Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Punya Adik Itu Dipamerin, Bukan Dipendam!


__ADS_3


Alana menatap Alano yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya. Ya ini sebagai bentuk penjagaan, karena selain teman-temannya, banyak dari anak ekskul pria yang memperhatikan adiknya.


"Kenapa Alan?" Tanya Alana seraya menatap ke arah Alano.


"Jangan jauh-jauh, harus sama Alan terus," ucapnya.


Alana mengangguk lalu menarik napasnya pelan. "Alan maafin Ana ya, gara-gara Ana jadinya Alan kena hukuman."


Alano menipiskan bibirnya lalu tersenyum ke arah Alana dan membuat gadis itu juga tersenyum manis ke arahnya. Lagi dan lagi mereka yang ada di belakang menghela napasnya karena Alano dan Alana. Ya aneh saja.


Sesampainya di parkiran, Alano memasangkan helm pada Alana. Ya gadis itu mana bisa memasang helm, bisa hanya saja tidak bisa menguncinya. Jadi Alano lah yang selalu melakukannya.


Agam, Aiden dan Anggara menghela napas, jadi begini Alano kalau di hadapan Alana? Benar-benar bukan seperti Alano yang mereka kenal. Namun tiba-tiba Agam mengambil kemeja dari dalam tasnya dan melemparkannya pada Alano. "Lan."


Alano menangkap kemeja itu dan menatap Agam bingung. Sementara Agam hanya menunjuk ke arah bawah Alana. Dia memakai rok pendek, bahaya kalau menaiki motor seperti itu. Alano pun mengerti dan langsung mengikatkan kedua bagian tangan ke meja ke pinggang Alana.


"Kenapa loh?" Tanya Alana.


"Roknya pendek, bahaya. Besok-besok ke sekolah bawa jaket atau kemeja ya," pinta Alano.


Alana mengangguk paham, ya benar juga sih. Roknya ini terlalu pendek. Yasudah dia menurut saja pada Alano. Pokoknya mulai sekarang dia akan menurut saja pada kembarannya itu.


Agam melakukan itu bukan karena apa-apa juga sih, dia memiliki adik perempuan, ya meskipun masih kecil, tapi dia tau kalau Alano ingin menjaga Alana dengan baik. Dia merasakan menjadi seorang kakak dari adik perempuan itu penuh tanggung jawab. Tak heran juga kalau Alano sangat protect terhadap Alana.


Beres dengan keamanan Alana, langsung saja mereka semua melakukan motornya dan bergegas pergi ke rumah Alan. Dari semua tempat mereka pasti memilih untuk berkumpul di rumah Alano, karena menurutnya keluarga Alano yang paling harmonis di antara mereka.


Alana menatap ke jalanan, merasakan keindahan kota Jakarta. Meskipun di sini panas sekali sih tapi Alana senang bisa bersama Alano lagi, ya seperti sekarang. Alana tersenyum seraya mengeratkan pelukan pada Alano.


Sudah biasa memang seperti ini, bahkan sejak dalam kandungan Alana selalu berada di belakang Alano, itu kenapa dia baru terdeteksi saat usia 6 bulan. Kata Mamanya sih, Alana juga tertawa mendengarnya. Mungkin sejak masih dalam kandungan Alano memang selalu berusaha menjadi pelindungnya.


Tak selang beberapa lama, mereka pun sampai di rumah Alano dan Alana. Dengan senangnya Alana melepas helm dan juga berlari ke dalam rumah, seaktif itu memang dia sampai-sampai meninggalkan Alano bersama teman-temannya. Alano hanya terkekeh pelan melihat kelakuan adiknya, benar-benar bocah.


"Lu bohong ya, Lan? Adek lu kali, ya kali kembaran. Gemes banget," ucap Aiden.

__ADS_1


"Emang gitu anaknya. Masuk." Alano menghela napas lalu setelahnya dia mengajak teman-temanya masuk ke dalam.


Sepertinya Alana sudah ke atas, karena di sana hanya ada Abella yang sedang sibuk memilah bahan, rumah mereka ini memang sengaja tidak memiliki pembantu, ya meskipun mereka tergolong kaya raya, tapi Abella memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak-anaknya dengan baik.


"Assalamualaikum," ucap mereka berbarengan.


Abella berbalik dan tersenyum. "Waalaikumsalam."


Alano dan yang lainnya bergantian menyalami Abella. Bukan hal baru juga sih, mereka sering ke sini dan Abella senang-senang saja, karena kemarin Alana juga tidak ada di sini, ya mengobati rasa rindunya pada Alana lah ada 4 bujang di rumahnya.


"Eh, Tante Abel tambah cantik aja," goda Anggara. Tuhkan sudah Alano bilang, bahkan Mamanya saja jadi bahan rayuan teman-temannya.


"Bisa aja kamu, Gara. Makasih loh. Kalian gak pulang dulu?" Tanya Abella.


"Engga, Tan. Rencananya Agam sama yang lain mau menginap di sini boleh, Tan?" Tanya Agam.


"Oh boleh, nanti Tante siapin cemilan ya kalau gitu," ucap Abel.


"Gak usah repot-repot, Tan jadi gak enak. Tapi brownies buatan Tante enak banget," kata Aiden malu-malu.


Abella terkekeh. "Oh gitu, yaudah nanti Tante buatkan untuk kalian ya? Yaudah kalian mau ke atas?"


"Main sama Jelly, udah ke kamar tuh anaknya. Yaudah kalau gitu Mama mau masak dulu ya. Cium dulu." Abel mendekatkan dirinya dan mencium putranya, dia membiasakan diri memang mencium anak-anaknya. Agar mereka juga dekat, meskipun Alano kadang menolak karena malu dilihat teman-temannya.


Tapi sejujurnya mereka tidak meledek, mereka malah iri dengan Alano yang nampak dekat dengan orang tuanya, bahkan dengan papanya pun begitu.


Setelah izin dan berpamitan, mereka semua langsung mengikuti Alano ke kamarnya. Aneh, kemarin-kemarin mereka ke sini tidak pernah melihat photo Alana, sekarang malah di mana-mana banyak photo Alana yang dipajang, dari photo keluarga mereka saat Alano dan Alana kecil, balita, remaja dan saat ini ada semua.


"Pinter banget lu jaga privasi, Lan," gumam Agam seraya terkekeh pelan.


Ya dia bisa tertawa, tapi hanya saat bersama teman-temannya saja. Alano sih hanya tersenyum, ya memang dia sengaja melakukannya karena tidak mau Alana menjadi incaran teman-temannya.


"Harus, kalau gak kalian udah incer duluan adek gua," jawab Alano terang-terang.


"Jadi lu sengaja nyembunyiin dari kita, Lan? Parah punya adek cantik itu pamerin, jangan dipendem!" Cetus Anggara yang dihadiahi hentikan jari dari Aiden.

__ADS_1


"Lu harus tau rasanya jadi kakak dari adek cewek, pasti lu pada paham alasan Alan protect adeknya," ucap Agam.


Alano mengangguk-menganggukkan kepalanya. Agam dan dia memang terkadang bisa menjadi sangat clop kalau urusan begini. Tapi kalau sekalinya beda haluan, mereka akan sama-sama tukuh pada pendirian masing-masing.


"Jelly siapa lagi dah, adek lu juga?" Tanya Aiden.


"Kucing, dia bawa kucing dari Bandung," balas Alano.


"Jangan sampe tu makhluk muncul di hadapan gua," ucap Anggara.


Sesampainya di atas mereka mendengar suara asing dari kamar Alana. Suara yang akhir-akhir ini memang sering terdengar di pendengaran Alano. Apalagi kalau bukan : Lagu Korea. Tidak terlalu keras sih, tapi kalau dari luar kamar Alano ya terdengar.


🎶 Nct Dream – Candy


Danji neol saranghae ireoke malhaetji


Ijekkeot junbihaetteon


Maneun mareul dwirohan chae


Eonjena ni yeope isseulge


Ireoke yaksogeul hagesseo


Jeo haneureul baradabomyeo


Terdengar suara Alana sedang bernyanyi dan suara kucing yang mengeong seolah menikmati musiknya. Memang benar-benar seperti gadis remaja pada umumnya yang gila dengan Korea.


Anehnya Alano tidak terusik, dia malah tersenyum saat berdiri di depan kamar Alana yang tertutup. Sebegitu sayangnya Alano pada Alana sampai apapun yang dilakukan Alana dia tidak protes.


"Rumah lu jadi makin rame ya ... " Ucap Aiden.


"Ya gitu."


"Bener, tapi wajar lah namanya juga cewek. Sepupu gua juga gitu," kata Anggara.

__ADS_1


Alano harus mengakui sih rumah ini semakin ramai dengan kehadiran Alana, karena memang Alana yang paling berisik di rumah ini. Ya bagus, karena kalau tidak ada dia justru ada yang kurang.


Mereka melewati kamar Alana dan masuk ke kamar Alano. Rencananya mereka memang akan menginap sampai ospek selesai, selain karena jaraknya lebih dekat dengan sekolah, keadaan rumah mereka sedang tidak baik, memang selalu rumah Alano ini pelarian terbaik.


__ADS_2