
Aku dan nenek masuk ke dalam bus, banyak orang di dalamnya. Aku duduk di kursi nomor 5, dekat jendela dan nenek kursi nomor 6, di sebelahku.
Dari jendela, aku bisa lihat bu Ningsih dan ketiga anaknya, Arif, Taufan dan Rahma. Mereka melambaikan tangan, aku juga.
"Sedih ya Johan?" Nenek bertanya padaku.
"Iya, nek." Jawabku polos.
"Kalau ada kesempatan, kita ke Jakarta lagi mengunjungi mereka." Aku membalasnya dengan anggukan kecil, lalu menunduk.
Bus yang kami naiki sudah beranjak meninggalkan Ibu Kota, Jakarta. Semua orang tenang memperhatikan jalanan sekitar, lagu yang diputar juga lagu minang. Aku rasanya seperti sudah dekat dengan kampung.
Butuh waktu tiga hari, dua malam bagi kami agar sampai ke Kota Padang. Setelah itu, kami naik travel menuju Alahan Panjang, sekitar tiga atau empat jam dari Padang. Aku lemas, mabuk darat.
"Johan, sudah sampai." Suara nenek membangunkan aku dari tidur. Syukurlah, aku tidak merasakan mabuk lagi.
Segera kubawa barang-barang milikku yang tersusun di dalam koper, kalau tidak salah ada tiga koper milikku. Nenek hanya membawa satu tas sandang ukuran menengah.
Nagari ini tidak berubah, masih sama seperti tahun-tahun lalu. Udaranya segar, banyak pepohonan dan tidak ada gedung tinggi.
Aku terdiam melihat sekitar, sampai aku sadar bahwa nenek sudah masuk duluan ke rumah.
Rumahnya juga tidak berubah, kata ayah lagi nenek tidak mau merubahnya selagi dia masih ada. Ya, kenangan bersama kakekku sangat berarti baginya, sungguh romantis.
"Mulai sekarang Johan tinggal di sini ya, tapi tidak ada pusat perbelanjaan di sini." Gurau nenek.
"Hehehe, iya nek." Jawabku seadanya.
Aku lelah setelah sekian lama di perjalanan, segera mandi dan langsung beristirahat. Sementara nenek tidak merasa lelah, ia memasak di dapur dengan tungku. Usia nenekku saat itu 60 tahun, ia menikah di usia 16 tahun.
Berbeda dengan di Kota, di Alahan Panjang sangat tenang. Aku tak butuh waktu lama untuk masuk ke dunia mimpi, dua menit mungkin.
"Johan, sudah adzan maghrib. Johan mau ikut nenek ke masjid?" Suara nenekku yang sedang berdiri di depan pintu kamar, membangunkanku.
__ADS_1
Aku langsung bangun dan mengiyakan ajakan nenek. Mengambil air wudhu dan mengganti pakaian untuk sholat. Masjidnya hanya berjarak lima buah rumah dari rumah nenek. Banyak orang memenuhi jalanan dengan pakaian muslimnya, anak-anak, ibu-ibu, maupun bapak-bapak semuanya ikut ke masjid.
"Kalau di kampung, begini." Kata nenek.
"Iya nek," kataku.
"Iko si Johan mak? (Ini Johan ya nek?)" Salah seorang penduduk desa ini bertanya pada nenekku.
"iyo, inyo ka basakolah di siko, (iya, dia bakalan sekolah di sini)" Jawab nenek.
"Oh rancaklah tu, buliah pai samo anak awak, Robi. (Oh bagus kalau begitu, bisa pergi dengan anak saya, Robi.)" Aku hanya tersenyum pada ibu itu, dia juga.
Selesai sholat, para orang dewasa beranjak pulang, kecuali anak-anak. Mereka mengaji selepas maghrib sampai dengan waktu isya,
"Johan, mau mengaji?" Tanya nenekku.
"Iya, biar nanti pulangnya sama Robi," Ibu Robi menambahkan.
"Boleh, nek." Aku setuju, sebab rumahku juga tidak terlalu jauh dari masjid.
"Iko Johan, inyo baru pindah dari Jakarta, ka mangaji pulo di siko. Pulangnyo samo Johan yo, (Ini Johan, dia baru pindah dari Jakarta, mau mengaji juga di sini. Nanti pulangnya sama Johan ya)" Kata ibu Robi.
"Yo, ma" Robi setuju.
Nenekku dan mama Robi beranjak pulang. Tinggal aku, robi dan anak-anak lainnya.
"Kamu dari Jakarta ya?" Tanya Robi dengan logat minangnya sangat kental.
"Iyo, bahaso minang sajo. Johan bisa kok," Balasku.
"Eh, lebih baguslah Bahasa Indonesia. Biar lancar," Kata Robi.
"Yaudah," Aku jawab.
__ADS_1
Robi dan aku akhirnya berteman, katanya dia mau memperlancar bahasa Indonesianya. Dia sebaya denganku, sebaya juga dengan Taufan. Oh, aku jadi rindu Taufan. Setiap malam dia selalu bilang ingin kurus, tapi makannya jalan terus.
Aku mulai mengaji, katanya di sini akan ada tes mengaji kalau mau masuk SMP. Aku masih Iqra', yang lain sudah membaca Al-qur'an, suaranya bagus-bagus.
Kalau aku masih belum bagus, masih malu-malu.
Kegiatan mengaji hanya sampai adzan isya, lalu kami diwajibkan untuk sholat isya berjamaah, terus pulang. Hari sabtu dan minggu kami libur mengaji, tetapi tetap ke masjid untuk gotong royong.
Aku pulang bersama Robi dan teman-teman yang lain, mereka semua ikut berbahasa Indonesia, cukup lucu mendengarnya.
"Johan, aku masuk ke rumah dulu," Kata robi.
"Iya," Kataku.
Pantas saja ibunya Robi selalu bilang untuk pergi dan pulang dengan Robi, rumah mereka tepat di depan rumah nenekku.
Robi anaknya lucu, badannya lebih kecil dariku dan rambutnya beridiri tegak karena minyak rambut. Kalau aku, biasa saja, dibelah ke samping tanpa minyak rambut.
"Assalamualaikum," Kuberi salam saat akan masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumussalam," Jawab nenek.
"Johan pulang dengan Robi." Kataku sambil mengulurkan tangan.
"Baguslah, Robi anaknya baik dan jujur" Nenek menjawab uluran tanganku.
"Besok kita ke sekolah ya, Pak Imam, tetangga kita ini kepala sekolah SD" Sambung nenek.
"Sama Robi?" Tanyaku.
"Iya," Jawab nenek. Nenek lalu tersenyum, aku juga.
Setelah mengganti pakaian, aku langsung makan dan setelah itu tidur. Masakan nenek tak kalah enak dari ayah. Kabarnya nenek dulu juga punya usaha rumah makan, tapi berhenti karena kakek sakit.
__ADS_1
"Abis makan, tunggu beberapa waktu dulu. Baru tidur," Kata nenek, aku mengangguk pertanda mengerti.