Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang
27. Mengubur masa lalu yang kelam


__ADS_3

Bim hari ini pulang dari Amerika. Hanya Nana yang bisa menjemput ke Bandara, karena yang lain sibuk dengan urusannya masing masing.


Nana menunggu di bangku panjang sendiri. Nana tak tahu ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan nya.


"Hai, kamu Nana ya?" Seorang pria dengan perut yang buncit, perawakan agak tinggi dan wajah yang agak seram. Nana menoleh, dan deg... jantung Nana seakan mau berhenti, karena Nana masih ingat siapa yang kini ada di hadapannya.


Pria itu pelanggan Nana ketika Nana pernah bekerja menjadi ******* di beberapa hotel. Pria itu pernah membooking Nana selama 1 bulan sehingga Nana mengenal pria itu dengan jelas.


"Maaf, mungkin anda salah orang," Nana langsung menghindar, karena Nana sudah ingin menutup masa lalunya. Dia tak ingin berhubungan lagi dengan orang orang yang telah membuat hari harinya seperti di neraka.


Nana cepat cepat pindah dan langsung masuk ke sebuah restoran siap saji yang tidak jauh dari situ. Laki laki itu mau mengejarnya, untung tiba tiba seseorang menegurnya dan mereka akhirnya berbincang dan Nana bebas dari pria hidung belang yang membuat hari harinya menderita.


Nana kemudian menuju toilet yang kebetulan sepi. Disana dia menangis, mengingat pria tadi. Nana menjadi teringat lagi sebuah kesalahan yang pernah dia lakukan yang sebenarnya dia tidak inginkan. Keterpaksaan yang membuat Nana terdampar di tempat yang tidak dia inginkan.

__ADS_1


Di pandangnya wajah oriental nya di kaca, ia merasa harus menutupi wajahnya, agar tak ada satupun orang mengenalnya. Nana tidak ingin karena orang mengenal wajahnya, masa lalunya terbongkar lagi membuat hatinya pedih.


Masihkah ada tempat untuknya melupakan masa lalu dan menggantinya dengan kebahagiaan yang hakiki?


Bukankah Allah itu sayang pada hambanya? Apa lagi jika hambanya ingin bertobat.


Pasmina yang di persembahkan mamah untuk Nana masih tersimpan di tasnya. Ia keluarkan pasmina yang kotak kota merah bata hitam dari dalam tasnya.


Bim masih belum mengenali ketika Nana yang telah merubah dandannya berdiri di hadapannya.


" Kang Bim, ini aku, Nana," begitu Nana menegaskan jati dirinya ketika Bim masih celingukan mencari cari dirinya.


Bim membuka kaca matanya dan tersenyum manis setelah tahu siapa yang kini ada di hadapannya.

__ADS_1


"Sudah pakai hijab sekarang?" tegur nya senang. Nana hanya tersenyum dan berusaha menyembunyikan wajahnya, takut dikenali lagi oleh pria tadi.


"Apakah Kang Bim tak keberatan Nana menggunakan jilbab?" tanya Nana memastikan.


"Akang belum mampu menganjurkan kamu berjilbab, tapi akang mendukung jika kamu ingin berhijab." Bim menjelaskan pendapatnya.


"Aku ingin menghilangkan jejak masa lalu kang, Nana tidak ingin orang mengenal diri neng yang lama, Neng benar benar ingin menghapus masa lalu Neng" Kata Nana jujur.


"Begitulah seharusnya manusia neng, sebaiknya mengubur masa lalunya yang kelam dan bermetamorfosa menjadi orang yang bersih seperti baru lahir. Akang sangat senang jika itu ingin neng lakukan, walau mungkin tidak bisa seperti membalikan telapak tangan." Bim mengingatkan.


Nana mengangguk setuju. Nana tahu, melepas masa lalunya tidak akan mudah. Apa lagi Nana masa lalu Nana sungguh kelam.


Tapi semoga ini titik awal Nana secara total merubah penampilan dan juga kekelaman hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2