
"Papa datang.... DE,," Muti teriak lantang memberi tahu adiknya yang sedang diatas menonton TV dengan yang lain.
Bukan hanya Enggar, semua turun kebawah mendengar teriakan Muti.
"Sehat Om," sambil mencium tangan Bim, Ridwan menanyakan kabar Bim.
"Sehat. Kamu tambah gemuk WAN," timpal Bim.
"Naik 2 kg Om."
" tidak pernah olah raga pasti." Ridwan hanya terkekeh dan berlalu dari situ, karena yang lain sudah antri untuk cium tangan.
" Ini juga tambah gemuk anak papa." Sambil Enggar di bopong.
" Mamah Nana bikinin makanan kesukaan Enggar terus pa, jadi Enggar doyan makan deh."
__ADS_1
"Oh itu rahasianya ya, kalau gitu, papa bakal naik berat badannya nih kalau di masakan mamah Nana terus." Semua terkekeh melihat gaya Bim yang sengaja di lucu lucu kan.
"Papa beli makanan kesukaan Enggar, tapi semua kebagian nih," Sambil menunjukan pizza yang ada di meja makan.
"Asik, kita serbu," usul Ridwan.
"ET, tunggu dulu, jangan main serbu, jangan di biasakan begitu, duduk semua di meja makan yang tertib, baru kebagian pizza nya," sanggah Nana. Anak anak mengikuti instruksi Nana, mereka berusaha tertib di atas meja.
Nana berusaha membuat anak anak punya karakter yang baik, ia ingin semua anak tidak saling serakah berebut makanan, karena itu, Ridwan yang paling besar, di suruh Nana untuk membagikan dengan tertib sepotong sepotong pizza yang dibeli.
Ternyata baru sepotong dimakan, mereka sudah merasa kekenyangan, sehingga tak ada satupun yang ingin nambah. Karena baru saja mereka makan malam, sehingga perut mereka telah terisi penuh. Akhirnya sisa pizza di letakan di kulkas.
Pagi ini, Nana menyuruh Bi Cicih memanasi pizza di microwave. Semalam ketika di tanya, tak ada yang mau lagi, karena itu sisa pizza akan di beri pada pengemis dan orang orang yang mau menerimanya di jalan.
Bukan hanya pizza, Nana juga menyelipkan uang Rp 50.000 pada siapapun yang mau menerimanya. Kebiasaan ini sudah Nana lakukan ketika di awal Bim menyuruhnya untuk memegang ATM.
__ADS_1
Melihat jumlah uang di ATM yang begitu banyak, sejak itulah ia tiap minggu menyantuni orang yang tak mampu yang ada di pinggir jalan. Tentu atas seijin yang punya. Bim sangat mendukung usul Nana kala itu, sehingga Nana kini bisa leluasa menggunakannya.
Sebetulnya ATM itu diberi oleh Bim selain untuk kebutuhan sehari hari, juga untuk keperluan make up Nana juga baju baju Nana, tapi karena Nana tidak pernah boros, jadi baju yang masih ada, juga make up tidak sering dibeli, sehingga uang masih tersisa banyak, kadang Bim pun sering menambahkan.
Kini Nana pun punya penghasilan sendiri, dengan berjualan kue kue secara on line, walau pendapatannya sedikit, tapi Nana menikmatinya.
Tidak hanya suka membuat makanan, Nana juga senang membuat baju, sehingga Nana ikut kursus.
Karena punya kemauan dan bakat, belum lama kursus Nana telah membuatkan baju untuk anak anak. Walau belum terlalu bagus, tapi sudah keren karena baru pemula.
Pizza yang sudah dihangatkan di bawa Nana dengan diantar supir menuju keramaian, sekalian Nana juga ingin ke pasar, sehingga kali ini Nana membawanya ke pasar.
Banyak pengemis dan tukang panggul barang, mengenali Nana, sehingga Nana tidak sulit untuk memberikan pizza ini, mereka sudah mengantri dengan tertib, karena sejak awal Nana membiasakan antri, sehingga mereka tidak saling berebut.
Nana seakan diutus oleh Allah untuk kaum dhuafa. Nana begitu menikmati memberikan pada sesama.
__ADS_1
Jika saja setiap orang kaya mau memberikan sedekahnya, pasti tidak ada lagi orang kelaparan.