
Nana melihat ke dapur untuk memastikan bahan bahan untuk membuat siomay dan pizza tersedia, jika ada yang kurang, ia akan menyuruh Bi Cicih untuk ke pasar.
Ternyata bahan membuat pizza sudah lengkap, tinggal bahan untuk membuat siomay saja yang masih kurang. Akhirnya Nana mencatat bahan apa saja yang harus di beli.
Uang yang kemarin Nana ambil dari ATM yang Bim kasih di awal Nana dan Ibunya ke sini, masih tersisa. Nana menyerahkan uang Rp 500.000 untuk di belanjakan ke pasar membeli bahan bahan untuk membuat siomay dan untuk keperluan dapur lainnya yang memang sudah habis.
" Bu, sabun cuci dan pewangi juga hampir habis," Bi cicih mengingatkan
" Kalau begitu beli sekalian bi," perintah Nana sambil menambahkan uang Rp 200. 000 sekalian untuk 1 bulan ke depan.
" Mamah ikut kalau mau ke pasar Cicih," kata Mamah sambil memperbaiki jilbab syari yang belum pas di wajahnya.
" Mau keluar lah pagi ini, menghilangkan jenuh," Mamah menjelaskan.
" Jangan lupa bawa hp mah, jadi kalau ada yang mau di beli lagi jadi mudah di hubungi," pesan Nana mengingatkan.
"Subhanallah, Mamah lupa bawa dompet," dengan tergopoh gopoh, Mamah masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil dompet dan hp nya.
__ADS_1
Pasar tradisional Cipanas sudah ramai dikunjungi orang, walau masih pukul 06.30 pagi. Pedagang sudah sibuk dengan aktifitasnya, begitu juga pembeli yang sibuk untuk memilih milih bahan bahan untuk keperluan di rumah masing masing.
Tak sengaja Mamah melihat seraut wajah yang mirip sekali dengan Muti, sedang belanja seikat bunga cantik.
Mamah terkesima, sehingga dompet yang dibawanya terjatuh.
"Mah, dompetnya jatuh," tegur Bi Cicih yang baru keluar dari mobil."
Mamah langsung mengambil dompetnya.
" Mamah kenapa, seperti melihat hantu," tegur bi Cicih.
" Nana, mamah melihat seseorang yang wajahnya mirip Muti, sedang membeli bunga." Mamah langsung menghubungi Nana anaknya.
"Mamahnya Muti, wajahnya memang mirip Muti, coba di foto kalau bisa mah," Nana jadi penasaran.
"Sebentar ya, mamah cari lokasi yang tepat." tidak terlalu dekat, tapi masih bisa terlihat jika di foto wajahnya. Setelah selesai foto, mamah langsung kirim ke Nana.
__ADS_1
"Ia mah, itu Lina mantan istri kang Bimbim. Ada apa dia di sini ya?" Nana jadi curiga.
Bel berbunyi, Mang Ujang berlari menuju ke depan. Betapa kaget melihat siapa yang datang.
"Bu Lina, mari masuk," Mang Ujang yang tidak pernah di perintahkan majikannya Bim, untuk melarang Lina masuk rumah, akhirnya mempersilakan Lina untuk ke dalam.
"Ada anak anak di sini mang Ujang?" sambil menyelidik, Lina menanyakan ke Mang Ujang.
Sebetulnya Mang Ujang sudah tahu perceraian antara majikannya Bim dan Lina istrinya, tapi dia tidak tahu sama sekali penyebab retaknya rumah tangga majikannya, sehingga tidak memandang sebelah mata pada Lina.
Beda dengan mbok Nah, yang tahu dengan mata kepalanya sendiri, perselingkuhan yang di lakukan Lina dan bayu.
" Sebentar saya ke dalam dulu," jawab mang Ujang. Ternyata anak anak sedang di bawa mbok Nah dan mamah ke taman di depan villa.
"Bu Nana, bu Lina ke sini, mau ketemu anak anak," kata Mang Ujang. Nana yang sedang membuat siomay terbelalak kaget. Ia tahu jika mamah membawa anak anak ke taman, tapi enggan untuk memberi tahunya, khawatir Lina membawa anak anak nanti, sementara papanya tidak tahu. nana hanya mengatakan di bawa mamah jalan jalan entah kemana dan pulang nya kapan pun Nana tidak tahu.
Akhirnya apa yang di dapat, di disampaikannya pada mantan majikannya. Akhirnya Lina hanya memberi rangkaian bunga dan kue kesukaan Nana dan Enggar saja, lalu pulang.
__ADS_1
Mang Ujang mengantarkan Lina sampai pintu gerbang dan melihat kepulangan Lina dengan sebuah tanda tanya penyebab perpisahannya dengan Bim.