Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Kejadian Menyebalkan


__ADS_3


Pagi harinya, mereka berangkat ke Villa menggunakan bus. Tadinya Alana ingin satu bisa dengan Alano. Tapi yang dia dapati adalah satu bus dengan Agam.


Apalagi saat Alana mengedarkan pandangannya, kursinya sudah penuh semua dan hanya menyisakan satu kursi kosong di samping Agam. Alana menghela napas, dia berniat turun tapi pak supir sudah masuk, membuat Alana mau tak mau kembali dan menghampiri Agam.


Agam tidak modus dan menyisakan satu tempat duduk sebenarnya, tapi memang Alana telat karena ingin buang air kecil dulu tadi, alhasil dia tidak mendapatkan tempat duduk.


"Permisi, Kak." Alana menatap Agam yang belum mau beranjak dari sana.


"Kak kursinya yang kosong cuma itu."


Lagi-lagi Agam tak memberikan respon, sampai akhirnya bus itu berjalan dan membuat Alana hampir terjatuh karena posisinya. Dengan sigap Agam menangkap pinggang gadis itu.


Mereka berdua sama-sama kaget, tapi Agam memang selalu menyembunyikan apapun yang dia rasakan dengan wajah datarnya. Alana kesal sekali, kenapa sih pria itu pagi-pagi begini membuatnya kesal?


Perlahan Agam berdiri dan melepaskan tangannya dari pinggang Alana. Setelah itu dia mempersilahkan Alana untuk duduk di dekat kaca.


"Cepet duduk."


Alana mendelik, dia kesal sekali. Kenapa setelah Alana hampir jatuh dia baru mau menyingkir. "Dasar senior gak ada akhlak!"


"Kamu bilang apa?" Tanya Agam seraya menatap ke arah Alana.


"Gak ada!"


Agam hanya mengedikan bahunya, setelah itu dia kembali terdiam dan fokus menikmati musik Dari earphone nya. Sebenarnya dari tadi banyak yang menatap ke arah mereka, tapi seperti biasa keduanya ini memang cuek, jadi mereka mengabaikannya.


Alana mengeluarkan permen loli dan juga novel dari tasnya, daripada dia bosan. Lebih baik dia membaca novel saja.


Nyatanya melihat Alana membaca novel serius membuat Agam terpana. Tanpa sadar dia kini melirik ke arah Alana dan menatapnya. Alana juga tidak sadar kalau sedaritadi Agam memperhatikannya.

__ADS_1


Sesekali Agam menghirup udara, dia dapat merasakan wangi strawberry dari rambut Alana yang entah kenapa membuatnya kecanduan. Apalagi mengingat semalam Alana memberikannya makanan manis.


"Udah liatinnya?" Tanya Alana gamblang saat menyadari kalau Agam menatapnya.


Agam menghela napas, bisa-bisanya dia tertangkap basah memandangi gadis itu. "Saya tertarik dengan bukunya, bukan kamunya."


"Emang ada ya aku bilang kalau kak Agam tertarik sama aku? Engga, kan?"


Skak, Agam kalah telak kalau begini.


Tapi dia memilih diam tak menjawab apa yang Alana lontarkan. Salah-salah gadis yang ada di sampingnya ini malah percaya diri kalau Agam menyukainya. Seorang Agam tidak akan pernah menyukai wanita manapun.


Tapi memang logika dan hati kadang tak sejalan, kini Agam malah kembali memperhatikan Alana, membuat Alana merasa risih karena diperhatikan seperti itu. "Jangan liatin aku!"


Agam mengambil paksa buku yang ada di tangan Alana, dia membaca cover buku seolah memang tertarik dengan buku itu. "Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin."


"Terima kasih." Agam mengembalikan buku itu pada Alana. Membuat Alana ingin mencakar-cakar wajah tampan itu sekarang juga.


Perjalanan mereka menuju Vila memakan waktu selama kurang lebih satu jam. Maklum saja, daerah yang mereka kunjungi ini berada di sebuah dataran tinggi yang memiliki medan cukup terjal.


Para peserta bahkan dibuat sedikit uji nyali ketika bus yang mereka tumpangi harus melewati jalanan yang curam dan bersebelahan dengan jurang. Ditambah dengan cuaca hujan yang membuat jalanan licin.


Akan tetapi ketakutan mereka terbayarkan ketika mereka telah sampai di tujuan. Di sebuah Villa bernama Roseanne Resindence. Seperti namanya, halaman villa itu dipenuhi dengan bunga mawar berwarna putih, merah muda, dan merah.


Hujan sudah reda ketika mereka sampai, menyisakan udara dingin yang menusuk kulit. Meskipun matahari masih enggan menampakkan diri, tetapi sinarnya masih mampu mengusir rasa dingin yang Alana rasakan. Gadis yang kini menggunakan jaket berwarna merah muda.


Sesaat Alana terpaku pada bunga-bunga yang tubuh menjalar di lobi villa. Senyum tipis mengembang dari bibirnya. Kemudian tangannya terulur hendak memetik bunga berwarna putih. Belum juga tangan itu sampai sebuah suara membuatnya mengurungkan niat.


Riuh ratusan siswa membuat fokusnya teralih. "Itu apaan, sih? Rame banget yaampun," gumanya.


Bersamaan dengan itu dia melihat Talia tengah berlari dari kejauhan. Alana lalu melambaikan tangannya kepada Talia.

__ADS_1


"Tal!" Panggilnya.


"Alana buruan sini!" sahut Talia yang juga memberikan kode kepada Alana agar dia mendekat, tetapi temannya itu justru tetap pergi dan tidak menunggu Alana.


Sebagian siswa sudah berlari menuju asal suara. Hingga ia juga terburu-buru melangkahkan kaki. Alhasil ia jatuh terjerembab ke tanah yang licin. Beruntung ada rumput-rumput tebal yang tumbuh.


Walaupun sedikit basah, setidaknya tak membuatnya kotor karena bersentuhan langsung dengan tanah.


"Akhh! Kenapa pake jatuh sih!" Alana berdecak kesal sembari memukul tanah seolah tanah itu yang salah. Dia menoleh ke belakang ternyata ada tali rafia berwarna merah yang sengaja di pasang di sana.


"Ck! Siapa sih yang masang beginian. Bikin jatuh orang!" Gerutunya melepas rafia itu.


Lalu matanya tertuju pada sepasang sepatu gunung berwarna cokelat yang tak asing berada tepat di depan wajahnya. Alana tau benar jika Sepasang sepatu itu milik laki-laki menyebalkan yang tidak ingin dia temui saat ini.


"Ceroboh!" Ucapnya.


Sontak Alana mendongakkan kepala, menatap pemilik suara menggelegar yang familiar di telinganya. Pria itu berdiri tinggi menjulang di hadapan Alana tanpa menjual ekspresi apapun. Siapa lagi kalau bukan sang ketua OSIS?


Agam memakai baju berwarna hitam polos, celana jeans, dan sepatu gunung berwarna cokelat yang tampak serasi. Sungguh, Agam tampak keren dengan bajunya yang seperti itu.


Sayangnya, Alana tak mau mengakuinya. Lantas Alana berdecak kesal. "Kok malah ngatain, sih! Bukannya nolongin."


Ya kesal saja padahal Alana sedang kesakitan tapi dia berdiri begitu angkuh seolah menyepelekan apa yang dirasakan Alana. Padahal kalau boleh jujur kakinya ini sakit sekali. Ditambah dia tersandung batu dan membuat ibu jarinya sangat sakit sekali.


Sekuat tenaga dia bangun dari posisi tengkurapnya. Lalu berdiri dan memeriksa dirinya sendiri. Tidak ada luka serius di sekujur tubuhnya. Akan tetapi rasa nyeri pada sekitar jari-jari kakinya membuatnya meringis.


Alana menyentuh kakinya sendiri. Lalu Dia menatap Agam yang masih berekspresi datar. Sumpah, ya! Agam ini benar-benar menyebalkan. dia tidak menolong saat Alana jatuh, sekarang malah berdiri seperti patung.


"Kakak Kalau gak mau nolongin minggir aja deh!" Katanya menatap Agam sebal.


Tanpa basa-basi Agam melenggang pergi seperti yang Alana inginkan. Serius, pemuda itu tak berperasaan, sama sekali. AGAM!! ALANA BERJANJI KALAU DIA TIDAK AKAN HIDUP TENANG.

__ADS_1


Seperti itulah dia mengumpati Agam dalam hatinya sendiri.


__ADS_2