Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang
22. Tak ada sekat pemisah


__ADS_3

Senja mengantarkan Nana dan keluarganya sampai Cipanas. Udara sejuk, pemandangan yang memikat, membuat orang betah untuk tinggal di sana.


Pintu kehidupan, pintu cinta, pintu yang selalu merindu pada penghuni yang telah lama meninggalkan nya.


Mang Ujang tersenyum ramah menyambut tuan rumah yang telah di nanti. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah Bi Cicih istri Mang Ujang. Didin dan Sari anak Mang Ujang pun menunggu dengan senyum kerinduan.


"A Ridwan, Kakak Muti, A Enggar, Teteh Debi, alhamdulillah akhirnya kembali," sambut Bi Cicih.


"Bu Nana, mamah,Mbok Nah, Mbak Suti, selamat datang ya," sambut Bi Cicih lagi.


"Kita semua sudah rindu," sambil menggendong Enggar.


"Bi Cicih, nanti Enggar di buatkan pizza lagi ya. pizza nya enak," puji Enggar. Bi Cicih tersenyum.


"Pasti dong. Bi Cicih buatkan lagi buat A Enggar yang spesial," sambil menjawil pipi Enggar. Enggar tersenyum bahagia.


Sebelum makan, mereka langsung membersihkan diri, kemudian berbincang sebentar. Makan malam pun telah terhidang sesuai dengan kesukaan nya. Bi Cicih memang paling enak masakannya, apa lagi masakan kampung yang biasa di masaknya.

__ADS_1


"Bi Cicih, terima kasih ya, masakannya enak," puji Muti yang selalu di biasakan oleh papa nya untuk selalu berterima kasih pada siapapun yang telah membantunya.


" Terima kasih kak Muti," balas bi Cicih.


"Besok pagi, Bi Cicih mau buatin Aa Enggar pizza spesial, kebetulan bahan bahannya lengkap," janji Bi Cicih mengingatkan.


"Oke bi." sambil mengacungkan 2 jempolnya Enggar memuji Bi Cicih.


Pagi ini yang diingat Enggar adalah Pizza, buatan Bi Cicih. Hidung tajam Enggar langsung mencium masakan Bi Cicih di dapur. Dari kamar tidurnya di lantai 2, karena jendela kamar pas diatas dapur, setelah jendela terbuka, maka kelezatan pizza tercium. Enggar langsung menuju dapur menemui Bi Cicih.


"Lagi buat pizza ya Bi?" tanya Enggar ketika Bi Cicih sedang mencuci piring bekas membuat pizza.


"Iya Bi. Sudah matang pizza nya bi?" tidak sabar Enggar bertanya.


" Belum, baru adonannya di masukan open. sebentar ya, tunggu di ruang keluarga saja, nanti Bibi bawa kalau sudah matang," usul Bi Cicih.


" Enggar mau lihat bi Cicih masak," pinta Enggar.

__ADS_1


"Bi Cicih sudah selesai masaknya, tinggal nunggu matang saja, semua sudah di masukan ke oven." Bi Cicih menjelaskan.


" Ya sudah, Enggar tunggu di atas ya Bi, nanti makan di atas saja," pinta Enggar


"Siap bos," dengan jenaka Bi Cicih meletakan tangan kanannya di pelipis, membuat Enggar tertawa terkekeh.


Setelah Pizza selesai semua, Bi Cicih membawanya ke ruang atas, di mana Enggar menunggu.


" Pizza siap......"


" Hore......"


"Banyak kan bi, bikinnya?" tanya Enggar khawatir yang lain tidak kebagian.


" Jangan khawatir bos, bibi buat 10 jadi semua kebagian," canda Bi Cicih lagi.


" Oke, hayo.....kita makan." Lima bush pizza di letakan di atas, sedang sisanya Bi Cicih letakan di bawah untuk yang lainnya.

__ADS_1


Di rumah Bimbim, tidak dibiasakan membedakan mana pembantu atau majikan, semua berbaur, sehingga tak ada kekakuan. Semua membaur. Sehingga suasana menjadi kekeluargaan dan hangat.


Tapi pembantu yang bekerja pun semua tahu diri, walau semua di bebaskan, mereka tahu batas batasnya. sehingga tidak ada yang song-ong dengan majikannya. Rata rata mereka betah bekerja dengan Bimbim.


__ADS_2