Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang
4. Masa Remajaku


__ADS_3

Hari-hari kulalui dengan beragam cerita, tanpa orangtua seperti anak lainnya. Walaupun begitu, aku masih beruntung memiliki nenek yang sangat menyayangiku.


Tak terasa, masa kecilku sudah berakhir. Kini, aku beranjak dewasa, remaja maksudku. Temanku masih Robi, dan dia benar. Putri menyukaiku, itu yang dibilang Putri secara langsung saat acara perpisahan Sekolah Dasar kami. Tentu saja aku menolak, sebab kami masih kecil. Setelah insiden penolakan Putri, dia menjadi malu. Tidak menyapaku saat bertemu.


Setelah lulus Sekolah Dasar, aku melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama terbaik di kampungku. Bukan menyombong, tapi aku lulus dengan predikat terbaik di sekolah, mengalahkan Putri, dia nomor dua terbaik.


Pada saat SMP pun, Putri tak mau menyapaku. Padahal aku sudah menyapanya duluan, dia acuh saja. Ohya, aku tidak satu sekolah dengan Robi. Dia disekolahkan oleh mamanya di Sekolah Islam. Biar tidak lupa dengan agama, nilai waktu kelulusannya cukup baik.


Ke sekolah waktu SMP, aku juga memakai sepeda. Bukan hanya aku, namun masih banyak murid yang lain memakai sepeda, walau ada juga yang memakai sepeda motor milik ayah mereka.


Semakin dewasa, membuatku semakin sedih juga. Usia nenek bertambah tua, sudah mulai sakit-sakitan dan sangat jarang ke ladang. Jadi, sepulang sekolah aku yang membantu mengerjakan ladang-ladang kami. Kadang aku dibantu Robi, pokoknya dia teman terbaikku.


"Udah dapet pacar?" Tanyaku ke Robi.


"Belum," Jawabnya singkat.


"Kenapa?" Aku nanya.


"Pada nggak mau pacaran, dosa." Jawabnya


.


"Kenapa bisa dosa?" Tanyaku lagi.


Robi menghentikan pekerjaan mencangkulnya.


"Dan janganlah kamu mendekati zina," Jawab Robi dengan gaya Ustad memberikan ceramah di Masjid.


"Pacaran mendekati zina?" Aku bertanya lagi.


"Iya, walau gak ada niat. Tapi kebanyakan gitu." Tegasnya.


"Jadi kamu udah nggak mau cari pacar?"


"Hah! Aku mau pacaran, tapi nggak mau zina. Bingung." Ucapnya.


Aku berhenti bertanya, tapi dia malah balik menanyaiku.

__ADS_1


"Kenapa nolak Putri?" Tanyanya.


"Nggak mau pacaran," Jawabku.


"Mending ke aku," Ucapnya.


"Aku?" Tanyaku.


"Putrinya!"


"Oh, hahaha"


"Dia suka yang ganteng kayak kamu," Katanya lagi.


"Yaudah, kamu jadi ganteng biar Putri mau." Kataku.


"Mau kurus aja susah," Keluhnya.


"Enggak ada yang susah, inget dulu kamu gak fasih Bahasa Indonesia? Sekarang jadi Fasih. Malah dikira murid pindahan kan kamu?" Aku bilang.


"Iya sih, yaudah aku diet." Ungkapnya.


"Iya,"


Begitulah aku dan Robi, bercanda dan bergurau setiap berbicara. Dia benar-benar diet, setiap sore olahraga keliling kampung, jogging.


Hasilnya bagus, dia akhirnya tidak gemuk lagi. Badannya bagus, tapi kulitnya jadi sedikit hitam karna berpanas-panasan.


Robi bilang setelah lulus SMP, dia mau satu SMA denganku. Katanya lagi ibunya sudah memberi izin. Aku senang, sebab tak ada teman seperti Robi lagi yang kutemui di sekolah baru.


"Aku mau minta motor," Katanya.


"Aku nebeng ya," Gurauku.


"Boleh, selama aku masih jomblo. Kalau udah punya pacar ya gak boleh," Jawabnya.


"Hahaha, iya"

__ADS_1


"Tipe pacarmu gimana?" Tanyanya mengagetkanku.


"Gak mau pacaran," Jawabku.


"Yaudah, istri deh." Jelasnya


"Belum kepikiran," Jawabku lagi.


"Kamu homo? Kenapa nggak tertarik?" Tanyanya sambil menepuk pundakku.


"Kaya dulu, baru mikirin perempuan." Kataku.


"Hmm," Gumamnya.


Aku diam, Robi ikutan diam.


"Kalau kamu nemuin yang kamu suka tapi kamu belum kaya?" Tanyanya lagi.


"Nggak tau, kan aku belum nemu." Jawabku sambil tersenyum.


Robi sepertinya kesal, tapi benar aku belum tau dan belum terpikir hal-hal yang berbau wanita. Nanti saja, kata nenek fokus dulu.


Masa SMP-ku begitu, lulus dengan nilai terbaik lagi dan diterima di SMA terbaik lagi. Robi juga, dia belajar sungguh-sungguh dan berhasil menjadi teman SMAku.


Katanya dia mau jadi anak basket, biar keren. Badannya juga sudah lebih kurus dari waktu dulu, kalau aku segini-gini saja. Tidak kurus dan tidak gemuk, ideal.


Hari pertama di SMA, kami melakukan Masa Orientasi Siswa atau MOS. Dimarahi, dijemur, dan disuruh melakukan hal-hal yang aneh.


Aku satu kelompok dengan Robi, tahu apa jadinya? Kami dihukum karena terus-terusan ngobrol. Kami disuruh hormat ke bendera di lapangan sekolah selama 30 menit.


"Perempuan di sini cantik-cantik ya." Ucap Robi.


"Kamu, udahlah jangan ngobrol. Nanti dihukum lagi kita," Kataku.


.


"Ya, aku cuma bilang. Kamu jangan tanggapi, biar nggak jadi ngobrol." Guraunya.

__ADS_1


Ya, begitulah Robi. Dia memang ingin sekali pacaran, tapi dia tidak jahat. Katanya hanya ingin punya pacar saja. Aku percaya.


Aku harus menuntaskan targetku, lulus dengan nilai terbaik lagi dan kuliah di Kota. Agar aku bisa mendapat pekerjaan bagus, seperti yang nenek impikan.


__ADS_2