jan babaso yo,( Iyaudah, jangan malu-malu)" Kata nenek


"Iyo," Kata Robi


.


"Danau mana,? Aku tanya Robi.


"Danau kembar, pemandangannya bagus. Banyak yang main di sana" Jelasnya.


"Oh, iya aku ikut."


"Pakailah sepedaku nanti," Timpalnya.


"Aku udah punya, nenek yang beliin" Kataku.


"Wah,"


Setelah selesai makan, aku dan Robi pamit pada nenek untuk bermain sepeda di dekat danau.


Benar, pemandangannya bagus dan indah. Aku dulu di ajak ke sini oleh ayah dan ibu, tempatnya masih tak berubah.


"Dulu, ayah dan ibuku sering mengajak ke sini kalau pulang kampung." Kataku pada Robi.


"Iyakah? Aku pikir kamu gak tau." Katanya.


"Taulah, tempat main ayahku dan ibuku waktu pacaran juga." Gurauku.


"Nanti, kalau kita udah besar. Pacaranlah di sini," Kata Robi yang membuatku tertawa.


"Hahaha, kamu ini otaknya pacaran terus!"


Ucapku.


"Masa depan yang pasti kan," Katanya.


"Kita masih kecil," Kataku.


"Nanti kita akan jadi besar," Timpalnya.


"Belum tentu,"


"Aku yakin," Ucapnya santai.


Robi menjadi teman karibku, ke mana-mana selalu berdua. Bahkan, Bahasa Indonesianya sudah terdengar fasih. Dia orang yang lucu, tapi tidak suka belajar. Mamanya sering memintaku untuk mengajarkan Robi tentang materi pelaran.


Cita-citanya menjadi orang yang sukses. Aku doakan, semoga kamu sukses Robi. Amiin!

__ADS_1


__ADS_2