Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Who Is She?


__ADS_3


Alana turun dari kamarnya, perutnya sudah berontak untuk diiisi. Ya bagaimana tidak, semalam dia melewatkan makan malam karena kelelahan. Kebiasaan Alana ya begini, dia jarang ada kegiatan berat, sekalinya ada dia bisa tidur pulas seharian, bahkan pernah sampai dua hari.


Abella yang melihat anaknya turun dari tangga tersenyum. "Udah bangun, Sayang? Lapar ya?"


Alana mengangguk lalu menghampiri ibunya, dipeluknya Abella dengan erat, biasalah mode manjanya si anak bungsu, tapi Abella senang kok kalau anaknya sedang mode bayi seperti ini. Dengan lembut Abella mengusap rambut Alana dan mencium pipinya. "Makan dulu, Mama udah masakin ayam asam manis dan nanti Mama buatin susu kesukaan Ana."


"Ih mama tau aja kesukaan Ana tuh, oiya Alan sama Papa kemana, Ma?" Tanya Alana.


"Alan keluar sebentar, kalau Papa biasalah ada urusan ke luar kota. Kenapa, kangen papa ya?"


"Huum, tapi yaudah deh. Ana mau makan aja, lapar."


Abella mengangguk dan sedikit terkekeh, lucu sekali anaknya ini. Setelah itu Abella kembali ke dapur untuk membuatkan susu. Dia selalu suka saat-saat seperti ini, karena membuatnya jauh lebih dekat dengan Alana.


Alana duduk di meja makan, dia mulai menyukai nasi dan juga mengambil ayam yang sudah ada di sana. Ah ini sih makanan ke sukaannya, jangan salahkan Alana kalau dia makan sampai menambah.


Tapi itu memang tujuan Abella, Alana susah makan. Tapi kalau sudah dihadapkan dengan makanan kesukaannya dia mana bisa menolak, bahkan Alana bisa menghabiskannya sendiri sampai perutnya kenyang. Benar saja, terlihat Alana yang sedang lahap menyantap makanannya di meja makan.


Tak selang beberapa lama, Alano datang dan duduk di samping Alana. "Baru bangun? Kebo banget." Alano mencibir sembari mengusap puncak kepala Alana.


"Apasih, Alan. Orang cape, tapi serius bada Ana kaya remuk gitu. Ahh rasanya Ana mau tidur seminggu," keluh Alana.


"Itu namanya mati suri, bukan tidur."


Alana hanya tergelak, ya bagaimana ya. Dia ini hobinya ya rebahan, memang apalagi yang lebih nikmat daripada rebahan sambil mengemil? Abella tersenyum melihat kedekatan mereka, ibu mana coba yang tidak senang melihat kedekatan anaknya.


"Gak baik juga tidur lama-lama, pusing. Tidur secukupnya. Apa-apa secukupnya, karena sesuatu yang berlebihan itu gak baik." Abella pun menaruh susu strawberry itu di meja dan ikut bergabung bersama kedua anaknya.


"Iya-iya, Mama." Alana kembali melanjutkan makan siangnya. Sementara Alano dan Abella memperhatikan Alana. Mereka sudah biasa sih begini, Alana juga tidak risih, dia sadar diri kalau dia ini memang bontot.


Setelah selesai makan, Alana meminum susunya dan Alano dengan sigap mengusap ujung bibir Alana yang masih tersisa bekas susu. "Kaya anak kecil."


"Emang anak kecil kok," jawab Alana tak acuh.

__ADS_1


"Bener, sampe-sampe wajahnya juga banyak luka begitu. Kamu ngapain loh, Nak. Itu wajahnya jadi kaya gitu, wajah itu asset buat cewek. Anak gadis gak baik banyak baretnya."


Alana mengusap wajahnya sendiri, ya memang sih. Tapi bagaimana lagi, namanya juga kecelakaan. Alana juga tidak mau, tapi memang sedang bernasib sial saja. "Nanti juga sembuh, ini jatuh aja. Untung ditolongin Kak Agam."


"Tadinya Alan kok yang mau nolongin, gak tau jalan aja jadi gak dibolehin Agam," kata Alano sensi.


Alana menatap ke arah Alano, jadi dia cemburu nih ceritanya? Alana jadi mengulum tawanya. Padahal dia tidak bermaksud memuji Agam atau menyingkirkan Alano juga. "Yaudah sih sensi banget Alan."


"Makanya jangan Agam-Agam, udah kewajiban dia aja," balas Alano.


"Tapi emang harus makasih sih, Lan. Kalau gak ditolong dia, Ana bisa aja kenapa-kenapa," kata Abella.


"Betull."


Alano berdecak kesal, dia tidak suka sekali kalau begini. Nahkan dia jadi takut lagi kalau Alana ini menyukai Agam. "Biasa aja."


Alana menaruh susunya di meja lalu memeluk Alano dengan erat. "Marah-marah aja, padahal Alan itu best best best evernya Ana."


"Lebih keren dari Agam?"


"Iyalah, orang Alan jagain Ana dari kandungan. Kata mama malah Ana sembunyi 7 bulan di belakang Alan. Jadi Ana hangat."


"Aduhh iya deh si paling sibling goals, mamanya dianggurin."


Alano dan Alana terkekeh, setelah itu mereka membawa Abella untuk ikut berpelukan. Memang sederhananya hal kecil seperti ini adalah hal yang membuat semua orang bahagia.


.


.


.


"Kak mau kemana?" Tanya Kejora.


"Ke rumah temen, ambil barang. Kamu tunggu sebentar ya?" Ucap Agam.

__ADS_1


Kejora menggeleng dan bangkit dari sofa. Dia langsung berlari ke kamar dan mengambil jaketnya, setelah itu dia kembali ke hadapan Agam. Ya untuk apalagi kalau bukan mengikuti Agam.


"Mau ikut."


"Jangan, sebentar aja." Semalam Agam membatalkan niatnya untuk ke rumah Alano. Karena dia harus bicara banyak hal dengan kejora, jadi ya dia rasa tidak akan lama.


"Temen Kakak ceweknya? Who is she?!" Tanya Kejora posesif.


Agam menghela napasnya, adiknya ini memang kurang kasih sayang. Dia selalu takut kalau kasih sayang Agam terbagi. Meskipun Kejora tau kalau Agam ini sedingin es dan hanya bersikap hangat padanya. Tapi tetap saja dia selalu cemburu kalau sang kakak memiliki kekasih. Apalagi yang tidak dia suka.


"Cowok."


"Bohong!"


"Bener, tapi memang dia punya adik perempuan," jelas Agam.


"Suka sama adiknya?"


"Engga."


"Bagus, tapi aku harus tetep ikut. Aku bosen banget loh kak, aku mau ikut ya? Sekalian nanti pulangnya aku mau beli eskrim."


Mendengar penyataan mutlak itu Agam mau tidak mau mengiyakan kemauan adiknya, kalau tidak diikuti bisa-bisa Kejora marah seharian. Namanya juga bocah ingusan.


Kejora tersenyum puas, lihat saja. Kalau sampai adik teman kakaknya itu menggoda Agam, tidak akan dia biarkan, enak saja mau mengambil perhatian kakaknya. Langkahi dulu dirinya, baru bisa mendapatkan Agam.


"Di sana jangan macem-macem," peringat Agam. Bagaimana pun dia tau kalau Kejora itu orangnya menyebalkan. Pernah dia memasang wajah jutek kepada setiap temannya yang tidak dia sukai.


Pernah juga dia blak-blakan di hadapan orang yang terang-terangan menyukainya. Pokoknya Kejora itu posesif. Makanya kalau Agam sedang bermain-main atau berpacaran dalam 2 Minggu itu, dia tidak pernah mengajaknya bertemu Kejora. Sudah pasti berakhir detik itu juga.


"Gak janji," kata Kejora tak acuh sembari berlari dan memasuki mobil Agam yang terparkir di basement.


Agam lagi-lagi menghela napasnya, dia harus sabar-sabar. Dia hanya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa di rumah Alano nanti. Mengingat Alana dan Kejora ini satu tipe.


Tunggu, kenapa jadi Alana? Kan tujuan dia ke rumah Alano hanya mengambil barang, bukan mengenalkan perempuan pada adiknya? Nahkan pikirannya ini mulai ngaco. Gawat, Alana sudah mendominasi pikirannya sekarang.

__ADS_1


Bahkan semalam saja sempat-sempatnya dia memikirkan Alana, karena tidak ada kabar. Lebih tepatnya dia juga tidak akan tau kabar Alana, bertukar nomor saja tidak, sosmed pun tidak. Bodoh sekali memang. Bertanya langsung pada Alano? Bunuh diri namanya.


Agam mencoba mengalihkan fokusnya, setelah itu dia memasuki mobil dan memasang seatbel. Mungkin karena kelelahan dia jadi berpikir kemana-mana. Dia butuh tidur memang, Sudah tidak beres masalahnya.


__ADS_2