
"KALIAN KENAPA BERDEBAT SIH AKU GAK BISA TURUN TOLONGIN. AAAAA ALAN MANA SURUH BANTUIN AKU AJA KALAU KALIAN GAK MAU!" Rengek Alana yang sudah benar-benar kesal karena ini. Tidak peduli ini sekolah atau bukan dia sangat kesal dikerjai seperti ini.
Mendengar itu jujur telinga Agam penging sekali, masalahnya suara Alana ini melengking dan menusuk telinganya. Berisik sekali pokoknya. Agam berdecak pelan, menatap tajam pada Celine lalu menghampiri pohon dan menatap Alana yang masih di atas.
"Jangan diliatin aja kenapa sih, Kak. Tolongin akuuu huaaaa." Alana kembali menangis, serius dia takut sekali, masalahnya tubuhnya ini sudah lemas sekali karena ketinggian juga.
Agam menghela napas. "Duduk dulu di rantingnya dengan benar, cepat."
"EMANG INI GAK BENER?!" Sungut gadis itu.
"Belum, duduk dan turunkan kaki kamu ke bawah. Seperti duduk di kursi."
"YA GIMANA SUSAH! GAK MAU! TOLONG AMBILIN TANGGA, KAK."
"Tidak, cepat kamu ikuti perintah saya atau mau saya tinggal."
"JANGAN! Iya-iya, sebentar jangan ditinggalin ... " Alana merengek, membuat Agam mengulum tawanya, lagi pula kenapa mau saja sih disuruh naik ke atas. Memang benar-benar ajaib adiknya Alano ini.
Alana mengubah posisinya menjadi duduk, dengan tangisnya yang masih tersengguk-sengguk Alana menatap ke bawah, tinggi sekali.
"Lompat, saya akan tahan kamu di bawah."
"Hah?! Kak Agam mau buat saya meninggal ya? Kalau jatuh terus kena batu gimana, kalau geger otak gimana, kalau saya nanti lu–"
"Cepat, Alana! Saya tidak punya banyak waktu!" Jujur Agam pusing sekali menghadapi Alana yang rewel begini, lebih baik dia membantah saja rasanya.
"Gimana loncatnya gak berani, gak mauuuuu. Tolong panggilin Alan aja nanti Alan bantuin Anaa turunn!!! AAAAA ALANNN," rengeknya.
"Shiitt!" Gumam Agam dalam benaknya.
"Alano tidak ada, cepat lompat atau saya benar-benar akan tinggalkan kamu sekarang!" Agam benar-benar melangkahkan kakinya namun ...
"IYAA OKE JANGAN DITINGGALIN!" Teriak Alana panik.
__ADS_1
"Yasudah cepat." Agam kembali ke posisi semula. seraya menatap Alana. Pohon ini tidak terlalu tinggi juga kok, Alana saja yang memang tidak bisa turun. Lagi, dia sudah membuat perhitungan kalau ini aman.
Alana menarik napasnya dengan susah payah, dengan memberanikan diri Alana memejamkan mata, menyerahkan semuanya pada Agam kalau dia akan aman. Lagi pula Agam pasti takut dengan Alano. Dalam hitungan ketiga Alana melompat dari sana dan ...
Brukkk ...
"Akhhhh ... " Ringis Agam karena tertimpa tubuh gadis kecil itu. Ternyata Alana cukup berat sampai mereka jatuh dengan posisi Alana di atasnya. Tapi melihat gadis itu menangis sampai air matanya jatuh di pipi Agam membuat Agam juga tidak tega sebenarnya.
"Aku masih hidup, kan? Empukkkk!!!!"
"Bisa turun? Kecil-kecil gini kamu berat!!"
Alana membulatkan matanya astaga kenapa posisi jatuhnya seperti ini sih. Tapi saat Alana akan turun tiba-tiba.
"Alana!"
Suara itu membuat keduanya kaget, dengan cepat Alana turun dan memeluk Alano. Dia ketakutan sekarang. Bukan masalah dikerjai, tapi memang Alana juga takut dengan ketinggian dan dia pernah semalaman di atas pohon karena tidak bisa turun.
Alano yang tadinya ingin marah pada Agam jadi khawatir dan memfokuskan dirinya pada Alana. Alano membalas pelukan adiknya itu dengan erat, pantas saja perasaannya tidak enak. Ternyata memang Alana sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa? Baik-baik aja?" Tanya Alano panik.
"Minta maaf!"
"Apasih gue gak salah, gue cuma minta ambilin mangga aja, dia aja yang caper nangis segala."
Mendengar itu rahang Alano mengeras, apa katanya? Jadi Celine dan Dea memaksa Alana naik ke atas pohon untuk mengambil mangga? Keterlaluan!
Perlahan Alano melepaskan pelukan Alana, sementara Alana berada di belakang sambil menggenggam tangan Alano. "Caper lu bilang? Dia phobia ketinggian dan trauma naik ke atas sana dan lu bilang caper?"
"Emang caper! Satu satunya peserta ospek yang berani langgar aturan siapa sih? Dia kan? ITU KARENA DIA MAU CURI PERHATIAN LO, DIA MAU CURI PERHATIAN AGAM DAN–"
"DIA KEMBARAN GUA, ADEK GUA!" Alana menggenggam tangan Alano kuat, baru kali ini dia melihat Alano semarah itu karena membelanya. Belum lagi peserta ospek yang lain ada di sana, otomatis semuanya melirik ke arah mereka.
"K-kembaran?"
__ADS_1
Alano masih menahan emosinya, dia tau kalau Alana benci saat dia marah. Dia masih melihat Alana yang ketakutan. Jadi hanya bisa mengepalkan tangannya.
"GUA PERINGATIN SIAPAPUN YANG GANGGU DIA, BERURUSAN SAMA GUA!" Setelah mengatakan itu Alano menarik tangan Alana dan membawanya menjauh dari kerumunan.
Dia khawatir sekali dengan Alana, namanya juga anak kembar. Jadi apapun yang dirasakan Alana, sudah pasti Alano juga merasakan hal yang sama, karena mereka tumbuh di rahim yang sama dan sudah sejak dalam kandungan juga bersama. Dia jadi merasa gagal menjaga Alana.
Meskipun memang terlihat sepele, tapi bagi Alano ini bukan hal sepele. Alana sampai menangis dan dia tidak akan memaafkan siapapun yang membuat Alana menangis.
Aiden dan Anggara melihat itu jadi cemas juga apalagi Agam kini juga tengah marah besar. Belum lagi dia mengumpulkan semua panitia dan mencoba menenangkan peserta yang lainnya agar acara bisa tetap berjalan. Tapi tidak dengan Alano, dia membiarkan Alano menenangkan Alana dulu. Dia juga paham kok kalau Alano semarah itu.
"Alan maafin Ana," ucap Alana.
Alano tidak menjawab, bukan marah pada Alana. Dia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Alana. Alano terus menarik tangan Alana dan membawanya ke ruang OSIS.
"Duduk."
Alana takut sekali dengan Alano yang seperti ini, jadinya dia menurut dan duduk di kursi. Sementara Alano membukakan tutup botol air mineral dan memberikannya pada Alana.
Alana meminum airnya, karena memang dia juga kehausan setelah menangis. Namun dia kembali menatap Alano yang berdiri di hadapannya. "Alan maafin Ana ya?"
"Kenapa sih suka banget nyalahin diri sendiri?" Kesal Alano.
Alana terdiam, dia meminta maaf ya karena membuat Alano jadi emosi dan membuatnya jadi repot karena memiliki kembaran seperti dirinya yang terkadang banyak takutnya ini.
"Kenapa mau aja disuruh naik ke atas pohon padahal udah tau takut?"
"Kata Alan jangan ngelawan lagi, nanti kalau Alan dihukum gara-gara Ana lagi gimana?"
Alano menghela napas, tapi maksud Alano bukan diam yang seperti ini. Memang Alana ini entah polos, entah apa. Tapi membuatnya gemas saja, untung Alana adalah kembarannya.
"Bukan kaya gitu diemnya!"
"Yaudah maaf ya Alan," ucap Alana dengan penyesalan dan memeluk Alano yang ada di hadapannya. Alano marah tapi dia tidak bisa kalau Alana seperti ini, jadi dia membalas pelukan Alana seraya mengusap rambutnya dengan perhatian.
Untung saja Alana tidak kenapa-kenapa. Apalagi kalau dia sampai jatuh dari pohon sana dan terluka, sudah pasti Celine dan Dea habis kena amukannya.
__ADS_1
"Apa yang sakit?" Tanya Alano.
Alana menggeleng, memang tidak sakit. Hanya kaget saja. Kaget karena dia harus melompat dari ketinggian dan kaget memikirkan Agam yang tadi sudah dia timpa. Apa pria itu baik-baik saja ya? Alana jadi tidak enak.