
Pria itu menatap ku dengan mata nya yg membulat, sadar akan apa yang pria itu lihat, aku pun menghapus air mata dari wajah ku.
Pria itu memegang bahu ku, "Ada apa? apa yg terjadi pada mu?" tanya nya sambil melepaskan jas nya dan menutupi bahu ku.
Aku hanya diam, tak mungkin aku memberitahu apa yg ku alami pada nya, "Tidak ada," jawab ku singkat.
Pria itu menatap ku, lantas berdiri dan mengulurkan tangan nya, bermaksud membantu ku berdiri.
Aku menerima uluran tangan nya, "Apa yang kau lakukan di lantai ini?" tanya nya, aku hanya diam.
Pria itu menatap ku, lalu menarik tangan ku menuju ke arah tangga yang menuju ke lantai atas.
Sesampai nya di lantai atas yang terbuka, pria itu memandang langit hitam yg di hiasi dengan ribuan cahaya bintang.
Pria itu menatap ke arah ku, "Apa kau tidak rindu dengan tempat ini?" tanya nya sambil tersenyum ke arah ku.
Bagaimana aku melupakan tempat ini?, di sini lah kami bertemu, bermain kembang api bersama, umur kami waktu itu baru saja menginjak 5 tahun.
Aku mengangguk kan kepala ku, "Tentu saja," jawab ku dengan riang. Aku mengambil handphone dan earphone ku, lantas memasang lagu, "SPRING DAY - BTS".
Aku memberikan sebelahh earphone ke pada pria itu, "Apa kau mau mendengar lagu Alvin?" tanya ku, pria itu tersenyum dan menerima earphone dari sebelah tangan ku.
Belum 10 menit kami berada di atas, adik kecil ku sudah berlari ke arah kami, "Kakak, pesta nya akan di mulai, ayo ke bawah" ajak adik ku.
Alvin tersenyum lantas membalas perkataan adik ku, "Iya, kami akan turun ke bawah" kata Alvin sambil menatap ke arah adik ku.
__ADS_1
Kami turun bersama ke bawah, banyak yang menatap ke arah kami, kenapa tidak? tangan Alvin terus menggenggam tangan ku.
Kami melewati banyak tamu dan langsung menuju ke arah meja yang atas nya terletak sebuah kue yang bertulis kan nama ku.
Nenek yang menatap ku pun bertanya, "Apa dia pacar mu?" tanya nenek dengan wajah penasaran nya.
Aku menggeleng geleng kan kepala ku, "Tidak nek, ini teman ku, Alvin" kata ku sambil menatap ke arah Alvin.
Nenek kembali menatap curiga ke arah kami, "Lalu tangan kalian?" tanya nenek ku dengan mata yang tertuju ke arah tangan kami.
Yang benar saja, tangan kami tadi masih saling menggenggam, Alvin langsung melepaskan tangan nya.
"Itu...itu hanya salah paham nek" kata Alvin sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, aku pun hanya tersenyum.
Acara pun di mulai,, dari tiup lilin, potong kue, dan menyuapi keluarga ku, teman, dan juga Alvin.
"Ayo Trish, suapi dia" teriak Indah, sahabat ku, aku yang tidak ingin basa basi pun langsung menyuapi Bastian, dengan wajah datar, aku pun berbalik kembali ke arah meja.
Pukul 12 malam,,,
Acara pun usai, aku yang sudah sangat lelah menuju ke arah kamar ku, "Hoamm" aku menguap sambil terus berjalan ke arah kamar ku.
Clekk
Pintu kamar ku terbuka, aku langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu, mata ku membulat saat melihat seorang pria berdiri di samping jendela kamar ku.
__ADS_1
Pria itu melirik ke arah ku dan langsung berjalan ke arah ku, "Kenapa?" tanya nya santai tapi membuat ku bergidik ngeri.
"Kenapa kau bersama lelaki itu?!" tanya nya sambil berteriak, aku tersenyum, "Kenapa? tidak boleh kah?" tanya ku yang jelas sedang memancing kemarahan nya.
Pria itu mengepalkan tangan nya, berusaha menahan amarah, "Aku sedang bertanya, jawab!" teriak pria itu.
Aku kembali tersenyum, "Kau bersama wanita lain, aku tidak masalah, kenapa aku bersama pria lain kau marah?" tanya ku yang jelas membungkam mulut Bastian.
Bastian kembali menatap ke arah ku, aku memasang wajah datar, berjalan ke arah lemari, lantas membuka dan mencari baju ganti ku.
Selesai memilih baju aku kembali menatap ke arah Bastian, "Kau bukan siapa siapa ku, jadi.., silah kan keluar dari kamar ku" kata ku sambil menatap datar ke arah Bastian.
Terlihat wajah yang putih tadi berubah menjadi warna merah, petanda menahan amarah.
Bastian berjalan ke arah ku, lantas mengunci penggerakan ku, menyandar kan aku ke dinding.
"Bukan siapa siapa?" tanya Bastian sambil mengulang perkataan ku tadi, aku yang menatap ke arah wajah itu pun menjawab.
"Ya" kata singkat itu keluar dari mulut ku, "Kau bukan siapa siapa bagi ku, dan ingat satu hal, aku bukan PELAKOR, yang mau merusak hubungan pasangan" kata ku sambil terus menahan air mata.
"Apa kau melupakan bagaimana kita bersama sejak bertemu kelas 5 SD?, kita yang pergi bersama kemana pun, bermain bersama, dan-" kata kata Bastian terpotong.
"CUKUP! AKU TIDAK INGIN MENDENGAR OCEHAN MU LAGI!! KELUAR!! KELUAR DARI KAMAR KU!!!" teriak ku dengan aliran air mata yang mengalir di pipi ku.
Bastian keluar dari kamar ku, aku mengunci pintu sekuat mungkin, berharap dia tidak akan kembali lagi.
__ADS_1
Pergi lah! aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi!!!! kau sama sekali tidak mencintai ku! kau hanya mempermainkan diri ku!!. Teriak ku dalam hati.