Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang
30. Persahabatan tak mengenal status


__ADS_3

Surat ijin menikah ternyata sudah rampung. Pernikahan akan di laksanakan 4 bulan lagi. Nana tidak diperkenankan oleh Bim sibuk sibuk karena Bim telah melimpahkan pada event organizer dari siapa yang di undang sampai pelaminan, karena itu, Nana hanya tinggal instruksi saja.


"Kang Bim, mamah ingin ada pengajian di bekas rumah kontrakan di Cianjur juga di sini, bagaimana pendapat akang?" tanya Nana di suatu sore.


"Boleh saja, nanti tinggal di beri tahu EO nya, biar dia yang atur teknisnya seperti apa. Tinggal mamah memberi tahu berapa orang yang akan di undang, dan tanggalnya." Nana mengangguk mengerti.


"Semoga pernikahan kita nanti berkah ya kang. Neng sebenarnya ingin mengundang saudara saudara saja, tidak perlu meriah tapi hikmat dan sakral. Tapi kalau akang maunya meriah, Neng ikut saja," Nana berusaha mengeluarkan pendapatnya.


"Akang juga sebetulnya sependapat dengan Neng, tapi kerabat akang banyak, mereka ingin di undang, jadi akang tidak enak dengan mereka," jawab Bim.


Hari senin anak anak harus ke sekolah, karena itu, mereka harus kembali lagi ke Jakarta. Muti merasa sedih karena kehilangan Debi dan Sari teman bermainnya, di rumah ia pasti kesepian.


"Jangan lupa ya, kita V C an," kata Muti mengingatkan.


"Iya pasti," jawab Debi dan Sari berbarengan. Walau papanya seorang bos besar, Muti tidak merasa jika Sari dan Debi hanya anak kampung yang tidak sederajat. Muti di didik oleh papanya untuk tidak membedakan status sosial. Dulu pun Bim merasa bukan siapa siapa, karena itu Bim merasa setiap manusia itu sama di mata Tuhan.

__ADS_1


Begitu juga Enggar yang akan berpisah dengan teman sepermainannya Didi dan Ridwan. Di rumah ia tidak punya teman. Paling Enggar bermain ditemani Mbok Nah atau mbak Suti.


" Didi, nanti kamu VC aku ya," pesan Enggar.


"Kalau hp nya tidak di bawa bapak ya," jawab Didi. Didi tidak punya hp. Bapaknya yang punya. Itupun hadiah dari Bapak Bimbim, biar mudah berkomunikasi.


"Kamu tidak punya hp sendiri?" tanya Enggar


"Bapak aku tidak punya uang," dengan polos Didi memberi tahu Enggar.


"Nanti aku kasih tahu papa ya, biar kamu dikasih hp," dengan gampangnya Enggar menjanjikan Didi.


"Pa, kasihan deh Didi."


"kasihan kenapa?" tanya Bim.

__ADS_1


"Kalau Enggar di Jakarta, mau VC dengan Didi, tapi Didi tidak punya hp. Beliin Didi hp ya pa, " rujuk Enggar. Papanya yang sedang bincang bincang dengan Nana jadi terkesima.


"Baik, nanti mamah Nana yang belinya ya," jawab papahnya.


"Asik, jadi besok Enggar bisa V C sama Didi ya Pa?" Papanya hanya mengangguk membenarkan.


Enggar lalu memberi tahu Didi jika hp nya akan di belikan oleh mamah Nana. Tentu saja Didi senang bukan kepalang. Berarti besok ia bisa V C sama Enggar tanpa meminjam dulu Hp bapaknya.


Setelah semua beres akhirnya Enggar dan keluarganya pulang ke Jakarta. Kali ini, baik Enggar ataupun Muti tidak ada yang suka jika harus pulang ke Jakarta, karena mereka kehilangan teman bermain yang mengasyikan.


"dag... dag, Ka Muti," Sari melambaikan tangannya, begitu juga Debi. Enggar menangis tak kuasa meninggalkan dua temannya yang sudah kompak. Ingin rasanya Enggar bolos sekolah, tapi itu pasti tidak di ijinkan Papanya.


"Jangan lupa V C ya, jika sudah punya hp baru," Enggar mengingatkan Didi sambil mengusap air mata kesedihan karena akan meninggalkan sahabat yang dikasihinya.


"Ia. Nanti kita V C an lagi, aku sayang kamu Enggar."

__ADS_1


"Aku juga sayang kamu Didi," teriak Enggar tak mau kalah.


Andai semua orang di dunia ini saling mengasihi satu sama lain dan tidak membedakan status sosial, sungguh indahnya dunia ini.


__ADS_2