AKU SEORANG AGEN...

AKU SEORANG AGEN...
TANGAN??!!...


__ADS_3

Aku mencari kemana mana untuk mencari si anjelly.


"Woi!!" Teriak seorang perempuan dari belakang, yang membuat ku terkejut.


"Siapa???" Tanya ku yang langsung memutar tangan itu.


"Woi ini aku bangke!!!!" Jawab anjelly yang menahan rasa sakit nya karena tangan nya ku putar 180°.


"Oh kau rupa nya." Kata ku sambil terus memutar tangan anjelly.


"Iya ini aku, tapi lepaskan tangan ku dulu!!!" Kata anjelly yang menahan sakit tangan nya.


"Lihat saja jika kau masih membuat ku terkejut karena kau menyapa dari belakang kau lihat saja!!!" Kata ku sambil melepaskan tangan nya.


Masuk kelas....


"Hari ini kita akan belajar dengan cara melihat dunia luar, mengeri?!" Kata guru IPA kami.


"Alamak! Pak kita gak lihat serangga kan..". Tanya teman ku Devika yang terkenal karena takut karena serangga, misalnya kecoa dan belalang.


"Ini adalah bab tentang serangga, jadi kita akan mengamati beberapa binatang kecil!" kata guru IPA kami yang menunjuk ke arah jendela yang mengarah ke hutan.


"YESSSSSSSSSSSS!!!!!!" Teriak kami semua, karena kami sangat penasaran dengan hutan itu. Konon kata nya di hutan itu ada sebuah rumah yang kata nya ada penunggu nya.


"Sekarang semua nya bergegas dan membentuk 2 baris!!" Teriak guru IPA kami yang sudah membereskan semua nya dan berjalan keluar


Saat di hutan......


"We ayo kita ke sana, kata nya di sana ada rumah yang di bilang ada penunggunya" Ajak teman ku Hendra, ada sebagian yang mengangguk kan kepala,


"Ya sudah ayo!" Ajak teman ku Hendra yang memimpin jalan, kami jadi terpisah dari gerombolan guru IPA kami, karena arah ke rumah itu berbeda arah.


"Woi Hendra kau tau ngak jalan nya yang mana?!" Tanya teman ku, Silvia yang dari tadi mengikuti dari belakang Hendra.

__ADS_1


"Aku tau jalan nya! kau diam aja!!" Balas Hendra yang kesal karena di panggil oleh Silvia.


"Nah ini dia...." Kata Hendra sambil menunjuk ke arah rumah yang berwarna merah, tapi warna nya udah agak pudar.


"Kau serius? ini kan bukan rumah yang di bilang ada penunggu nya!" Kata Devika yang terus melihat ke arah itu.


"Cepat sembunyi!!" Kata ku pelan karena melihat seorang pria yang masuk ke rumah itu.


"Ada apa??" Tanya Hendra yang bersembunyi di dalam semak semak.


"Tadi ada orang, laki laki yang masuk ke rumah itu!!" Jawab ku sambil menunjuk ke arah rumah itu.


"Lihat! itu laki laki nya!!" Kata Silvia yang menunjuk ke arah seorang pria yang memegang sebuah Kampak di tangan nya.


"Siapa itu?!" Kata Hendra yang terus berjaga-jaga,


"lihat!!" kata ku yang menunjuk ke arah pria itu, astaga apa yang aku lihat??. Pria itu membawa seorang wanita ke dalam rumah itu dengan menyeret kaki nya.


"Lebih baik kita pergi dari sini! Di sini sangat berbahaya!" Kata Hendra yang langsung berdiri dan menarik tangan Wibel.


"SIAPA ITU??!!!" Teriak seorang laki laki yang berdiri dari kejauhan di depan rumah itu. Siapa tau dia adalah seorang pembunuh?!.


"Kalian tau kan saat aku bilang 3?." Tanya ku sambil melihat teman teman ku.


"Ya kami tau akan hal itu" kata Silvia yang menggenggam tangan Devika.


"1....2.....3!!!!!" Teriak ku yang langsung lari karena Silvia, Devika,Wibel, dan Hendra sudah lari duluan!. dasar gak setia kawan!


Setelah sampai di kelas......


Kami kembali dengan napas setengah mati.


"Ham....Hamm ..hampir aja kita...." kata ku yang masih belum bisa menstabilkan napas ku yang masih ngos-ngosan.

__ADS_1


"Lain kali aku ngak mau lagi ke sana! Sangat menakutkan! Apa lagi karena pria tadi yang menyeret seorang wanita ke dalam rumah itu!" Kata Silvia yang menggigil karena kejadian tadi.


"Tapi aku agak heran lah, kan ini sudah 3 hari Kristina ngak masuk ke sekolah, di tambah lagi dengan ada seorang pria di rumah itu, ini seperti nya..." kata ku terpotong saat Hendra membuka mulut nya untuk bicara.


"Maksud mu... kedua masalah ini ada kaitan nya?!" Tanya Hendra yang melotot ku.


"Iya, aku curiga hal ini seperti nya sudah di rencana kan!" kata ku yang terus menatap ke arah sudut kelas, dimana itu ada kursi kosong yang di percaya adalah tempat duduk seorang gadis yang tewas bunuh diri di sekolah ku, dan kata nya sih ada yang pernah menduduki kursi itu, tiga hari kemudian, gadis itu juga meninggal karena bunuh diri seperti gadis pertama itu.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Silvia pada ku.


"Apa kalian punya waktu hati Minggu?" Tanya ku yang terus menatap kursi itu.


"Aku ada waktu!" Kata Hendra yang mengangkat tangan nya.


"Kalian merasa tidak ada yang terus menatap kita, mengawasi kita lah..?" tanya Devika yang terus melihat ke sana ke sini melihat apa kah ada orang yang mengawasi kami atau tidak.


"AAAAAAAAA!!!!!!" Teriak Silvia yang tiba tiba saja langsung menutup mata nya dengan tangan nya.


"Ada apa Silvia!??!" Tanya Devika yang berlari ke arah Silvia dan langsung memeluk, Devika berusaha menenangkan Silvia.


"I.... itu...itu..." Kata Silvia terbata bata sambil menunjuk ke arah jendela yang ada di sebelah kanan yang mengarah ke arah hutan.


"Ada apa dengan jendela itu???" Tanya ku sambil melirik teman teman ku, yang di lirik mengangkat bahu nya, aku juga penasaran sih kenapa Silvia tiba-tiba teriak, aku langsung berjalan ke arah jendela itu dan....


"Tan....Tan...tangan?!?!?????!!!?!?!!!!!" Teriak ku karena melihat ada sebuah tangan yang terpotong dan berada di depan jendela kami.


"Tangan si....siapa ini?!?!" Tanya Hendra yang gemetar karena melihat darah dari tangan itu mengalir ke mana mana.


" lebih baik sekarang kita pergi saja dari sini sepertinya di sini sudah sangat menyeramkan" ajak Devika yang langsung berlari keluar sambil memegang tangan Silvia. Kami berlari ke arah ruangan pak kepala sekolah pak William lalu kami melaporkan bahwa ada tangan yang terletak di depan jendela kami.


"Bagaimana bisa ada tangan di depan jendela kelas kalian?!" Tanya pak Wiliam yang tidak percaya dengan omongan kami.


" iya pak kami serius kami nggak bercanda pak kalau bapak nggak percaya silahkan bapak biasanya sendiri" Kata ku sambil merangkul Silvia.

__ADS_1


pak Wiliam tidak tinggal diam karena penasaran setengah mati pak Wiliam langsung berlari ke arah kelas kami, kami tidak heran saat melihat wajah pak william yang sekarang sudah berubah menjadi sangat terkejut.


__ADS_2