AKU SEORANG AGEN...

AKU SEORANG AGEN...
RIANA...


__ADS_3

Kami berlima pergi ke taman belakang sekolah, di sana ada pohon yang Sangat besar.. dan kami pernah membuat rumah kecil di atas pohon itu.


"Seperti nya ini ada hubungan nya dengan pria tadi!" kata Hendra yang menutup pintu rumah itu.


"Iya! semenjak kita lari dari sana, dan tiba tiba saja ada tangan di depan jendela kita!" kata ku sambil mengambil minuman dari kardus.


"sekarang apa yang akan kita lakukan?!" tanya Devika yang mendekap erat tubuh Silvia yang masih dalam keadaan ketakutan.


"Tenang saja! aku akan mencari tau siapa orang itu!" kata ku sambil menyeruput teh Rio.


"SIAPA DI DALAM?!?!?!" teriak seorang laki laki yang mengetuk pintu dari luar.


"siapa itu?!" tanya wibel sambil menyudut ke arah kardus minuman.


"ayo sembunyi!" kata ku sambil membuka sebuah peti yang kira kira muat untuk 10 orang, lumayan besar bukan?. Kami bersembunyi di dalam peti itu dan membuka sedikit pintu peti agar kami dapat bernapas.


Pintu rumah itu pun terbuka dan kami terkejut dengan apa yang kami lihat.. seorang laki-laki yang memegang kepala perempuan tanpa badan di tangan nya.


"Mau aku taruh di mana ini?" Tanya laki laki itu sambil melihat ke sana ke sini.


"Di sana aja!" kata laki laki itu yang menunjuk ke arah peti yang sedang kami buat untuk bersembunyi, kami berlima ketakutan..


"Apa yang harus kita lakukan?!?" tanya Hendra yang berbisik kepada ku.


"Aku punya ide!" kata Silvia yang melepas kan jepit rambut nya dari rambut nya lalu melempar nya ke arah pintu.


"Siapa itu?!" Teriak laki laki itu yang langsung berlari keluar dan meninggalkan kepala wanita tadi di atas meja yang ada di sana.


"Ayo kita keluar dari sini!!" kata Silvia yang langsung menuju ke arah sebuah lubang di ujung sudut rumah.

__ADS_1


Kami berlima langsung lari tak karuan. Kami berlari sekencang mungkin agar laki laki itu tidak menemukan kami.


setelah pulang sekolah....


Aku pulang bersama ketiga adik ku melewati gang itu, tapi kali ini ada yang aneh! aku merasa seseorang sedang mengikuti kami. Karena takut nanti ke tiga adik ku terluka aku sampai di depan rumah zevanya lalu menyapa lembut.


"Pak bisa kah saya nitip adik adik saya di sini pak?" tanya ku pada seorang lelaki yang sedang menyapu halaman rumah nya dengan sapu lidi.


"tentu saja!" kata bapak itu dengan gembira, aku meninggalkan adik adik ku bersama ayah nya zevanya. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mencari orang itu!


"Siapa kau?! keluar!!" kata ku sambil berteriak agar orang' itu mau keluar.


"Kau?!!!" kata ku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Dia adalah Riana, musuh ku sejak kelas 1 SD, ya kami tak pernah akur, asal kab lewat dari hadapan aja bisa jadi masuk kantor


"Apa yang kau lakukan?! lepas kan indah!!!" kata ku yang menahan tangis melihat sahabat ku sendiri sudah terluka parah, aku tau ini pasti dia yang melakukan semua ini!


"Apa yang kau ingin kan?!" kata ku yang menetes kan air mata ku yang sudah ku tahan dari tadi.


"Apa yang aku mau?? kau pasti sudah tau!! aku menginginkan Alvin!!!" kata Riana yang menghempas kan kepala indah ke aspal.


"Jika kau menginginkan dia maka ambil lah! asal kan jangan menyentuh sahabat ku" kata ku sambil mengeluarkan pedang peninggalan ayah ku.


"Apa?! kau ingin bertarung demi sahabat mu ini?! Ayok aku ngak takut sama kau!!" kata Riana yang langsung mengambil parang dari belakang punggung nya.


"Ja...jangan...jangan Trish!" kata indah yang menatap ku putus asa. Aku tau arti tatapan nya itu! tapi dia adalah sahabat ku, sahabat yang menyelamatkan nyawa ku! meski aku mengorbankan nyawa ku sendiri aku juga ngak takut!!


"Ayo maju kau!!" teriak Riana yang memainkan jari telunjuk nya. Siapa yang ingin diam aja saat melihat sahabat sendiri di lukai dan hampir menewaskan diri nya?! aku langsung maju dan mengarahkan pedang kesayangan ayah ku ke perut Riana tapi dia berhasil menghindar dan dia langsung menusuk tulang rusuk ku dari belakang!


"AKH!!" Kata ku yang menahan sakit parang itu yang menusuk tulang rusuk ku. Aku ngak boleh nyerah!. aku langsung mengambil tumpuk kan pasir dan langsung melempar nya ke arah Riana, Riana yang terkejut dan langsung menggosok mata nya dengan tangan.

__ADS_1


"Rasakan ini!!" kataku yang langsung menusuk perut Riana dengan pedang ku.


"Dasar curang!!" teriak Riana yang hampir menusuk ku dengan parang nya lagi, aku langsung menghindar dan menahan darah dari tulang rusuk ku yang tadi di tusuk oleh nya.


"Aku akan menyiksa mu nanti malam, kau tunggu saja!" kata ku yang merangkul tangan indah di pundak ku agar dia bisa berdiri, diri nya sekarang sudah lemah! Aku langsung menelpon seseorang


"Ha..halo?! Alvin gw mohon lu cepat datang ke sini, teman gw udah sekarat!!" teriak ku yang terus menahan indah agar dia tetap sadar.


"baik lah aku akan ke sana! aku di gang ***?!"


tanya Alvin yang langsung menutup telepon dia mungkin sudah tau kalau aku ada di gang ***. Beberapa lam kemudian muncul mobil berwarna merah yang berhenti di hadapan kami.


"Ayo cepat sebelum sahabat mu...." kata Alvin terpotong saat aku meneriaki diri nya.


"Bicara sekali lagi maka akan ku potong lidah mu!!" kata ku yang langsung memapah indah ke dalam mobil.


"Kau antar indah ke rumah sakit dulu aku akan mengurus sesuatu di sini!" kata ku yang menahan darah dari tulang rusuk ku yang tadi di tusuk oleh Riana.


"Tapi kau terluka!" kata Alvin yang yang keluar dari mobil dan hendak berjalan ke arah ku.


"NYAWA SAHABAT KU LEBIH PENTING!! SEKARANG KAU ANTAR DIA KE RUMAH SAKIT! NYAWA NYA LEBIH PENTING!!!" kata ku yang meneriaki Alvin dengan kencang.


Alvin langsung pergi dengan membawa indah ke rumah sakit. Aku melihat ke arah Riana, dia mengeluarkan banyak darah. Aku segera menelpon bibi Angel agar datang ke gang itu. Setelah bibi Sampai dengan membawa mobil kami langsung pergi ke arah rumah zevanya untuk menjemput adik adik ku.


Pulang ke rumah memang agak sial. Pulang ke rumah dengan kondisi yang seperti ini, ku kira akan di kasihanilah atau di kasih obat kek ini ngak! malah di omel di bilang ini itu, sakit ini telinga lama lama.


"Maka nya jadi orang ngak usah sok keras!!" kata gadis sialan itu sambil berkacak pinggang di hadapan ku.


"Kau belum pernah kah merasakan pedang ini melayang ke perut mu?!" Kata ku sambil memperlihatkan mata ku yang menatap tajam ke arah nya.

__ADS_1


__ADS_2