
Saat aku sampai di depan rumah Bastian, aku pun turun dari mobil, dan berjalan ke arah pintu lantas mengetuk pintu.
Tok tok tok,,
Terdengar sahutan dari dalam, "Iya,? siapa?" tanya seorang wanita, tapi aku tidak kenal dengan suara perempuan itu.
Mata ku terbelalak saat melihat seorang perempuan yang sama sekali tidak aku kenali membuka pintu.
Perempuan itu menatap ke arah ku, lantas bertanya, "Kakak mau cari siapa?" tanya perempuan itu yang sedikit lebih pendek dari ku.
Pertanyaan perempuan itu membuat ku terbangun lamunan ku, aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Apa kah, ada Bastian?" tanya ku, perempuan itu sedikit menaikan alis mata nya, dengan maksud dia keheranan.
"Untuk apa kakak mencari tunangan ku?" tanya perempuan itu, entah mengapa hati ku sakit saat mendengar perempuan itu mengatakan, tunangan.
Tidak!!! aku tidak boleh nangis!!! aku Ngak boleh nangis!!!. Kata hati ku yang menahan rasa perih yang menusuk ke arah hati ku.
Aku langsung pamit pada gadis itu, "Ah, tidak ada apa apa, saya hanya ingin memberikan ini untuk mu" kata ku sambil menyerahkan sebuah boneka kelinci yang imut pada gadis itu.
Perempuan itu menatap ku dengan sedikit heran, "Tapi untuk apa kakak memberikan boneka pada ku?" tanya gadis itu.
Aku tidak menjawab lagi, rasa nya ada sebuah paku yang menembus hati ku, perih dan juga sakit.
Aku langsung berlari dari rumah Bastian, aku berlari tak tentu arah, aku berlari sampai di jalan raya.
Aku tidak melihat ada sebuah truk yang sedang mengarah cepat ke arah ku, dan
BRUKKKK...
Aku terpelanting ke arah aspal, karena truk itu menabrak ku, sebelum aku menutup mata, aku mencari di mana cincin permata yang pernah di beri kan oleh Bastian pada ku.
__ADS_1
Tidak sempat aku mencari lagi, aku pun menutup mata ku, karena darah dari bagian perut ku terus keluar.
Beberapa jam kemudian...
Ku buka mata ku yang sedikit lelah, ku lihat semua nya berwarna putih dan juga terasa nyeri di campur rasa sakit di bagian perut.
"Kau sudah sadar?!?" tanya seorang laki laki, dia memegang tangan ku,aku melihat nya dengan mata ku yang membesar, seketika aku langsung menarik tangan ku dari nya.
"Untuk apa kau datang ke sini?!" tanya ku yang langsung menghadap ke arah lain, rasa nya aku sangat tidak ingin bertemu dengan nya.
"Hai kak..." sapa seorang perempuan di samping kanan ku, aku seketika bingung, aku memandangi wajah anak perempuan itu.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya ku sedikit lembut, aku tau kalau anak seumuran nya, pasti akan trauma kalau aku bertanya sambil berteriak-teriak.
"Hehehe, aku ke sini hanya ingin minta maaf, soal kejadian tadi,.." kata perempuan itu sambil memberikan sebuah kotak kecil dengan pita di atas nya.
"Tapi kau minta maaf untuk apa? kau bahkan tidak salah" kata ku sambil menolak kotak kecil dengan pita di atas nya.
Aku yang melihat gadis itu hampir menetes kan air mata nya, aku menatap ke arah laki laki itu lantas mencubit paha nya.
"Apa?!" tanya laki laki itu yang memegang paha yang sakit karena cubitan ku, aku hanya memandang nya sekilas lantas kembali menatap ke arah gadis itu.
"Hei, jangan menangis, nanti imut nya hilang loh, jangan nangis" kata ku sambil memegang pipi gadis itu.
Dia mengangkat kepala nya, terlihat ada sebuah air mata yang melewati pipi mungil nya, aku mengusap air mata itu dari pipi nya.
"Jadi.... jadi... jadi kakak memaafkan aku?" tanya nya yang ragu ragu, aku tak menjawab melainkan mengangguk kan kepala ku.
2 hari kemudian....
2 hari berada di rumah sakit seperti terkurung di dalam kandang selama 200 abad, siapa yang tahan dengan makanan rumah sakit? bubur halus, air putih, obat, suntik..., ASTAGA!!!! aku merasa seperti di dalam neraka.
__ADS_1
Aku pulang dengan di sambut oleh nenek juga kakek yang sudah meletakkan sebuah api dalam baskom dan di letak kan di depan rumah.
Saat aku turun dari mobil, aku di angkat oleh Bastian, seketika wajah ku merona merah, aku tidak terbiasa di gendong oleh orang lain.
Bastian melewati atas api itu, bagi agama kami, jika salah satu keluarga mengalami kecelakaan, maka setelah kami pulang ke rumah, kami harus melewati api yang ada di depan rumah, itu di percaya bisa menghilang kan kesialan.
Saat masuk ke dalam rumah, Bastian yang ingin melepaskan ku di atas sofa malah di cegah oleh nenek. Aku dan juga Bastian sedikit heran.
Nenek ku melihat kami berdua, "Si Trish kan baru saja keluar dari rumah sakit, dia Ngak boleh duduk di sini, dia seharusnya bebaring di tempat tidur nya, jadi bisa kah kau membawa Trish ke kamar nya?" tanya nenek ku.
Aku menepuk kepala ku, lupa akan sifat nenek ku yang suka membuat suasana Romantis di antara dua orang.
"Baik lah, aku akan membawa nya ke atas" kata Bastian sambil terus menggendong ku, astaga aku merasa seperti anak kecil saja.
Ya Tuhan, ku mohon buat lah si Bastian ini jalan nya lebih cepat,!" Kata ku dalam hati karena Bastian berjalan seperti siput, lambat sekali.
Saat sudah sampai di dalam kamar ku, dia menurun kan ku di atas kasur, aku langsung menggeser tubuh ku agar menjauh dari nya.
Bastian yang melihat tingkah ku heran, "Ngapain kau menggeser posisi?" tanya nya sambil menatap ke arah ku.
"Aku hanya ingin menggeser posisi ku aja, apa ada masalah?" tanya ku sambil melihat ke arah nya.
Bastian menggeleng geleng kan kepala nya, sejenak kami diam dalam diam, Bastian memecah kan keheningan kami.
"Besok aku akan pergi ke luar kota" kata nya sambil melihat ke arah ku, aku sontak terkejut karena dia bilang akan keluar kota.
Aku melihat ke arah nya sambil memasang wajah yang tidak ingin melepaskan diri nya, "Kapan kau merencanakan ini?" tanya ku yang menahan air mata ku.
"Sudah lama aku merencanakan akan pergi ke luar kota, bersama dengan keluarga ku, dan mungkin ini adalah hari terakhir untuk pertemuan kita" kata Bastian sambil memegang tangan ku.
Aku tak menjawab, aku hanya menatap nya, perkataan nya membuat ku teringat akan pria yang tertembak 5 tahun lalu.
__ADS_1