
Selesai akad nikah, sesi ke dua menuju pelaminan. Nana dan Bim mengganti pakaian, kini menggunakan pakaian tradisional Sunda modern yang dirancang oleh disaener kenamaan.
Dengan brokat berwarna gold, Nana dan Bim terlihat serasi. Nana yang cantik dan Bim yang ganteng, membuat sejoli ini bak ratu dan raja sehari.
Dengan Degung sunda yang di suguhkan dan tari lengser yang telah dipersiapkan oleh panitia, Nana, Bim dan orang tua beserta keluarga terdekat, dipandu menuju pelaminan.
Kerabat dan tetangga yang hadir di batasi hanya 150 saja. Karena itu, Bim dan Nana hanya memilih orang orang terdekat saja.
Diantara yang hadir, Nana melihat sesosok yang begitu mencuri matanya. Seorang gadis seusianya yang ia kenal semasa kecil.
Ketika giliran si gadis menghampirinya di panggung pelaminan, Nana berniat ingin menegurnya.
"Ratih," tegur Nana. Ratih menatap Nana, tapi Ratih masih pangling dengan wajah Nana.
"Siapa ya?" dengan masih pangling sambil menebak nebak, Ratih langsung bertanya.
" Aku Nana, teman bermain di Cikahuripan," Nana menerangkan.
"Ya ampun, Nana, sudah lama saya cari, ternyata sudah dipersunting sama bos," jawab Ratih gembira, sambil mendekap Nana. Lupa dengan covid.
__ADS_1
"Kamu nanti main ke rumah ya," pesan Nana. Karena tamu masih ada yang ingin bersalaman, akhirnya Ratih turun ke panggung. Ratih meninggalkan no hpnya di buku tamu, dan itu sudah di sampaikan pada Nana.
Perhelatan pernikahan telah selesai, walau tidak meriah, tetapi telah berjalan lancar dan sukses.
Malam pengantin yang telah disiapkan oleh panitia, menginap 2 malam di hotel, di manfaatkan Bim dan Nana agar tidak ada yang mengganggu.
Setelah sebulan pernikahan, Nana masih tinggal di Cipanas, karena Jakarta semakin banyak yang terkena covid, sehingga Bim merasa keluarganya lebih nyaman tinggal di Cipanas dulu. Biar Bim yang pulang pergi cipanas Jakarta. Itupun hanya seminggu sekali.
Pada kesempatan yang tepat, ketika sedang menikmati teh hangat di balkon kamar, Nana sengaja merajuk pada Bim, dipangkuannya.
"Sayang," sambil membelai pipi Bim, Nana ingin menyampaikan keinginannya.
"Ada apa sayang," Bim pun mendekap Nana lebih erat lagi.
" Kamu mau kesana sayang?" tanya Bim, sambil mencium kening Nana.Nana mengangguk mengiyakan.
"Kebetulan, saya juga sudah lama tidak pulang kampung, mungkin minggu depan kita bisa kesana," janji Bim pada Nana. Tentu saja Nana senang.
Kemudian mereka melanjutkan memadu cinta di dalam kamar. (Yang ini di sensor sampai sini saja ya).
__ADS_1
Nana menghubungi Ratih teman kecilnya melalui no hp yg ditulisnya di buku tamu.
"Hai, kumaha daramang( gimana kabarnya, sehat?)" sapa Nana.
"Pangestu, nggak nyangka ya istri bos mau menghubungi orang kampung," suara Ratih di sebrang merendah.
"Jangan gitu atuh, saya juga masih Nana yang lalu, orang kampung yang kebetulan dititip Allah suami yang baik," Nanapun membalas dengan bahasa yang santun.
"Insya Allah, minggu depan *aku ingin pulang*," kata Nana lagi.
"Sendiri?" Ratih tercengang.
"Sama suami dan anak anak."
"Bener ya, saya akan masak makanan yang kamu suka."
"Tunggu ya, jangan lupa pepes kesukaan ku," goda Nana.
"Baik bos, itu pasti."
__ADS_1
Tak terasa dua jam mereka telepon karena mereka sudah lama tidak berjumpa, tentunya mereka rindu satu sama lain. Mereka membicarakan masa lalu mereka ketika di desa dulu.
Akhirnya dua sahabat akan bertemu kembali di desa mereka.