Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Mengadu


__ADS_3


Alana menaruh kucingnya di kandang saat melihat papanya sudah pulang. Matanya berbinar tatkala pesanannya dibawakan. Langsung saja dia berlari ke arah Galaxy yang kini sedang bersalaman dengan teman-teman Alano.


"Paaaaaaaaaa." Teriak Alana seraya memeluk lengan Galaxy dengan erat dan mengajaknya ke ruang makan sembari menemui Ibunya.


"Princess." Galaxy terkekeh dan memeluk Alana gemas karena melihat kelakuan putrinya yang tidak pernah berubah sejak kecil kalau dia pulang kerja.


"Pesanan Ana dibawain kan? Ana bisa makan cupcake, kan?" Tanya Alana pada Galaxy.


"Bisa dong, ini makannya bareng sama Kakak, sama temen-temennya juga," kata Galaxy. Memang apa sih yang tidak Galaxy berikan kepada kedua anaknya, pasti akan selalu dia turuti.


"Alana! Gigi kamu itu loh! Jangan terlalu sering makan makanan manis astaga," peringat Abella dari dapur yang kini sudah membawakan kopi untuk suaminya.


Alana memajukan bibirnya seraya meminta pembelaan pada Galaxy, mana bisa Gala tahan melihat putrinya yang sudah begini. "Gapapa, Sayang. Makan satu atau dua setelah itu gosok gigi dan minum antibiotik kan aman."


"Tuhh bener kata Papa, Mama nih suka marah-marah terus ke Ana," ucap Alana yang merasa memang dari sang Mama.


Abell melirik tajam ke arah suaminya seraya memajukan bibirnya juga, sudah terlihat jelas kan Alana menurun dari siapa? Tentu Ibunya sendiri. Bingung nih Galaxy kalau keduanya sudah merajuk begini.


"Lan tolong Papa, Lan. Ini Mama sama adeknya merajuk!" Ucap Galaxy.


Sementara Alano terkekeh karena itu, kasian sekali ayahnya harus menghadapi dua makhluk terkuat di rumah ini, apalagi kalau bukan wanita.


"Buang aja Ana, Pa. Sekalian buang sama si Jelly, nyusahin!" Teriak Alano dari sofa.


"ALANNN!!"


"Ilinnn!" Ledek Alano yang kini menghampiri mereka di ruang makan tentu dia memeluk Abella dan menciumi Mamanya itu agar tidak marah. Teman-temannya juga tidak masalah karena ya lucu saja keluarga Alano ini.


"Papa kamu tuh, Lan. Padahal tau sendiri kan, Alana giginya sensitif. Ah tapi kalian berdua sama aja, selalu nurutin Alana," kesal Abel.


"Mama cemburu sama anak itu gak baik loh," kata Alana menasehati.

__ADS_1


"Bukan cemburu tapi kamu ini bandel banget loh, gak mau nurut sama Mama!" Balas Abella tak mau kalah.


"Ana itu bukan gak mau nurut mama. Coba Mama pikirin gimana kalau eskrim sama cupcake cuma ada sampai hari ini aja dan besok-besok Ana gak bisa rasain lagi? Ana pasti bakalan nyesel banget karena gak pesen itu sama Papa hari ini, bayangin Ma," kata Alana dramatis.


"Oke masuk akal, tapi coba bayangin kalau hari ini hari terakhir Mama hidup dan Alana agak nurut sama Mama, gimana? Coba Ana bayangin," balas Abella tak mau kalah.


Galaxy menghela napasnya, pulang kerja dia sudah disuguhkah dengan drama dan juga perdebatan mereka. Pusing ternyata memiliki anak perempuan.


"Mama mah bahasannya ke sana terus, udahlah Ana kalah kalau kaya gitu. Gak boleh meninggal dulu atuh ihhh. Yaudah besok Ana gak makan manis lagi, hari ini aja. Nanti Ana langsung gosok gigi, minum obat, boleh ya Mama?" Tanya Alana.


"Gak boleh ya Ana," kata Abella meniru rengek manja Alana.


"Gak boleh tuh denger," ucap Alano yang memang sengaja menjahili adiknya.


"Boleh ya Mama?" Tanya Alana sekali lagi, kali ini lebih dramatis dari sebelumnya.


Abel menguyel-menguyel pipi anaknya gemas. Tidak bisa kalau begini, sudah pasti dia luluh. "Yaudah iya boleh.".


Gala memeluk putrinya erat, masih bocah sekali ternyata Alana. Masih sama seperti belasan tahun lalu. Bohong kalau Agam, Aiden dan Anggara tidak iri, walaupun melihat dari jauh tapi mereka merasakan kehangatan keluarga ini.


"Alana di sekolah baik, kan?" Tanya Galaxy seraya mengalihkan pandangannya dari piring ke arah Alano dan teman-temannya. Mereka sedang makan malam sekarang.


Tentu mereka pasti tau karena mereka anak-anak OSIS dan sudah pasti turun tangan untuk awas ospek.


Mereka semua berdeham, membuat Alana mendengus kesal pasti mereka akan mengadu soal tadi. Padahal kan yang salah itu adalah Agam, si ketua OSIS yang seenaknya memberi aturan tidak masuk akal.


"Lu yang jawab," ucap Aiden pada Anggara.


"Lu aja, Lan," tuding Anggara pada Alano.


"Lu lah," kini Alano malah menunjuk Agam dengan berdasar kalau dia adalah Ketua OSISnya.


Agam berdeham, agak rancu sih tapi dia harus mencari jawaban terbaik. "Baik, Om."

__ADS_1


Abella menangkap sesuatu yang disembunyikan oleh mereka. Seperti ada raut wajah tertekan pada mereka. "Oh ya? Alana gak buat masalah kan di sekolah? Gak kaya ospek waktu SMP kan, Nak?"


Alana seketika memasang wajah cerianya dan menggelengkan kepalanya. "Engga, Ana kalem kok. Ana diem aja, iyakan Alan?"


Alano menghela napasnya dan setelahnya menganggukkan kepalanya. Ya Abel sedikit khawatir saja, waktu Alana SMP dia menantang seluruh anggota OSIS untuk berdebat dengannya. Al hasil dia dibully dan akhirnya Abell lagi yang harus ke sekolah.


Belum lagi Alana terkadang di sekolah selalu ada saja tingkahnya, dari mulai berdebat dengan guru, satpam, kepala sekolah pun dia ajak berdebat. Bagaimana Abella tidak pusing menghadapi putrinya yang kelewat kritis dan juga iseng.


"Oh ya bagus, kalau begitu titip Alana ya, kalau dia bandel hukum aja gapapa," ucap Abel.


Alana memajukan bibirnya dan menatap Galaxy yang ada di sampingnya. "Papa, Papa harus jujur ke Ana. Pasti Ana itu bukan Anak Papa sama Mama ya?!"


"Loh kok begitu, Sayang?" Tanya Galaxy.


"Abis Mama tuh masa anaknya disuruh dihukum aja. Padahal ya mereka tuh bikin aturan banyak banget terus Ana dihukum disuruh lari, jahat banget kan? Terus abis itu Alan marah-marah juga ke Ana, kaya gini. Bisa gak Ana diem aja. Kan gak bisa ya Papa, kata Papa kalau kita gak salah harus gas aja lawan iya kan?" Tanya Alana panjang lebar.


Mereka berempat tersedak, gadis itu sudah dibela malah dia sendiri yang membongkar kejadian tadi. Belum lagi mereka takut kena amuk orang tua Alano karena sudah menghukum anaknya.


"Nah kan apa Mama bilang, kamu tuh kenapa sih suka banget berdebat sama orang?" Tanya Abella pada Alana.


"Gen kamu kalau kamu lupa," ucap Galaxy.


"Tuh, Mama gaboleh gitu ke Ana. Kan Ana mencontoh Mamanya," kata Alana berbangga diri.


Abella mendengus sebal, ya memang sih. Ya memang Alana ini copyannya, ah sialnya suaminya ini malah membongkar di depan banyak orang. Sementara yang lain hanya mengulum tawanya, lucu saja orang tua muda ini.


"Alana baik kok, Tan. Ya hanya saja sedikit sulit di arahkan. Maafkan saya sudah memberikan hukuman," ucap Agam me coba menenangkan Abella.


"Tidak apa-apa, maafkan Alana juga ya sudah bikin pusing kalian," balas Galaxy.


"Iya om santai aja, kita masih bisa handle Alana," ucap Aiden.


Alana memutar bola matanya malas. Sok baik sekali seorang Agam Alviano Abraham ini. Galaxy dan Abella memang bukan orang tua yang akan selalu membela anaknya kok. Mereka harus survive juga di sana. Kalau mereka berani berbuat, harus berani bertanggung jawab dan menanggung resikonya. Terlepas apa yang dilakukan Alana itu benar atau tidak kalau sudah dihukum berarti dia melanggar aturan dan Alana harus paham soal itu.

__ADS_1


__ADS_2