
Waktu berjalan dengan cepat, hingga tak terasa aku sudah duduk di Kelas dua SMA, banyak teman-temanku yang sudah memiliki pacar, Robi juga. Dia berhasil, nama pacarnya Septi, lumayan cantik dan pintar juga.
Dia pindahan dari Kota Surabaya, ayahnya pindah tugas ke kampung kami. Katanya, dia sudah lima kali pindah kota. Kutanya, apa dia nggak mabuk pindah-pindah terus? Dia bilang engga, karna pindahnya pakai pesawat terbang.
Kalau aku masih sendiri, tidak ada yang menarik menurutku. Banyak yang bilang aku terlalu serius, kaku, tapi membuat wanita penasaran.
Teman-teman wanita di kelasku suka sekali menggangguku, aku tau mereka hanya bercanda, jadi aku tidak terlalu menanggapi dengan serius, malah terkadang aku merasa geli karna mereka berlagak memperebutkan aku.
Contohnya Rani, dia sebetulnya menyukai salah satu teman pria di kelas kami, Hamid. Tapi sepertinya Hamid tidak menyukai Rani.
Memang, Rani bukan wanita yang berkulit putih dan tidak terlalu cantik, tapi auranya membawa keceriaan bagi siapapun yang ada di sekitarnya.
"Johaaaan..." Sahutnya dengan suara keras.
"Iya," Jawabku.
"Udah makan Johan?" Rani bertanya.
"Eh, nanti aku sama Johan mau makan bareng, jadinya dia belum makan." Sela teman wanitaku yang lain, Fira.
Begitulah seterusnya, mereka bertengkar seolah memperebutkan aku. Lucu juga, sebagai hiburan setelah pelajaran yang membuat otak kami ingin meledak.
Terlebih Kimia, aku sangat tidak menyukainya. Terlihat mudah, namun sulit juga.
"Aku sama Johan tu udah jadian tadi malam, jadi kalian berentilah godain" Sahut temanku yang lain, Vanda.
Sebagai gambaran, vanda memang sering begitu pada semua teman pria kami. Sama tujuannya dengan temanku yang lain, bercanda untuk mencairkan suasana.
Tubuhnya tidak terlalu tinggi, ceplas ceplos, pokoknya lucu, karna tubuhnya yang kecil membuatnya terlihat seperti anak-anak, kira-kira seperti anak SMP.
" Ya kan, Johan?" Tanya Vanda.
"Hahaha," Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka.
"Udahlah Vanda, Johan tu maunya sama Ani." Sahut Rani lagi.
Gurauan seperti itu memang akan membuat rindu di suatu saat nanti, seperti kata orang, masa SMA adalah masa yang paling indah untuk dikenang.
Oh ya, masih ingat perkataan Robi? Dia hanya mau menumpangiku dengan sepeda motornya jika dia Jomblo, itu tidak benar.
Aku masih pulang bersama Robi setiap hari, karna Septi, pacarnya Robi selalu diantar jemput oleh supir pribadinya.
Ayahnya posesif, kabarnya Septi juga tidak diperbolehkan pacaran, jadi hubungannya dengan Robi itu diam-diam.
"Sepi motorku," Kata Robi saat kami pulang bersama.
"Kan ada aku," Kataku.
"Aku tu kepingin juga pergi sama Septi," Keluhnya.
"Belum waktunya," Kataku lagi.
"Ke danaunya sama kamu terus!" Sahut Robi.
"Jodohmu aku mungkin, Hahaha" Gurauku.
__ADS_1
"Ih, janganlah. Kamu banyak disukai perempuan, kenapa nggak milih?" Tanyanya.
"Nggak tau, aku nggak kepingin aja." Jawabku.
"Aku yakin," Katanya terputus.
"Aku homo?" Selaku.
"Aku yakin ada yang suka beneran sama kamu," Yakinnya.
"Aku juga," Kataku.
Lucu sekali kalau mengingat ini, Robi sekarang masih lucu tidak ya? Sepertinya masih, aku yakin.
Usiaku bertambah, begitu pula nenekku. Sudah tua dan sakit-sakitan, nenekku menderita penyakit diabetes.
Badannya menjadi kurus kering, hanya bisa tergeletak di kasur tua milik nenek dan kakek.
Hingga pada akhirnya, nenekku tidak kuat lagi menahan penyakit.
Penyakit itu menang, dan nenekku kalah melawannya. Iya, nenekku meninggal ketika aku berada di kelas dua SMA. Banyak teman-teman dan guru yang datang melayat ke rumah.
Ohya, Bu Ningsih juga. Dia datang bersama suami barunya, ia menikah lagi dua tahun setelah Pak Syahril meninggal.
Suaminya seorang Konsultan Hukum, aku tak heran, sebab bu Ningsih memiliki wajah yang awet muda serta cantik. Pasti lelaki yang melihat akan menyukainya.
Bu Ningsih sempat menyuruhku untuk tinggal bersamanya, tapi mana mungkin. Lagian, aku yakin itu hanya basa-basi saja. Namun, aku tetap mengucapkan terima kasih padanya saat itu.
Aku sedih, mereka juga. Aku menjadi benar-benar merasa sendiri, walaupun sebenarnya aku tidak sendiri, masih ada Robi dan mamanya yang sudah menganggapku sebagai keluarga mereka.
Hampir setiap hari mama Robi mengantarkan makanan untukku, kadang lewat Robi.
"Aku ikhlas," Kataku.
"Nenek pasti sudah tenang, nggak sakit lagi." Katanya.
"Iya, amiin."
Hidup terus berjalan, apapun hambatannya. Konsep kehidupan memang begitu, ada yang datang, ada yang pergi. Walaupun sebetulnya, manusia sangat berharap, sialapun yang datang jangan pernah berpikir untuk pergi.
Aku harus kuat, melanjutkan pendidikan, serta mengurus semua ladang-ladang yang ditinggalkan. Tidak boleh boros, dan harus pandai mengatur keuangan sendiri.
Kringg...
Telfon genggam milikku berbunyi,
"Sabar ya, Johan!" Kulihat pengirim pesan, oh rupanya Vanda. Tumben dia mengirim pesan padaku.
"iya, makasih." balasku.
"Jangan Geer aku ngechat, aku besok mau minta tolong. Kamu kan ketua kelas, aku besok izin." Balasnya.
"Izin? Alasannya apa?" Kutanya.
"Cieee perhatian.. Aku besok ke RS, lagi sakit." Balasnya lagi.
__ADS_1
"Oh, oke." Kujawab singkat.
Aku memang begitu, membalas pesan seadanya walaupun sudah dijelaskan panjang lebar.
Bukannya sombong, aku memang lebih suka berbicara pada intinya saja. Kecuali sama Robi, tapi aku bukan gay.
"Jangan kangen," Vanda membalas lagi.
"Hahaha, engga." Kubalas, dan dia sudah tidak lagi membalas pesanku.
Jangan berpikiran buruk padanya, dia memang suka bercanda. Apalagi dengan teman sebangkunya, Wulan.
Mereka berdua sering ditegur guru yang sedang mengajar di kelas kami, ngobrol terus, nggak bisa berhenti. Tapi dia anak yang pintar, nilai bahasa inggris selalu di atas 90.
Dia juga bukan orang Minang, asalnya Jambi. Cuma orangtuanya merantau ke Sumatera Barat, paham ya?
Keesokan harinya di sekolah, aku menyampaikan apa yang dikatakan Vanda pada guru yang mengajar.
Kebetulan itu wali kelas kami, Bu Anisa, guru Kimia. Ibu itu orangnya lucu, tidak pemarah, keibuan juga. Tidak tau kalau sekarang.
Bu Anisa mengiyakan, tanda percaya. Sebab, Vanda tidak pernah absen. Jadi wajar saja kalau dia izin sakit.
Hapeku bergetar, karna nadanya ku matikan.
Ternyata Vanda,
"Sudah?" Tanya Vanda.
"Sudah apa?" Jawabku.
"Sudah makan? Ya bukan! Sudah sampaikan izin dari aku?" Tanyanya.
"Oh, hahaha. Sudah." Jawabku.
"Makasih ya," Balasnya. Aku tidak membalas lagi sampai pada waktu pulang sekolah.
Hapeku bergetar lagi, vanda lagi.
"Tadi belajar apa?" Tanyanya.
"Kamu sehari nggak sekolah udah lupa jadwal aja?" Kataku.
"Bukan! Materinya tadi apa?" Jawabnya, sepertinya kesal.
"Kamu mau tanya yang mana? Kimia atau apa?" Kutanya lagi.
"Semuanya," Katanya.
"Nanti aku fotoin catatanku," Aku balas dan dia tidak membalasnya lagi.
Seseorang menepuk pundakku, Robi rupanya.
"Udah bisa chatan," Katanya menggodaku.
"Bukan, dia nanya pelajaran. Tadi nggak masuk." Jawabku, lalu membalikkan badan mengajak Robi pulang.
__ADS_1
"Hmm, berawal dari hal kecil. Nanti jadi naksir"
Kuhiraukan saja, karna memang aku membalas pesan teman yang bertanya pelajaran. Pikiranku bukanlah aneh-aneh seperti yang dikatakan Robi.