Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang
37. Tegang mendekati hari pernikahan


__ADS_3

Nana menghubungi Lina melalui telpon. Nana ingin mengundang Lina dan suaminya Bayu untuk datang di resepsi pernikahannya nanti.


"Saya mau memberi undangan, apa ada di rumah besok?" tanya Nana


" Sudah, tak perlu formal pada saya Nana, lagi pula kita kan susah untuk pergi ke mana mana, jadi melalui telpon inipun cukup," dengan bijak Lina tak ingin merepotkan Nana.


" Saya pasti datang. Asal diberi tahu tempat dan waktunya saja," lina menambahkan.


" Saya japri ya untuk undangannya," kata Nana.


"Nah begitu saja cukup."


Sebetulnya Nana ingin, Lina jadi Among tamu, tapi Bim tidak setuju.


"Biarlah dia jadi tamu khusus saja, itu sudah cukup, jangan libatkan mereka pada pernikahan kita," pesan Bim tegas.

__ADS_1


Walau Bim sudah memaafkan, dari nada bicaranya, Bim masih belum bisa menerima Lina maupun Bayu sebagai keluarga besarnya. Nana tidak ingin mengganggu privasi Bim tapi Nana berusaha menghilangkan dendam kesumat dalam di Bim, agar bisa legowo.


Undangan sudah diperbaiki dan sudah di cek oleh sekretaris Bim, sehingga tidak ada yang salah dan juga sudah disebar.


Bim yang di kantor sedikit tegang dalam menghadapi hari pernikahannya, itu dirasakan oleh karyawan kantornya. Sehingga gosip pun beredar.


"Memang begitu, jika mendekati hari H pernikahan, saya dulu juga merasakan," bela Rika pada Claudia yang baru saja kena semprot bos nya.


"Tidak seperti biasanya, masa sih kerjaan aku dianggap salah, coba deh periksa, salahnya dimana coba?" sambil bersungut-sungut Claudia memberi map biru pada Rika sahabat di kantornya.


"Sudah sebentar lagi Pak Bim biasa lagi kok, apa lagi jika sudah dengar suara calon istrinya," goda Rika pada Claudia.


Belum sempat hilang kesalnya, Pak Bim sudah memanggil lagi agar ke ruangannya. Claudia tanpa semangat, menuju ruang bosnya.


"Kamu letakan lagi hasil kerja yang tadi di meja, biar nanti di cek ulang Siska," pinta Pak Bim. Dengan malas, Claudia meletakan hasil kerjanya diatas meja, lalu dia cepat cepat berlalu karena tidak mau lagi melihat bosnya yang sedang tegang.

__ADS_1


"Hdh, aku jadi korban ketegangan nih," sungut Claudia pada Rika.


"Nasib anak buah seperti kita, terima saja deh, mau kerja dimana lagi dimasa sulit seperti ini," pesan Rika.


"Siapa lagi yang mau pindah kerja? aku sudah nyaman kok kerja disini, hanya sekarang lagi kesal aja kerja sudah capek capek tidak dihargai, dibilang salah lagi," umpat claudia.


"Ya sudah, makan ini dulu,biar rasa kesalnya berkurang," sambil menyodorkan toples kecil berisi permen.


"Thanks." Diambilnya permen itu, lalu Claudia melanjutkan pekerjaan yang lainnya.


Begitulah jika mendekati hari pernikahan, ada saja masalah yang akan terjadi. Karena itu, jika jaman dulu, perempuan itu harus dipingit, ada benarnya juga, secara psikologi, seseorang yang akan melaksanakan pernikahan itu akan menjadi tegang mendekati hari H nya, karena biasanya mereka takut jika pernikahannya akan gagal.


Begitu juga Nana di Villa, yang jadi tumpuan kekesalan mamahnya. Untung mamah paham dengan kondisi anaknya, sehingga ia berusaha sabar menghadapi anaknya yang sedang tegang.


Mbok Nah juga pernah jadi tumpuan kekesalan Nana, sehingga ketidak nyamanan ini disampaikan pada mamah teman terdekatnya.

__ADS_1


" Bu Nana uring-uringan saja, semua serba di salahkan," curhat mbok Nah ketika mamah sedang di dapur.


"Maafkan anak saya mbok Nah, jika seseorang mendekati pernikahannya memang sering begitu, mereka tegang, karena takut gagal dengan hajat yang akan diselenggarakan," pesan mamah menenangkan Mbok Nah. Mbok Nah kini paham mengapa Bu Nana gampang uring- uringan.


__ADS_2