
Kini anak anak disibukan dengan pembelajaran virtual. Karena itu, Sari yang tidak memiliki HP, dihadiahkan oleh Bim, Hp untuk pembelajaran, sehingga Sari kini tak perlu repot repot lagi meminjam hp ayahnya yang digunakan untuk tugas, karena sengaja dibelikan oleh Bim, untuk melaporkan pada Bim sebagai majikannya, sesuatu hal yang penting penting yang terjadi di Villa.
Pernah suatu kali ada maling yang ingin mengambil burung cucok rowo untung Mang Ujang dan satpam komplek memergoki, sehingga burung tak sempat di curi. Kejadian itu langsung di laporkan pada Bim sebagai majikannya dengan Vidio call sehingga langsung Bim tahu.
Karena itu Bim tidak ingin kerja Mang Ujang tidak fokus, begitu juga Sari yang butuh hp untuk sekolahnya, Bim tidak mau Sari sekolahnya terganggu karena tidak memiliki hp.
"Sari yang sedang kosentrasi melakukan pelajaran lewat WA grup sedang Ridwan yang sudah menggunakan meeting zoom menggunakan lap top. Begitu juga Debi yang juga belajar lewat WA grup.
Sementara Muti dan Enggar hanya memperhatikan kesibukan yang lain dan mereka juga akhirnya sibuk bermain game. Karena Enggar dan Muti tidak melakukan virtual class.
Melihat Enggar dan Muti bermain game, Nana khawatir menjadi sebuah kebiasaan, akhirnya Nana mencari cara agar kedua anak itu bisa melakukan aktifitas yang kreatif tanpa merasa dipaksakan.
Nana mengambil kanvas lukis dan peralatan lukis lainnya ke gajebo. Nana meminta tolong Enggar dan Muti untuk menjadi obyek lukisannya. Mereka sangat senang dan Nana melarang mereka membawa hp, Enggar di suruh membawa bola, sementara Muti di suruh membawa bola.
__ADS_1
Cukup memakan waktu lama, tapi mereka begitu menikmatinya. Nana yang memiliki bakat melukis dari kecil, baru memulai menuangkan kemampuannya sekarang, setelah ia mampu membeli peralatan lukisnya.
Dulu Nana hanya bisa melukis di kertas gambar hanya dengan pinsil. Kini ia bisa menuangkan kuas ke kanvas dengan cat minyak yang dibelinya kemarin. Nana yang multi talenta, baru kini tersalurkan bakatnya.
"Mah, bagus bener gambarnya," puji Muti setelah melihat hasilnya.
"Aku diajarkan ya mah," pinta Muti.
"Enggar mau diajarkan mama juga?" tanya Nana. Enggar menggeleng.
"Aku sukanya dram."
"Oke, nanti mamah minta papa untuk membelikannya untuk Enggar ya," janji Nana.
__ADS_1
"Iya mah,asik," sorak nya senang.
Lusa dram itu telah diletakan di sebuah kamar di atas yang jarang digunakan. Kini fungsi ruang itu telah di ubah menjadi ruang musik dadakan. Bukan hanya dram, tapi semua peralatan musik ada di sana.
Enggar memegang stik seakan sudah ahli. Gebukan pada dram pun tidak fals. Bim terpaku melihat anaknya punya bakat yang baru diketahuinya.
"Besok papa bawakan guru untuk mengajarkan Enggar memainkan dram ya," usul Bim pada anaknya.
"Boleh pa, Enggar suka itu."
Bim langsung menelpon anak buahnya untuk mencarikan Enggar guru dram yang punya kualitas. Anak buahnya pun menjanjikan besok akan hadir guru dram yang rumahnya tidak jauh dari villa kediaman Bim.
Enggar dibiarkan dulu bermain dram, sang guru ingin melihat apakah sang anak berbakat, ternyata dari memegang stik dram, sampai memukul dram yang tidak sumbang, membuat sang guru tahu jika anak yang akan menjadi muridnya ini memang memiliki bakat yang istimewa.
__ADS_1
Baru saja diajarkan, Enggar langsung bisa menurunkannya dengan sempurna membuat semua yang mendengar berdecak kagum. Semua memastikan jika Enggar suatu saat akan menjadi salah satu pemain dram yang handal di Indonesia.