
Aku sudah mensadarkan diri dari pingsan ku, aku melihat sekeliling dan ternyata ada seorang wanita yang usia nya mungkin 26-29 tahun.
"I.... ini...ini dimana?" tanya ku yang memaksa tubuh ku untuk bangun, sakit sih sakit tapi aku juga ingin pergi dari tempat ini.
"Kau sudah bangun ya nak?" kata wanita itu sambil membantu ku bangun dan menyandarkan tubuh ku di sandaran kasur.
"Maaf bibi ini siapa?" tanya ku sambil memandang ke arah wajah wanita itu yang menggenggam tangan ku.
"Aku ibu nya Bastian, dan kau pasti adalah pacar nya bukan?" tanya wanita itu yang membuat ku terkejut,
sejak kapan aku jadi pacar nya? Apa Bastian sudah gila?!. Batin ku sambil tersenyum ke arah wanita itu.
"Ternyata Bastian punya selera yang bagus juga, memilih perempuan secantik diri mu." puji wanita itu yang duduk di atas kasur dekat dengan ku.
"Bi..di mana Bastian?" tanya ku yang melihat ke arah sana dan sini, memastikan monster itu tidak ada di dalam kamar ini.
"Dia sedang membantu ayah nya di kantor" kata wanita itu sambil berjalan ke arah dispenser air yang letak nya tidak jauh dari kasur.
"Ha?! dia sudah bekerja ya Bi?" tanya ku tidak percaya, anak seumuran dengan nya sudah bisa bekerja?!.
"Iya, Bastian adalah anak yang penurut dan juga baik" kata wanita itu yang membawa kan segelas air pada ku. Aku menerima air itu dan berkata terimakasih pada wanita itu.
apa?! baik? penurut?! apa kah Bastian sudah menghipnotis orang tua nya ya?! dia yang begitu kejam di bilang baik dan penurut?! astaga dia saja sudah ku anggap buakn manusia lagi!!. batin ku yang terus memaki maki Bastian.
"Bi.. apa kah aku boleh bertanya pada bibi?" tanya ku agak ragu pada wanita yang duduk di samping kasur yang dekat dengan ku.
"Apa yang ingin kau tanya kan?" tanya wanita itu sambil memandang wajah ku dengan tatapan yang lembut.
__ADS_1
"Bi.. apa kah bibi pernah melihat Bastian membunuh seseorang?" tanya ku yang agak segan karena dia adalah ibu nya Bastian. Sontak wajah wanita itu berubah menjadi muram.
"Kenapa kau menanyakan hal ini?!" kata wanita itu sambil berdiri Daan berjalan ke arah jendela yang besar.
"Ka...kare... karena.., dia bilang dia sudah pernah membunuh satu keluarga!" kata ku yang sedikit gugup untuk menjawab.
"Ya saya pernah melihat Bastian, anak ku sendiri mencelaka kan adik nya sendiri, Billy, saat itu Billy masih sangat kecil, dan kami sebagai orang tua lebih memperhatikan Billy, tapi yang tidak kami sadari adalah Bastian yang tidak suka dengan perilaku kami pada Billy anak kami sendiri dan adik nya." Jelas wanita itu sambil memandang ke arah jendela yang mengarah ke sebuah taman.
si gila itu?! apa dia tidak punya perasaan?! sampai mencelakakan adik nya sendiri?!!. batin ku yang tidak percaya dengan apa yang di kata kan oleh ibu nya Bastian.
"Di....dimana Billy sekarang bi?" tanya ku ragu yang melihat wanita itu melihat ke arah ku.
"Dia sedang koma di rumah sakit, dia membutuhkan donor darah, bergolong O, tapi kami tidak bisa memberikan darah kami pada nya, ayah nya pernah mengidap kanker darah atau leukimia, dan kami takut saat darah itu di donor kan pada Billy maka akan membuat Billy juga mengidap kanker darah." kata wanita itu yang putus asa karena tidak dapat menyelamatkan nyawa anak nya.
"Bi...darah ku bergolong O, apa kah aku bisa mendonorkan darah ku untuk Billy?" tanya ku sambil berusaha berdiri, wanita itu langsung berjalan ke arah ku,
"Apa kau serius?" tanya wanita itu dengan wajah yang membuat ku ingin memeluk diri nya.
aku merindukan pelukan yang seperti ini! aku ingin terus di peluk! tapi aku sudah tidak puna ibu, ibu yang aku kenal tidak sama lagi seperti waktu ada ayah!. batin ku yang tidak ku rasa aku sudah menangis di dalam pelukan wanita itu.
"Mengapa kau menangis?" tanya wanita itu sambil menghapus air mata ku yang menetes.
"A..aku tidak apa apa bi... aku hanya rindu pelukan ibu ku..." kata ku sambil menghapus air mata ku dengan tangan ku.
"Emang nya ibu mu ke mana?" tanya wanita itu yang menggenggam tangan ku dengan erat.
"A...aku...aku..aku akan menjelas kan nya waktu kita Sudah sampai di rumah sakit!" kata ku yang menatap ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Baik lah aku akan menyuruh orang untuk menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit!" kata wanita itu sambil menggenggam erat tangan ku dan berjalan keluar dari kamar itu.
Kami berjalan ke bawah dan wanita itu memanggil salah satu pelayan untuk menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit yang di gunakan untuk merawat Billy.
"Apa kau bisa menceritakan semua nya di sini?" tanya wanita itu pada ku dengan wajah nya yang membuat ku ingin menangis.
"baik bi aku akan menceritakan nya" kata ku yang menghapus air mata ku. Sepanjang jalan ke rumah sakit aku habis kan dengan menceritakan semua masa lalu ku pada wanita yang duduk di samping ku.
Sesampainya di rumah sakit....
"Selamat datang nyonya dan nona" sapa seorang suster yang kebetulan lewat dari depan kami.
Kami berjalan ke arah lift dan menaiki lift itu ke lantai 13. Sesampainya di lantai 13 kami berjalan menunju ke arah kamar yang nomor nya 377 jauh sekali.
"Sudah sampai!" kata wanita itu yang membuka pintu ruangan yang dalam nya ada seorang anak laki-laki kecil yang memakai alat pernapasan di bagian hidung nya.
"Ini Billy ya Bi?" tanya ku pada wanita yang ada di depan ku yang menatap ke arah anak laki laki itu.
"Iya ini Billy" kata wanita itu yang duduk di bangku dekat dengan kasur yang ada anak kecil itu.
"Kau lihat dia? dia masih sangat kecil dan sudah harus menjalani perawatan seperti ini" kata wanita itu yang meneteskan air mata nya.
"Bi tenang lah aku akan segera mendonorkan darah ku pada Billy, bibi tenang lah" kata ku yang memegang pundak wanita itu dan berusaha menenangkan wanita itu.
tok tok tok
suara ketukan pintu membuat ku melepaskan tangan ku dari pundak wanita itu.
__ADS_1
"Maaf apa kah di sini ada yang ingin mendonorkan darah untuk tuan muda Billy?" tanya seorang suster yang masuk ke dalam.
"Iya ada aku!" kata ku sambil menatap wajah suster itu.