Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Dasar Buaya!


__ADS_3


"Kalian ngapain?" Suara serak itu menginstruksi mereka untuk menatap ke arahnya. Alana melihat itu memejamkan matanya erat, aduh kenapa sih Alano ada di sini?!


Alana dan Agam langsung menjauh satu sama lain, namun tangan Alana masih dalam genggaman Agam. Membuat Alano melepaskan tangan mereka begitu saja.


Alano melihat telapak tangan Alana yang terkena luka bakar. "Kenapa?"


"I–itu tadi emm–"


"Matiin rokok gua," jawab Agam enteng.


Alano menatap mereka bergantian dengan curiga. "Kalian ngapain berduaan?"


"Gak tau adek lu, gua cabut." Agam yang tak mau membuat Alano curiga berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Alana yang masih harus diobati.


Akan lebih kacau kalau sampai Alano berpikir macam-macam. Sudah pasti sih, orang yang melihat pun pasti akan curiga. Apalagi ini hampir tengah malam.


Sebenarnya Alano masih banyak pertanyaan, tapi melihat Alana yang harus diobati, jadi Alano mengobati Alana terlebih dahulu. "Kenapa matiin rokok Agam?"


"Kata papa gak boleh, kan?" Tanya Alana berbalik.


"Bukan urusan kamu, Na. Jangan peduliin orang lain yang bukan siapa-siapa."


"Tapi–"


"Gak suka sama Agam, kan?" Tanya Alano retoris. Membuat Alana sedikit menahan napasnya saat Alano menatapnya dengan intens begini.


"Hahahaha e–enggak lah, ngapain juga suka sama kak Agam. Engga suka Ana tuh," jawab Alana sambil terkekeh.


Namun melihat Alana yang seperti itu membuat Alano jadi curiga. Akan bahaya kalau Alana sampai menyukai Agam yang pacaran saja hanya 2 Minggu. "Jangan deket-deket lagi."


"Itu karena Ana makasih aja kok karena ditolongin, emangnya gak boleh ya ucapin makasih?"

__ADS_1


Alano menghela napasnya. Bukan tidak boleh tapi akan lebih bahaya nantinya kalau Alana jatuh cinta pada temannya. "Boleh, tapi jangan berlebihan."


Alano memilih untuk kembali mengobati luka pada Alana dan menutupinya dengan hati-hati. Membuat Alana memajukan bibirnya. "Padahal cuma ucapin makasih tapi Alan kaya gasuka, apalagi nanti ana punya pacar cih."


"Siapa yang izinin pacaran?" Tanya Alano dengan tatapan tajamnya.


"Ya nanti kalau udah gede gitu misalnya," balas Alana sembari menghela napasnya panjang. Selalu saja Alano posesif begini padanya.


"Ya nanti aja dipikirin, belajar dulu."


Alana kembali menghela napasnya, susah memang kalau dia menjadi anak paling kecil begini. Mau melawan tapi dia bergantung pada Alano, tapi Alana merasa ingin memiliki dunianya sendiri.


Tapi kenapa dia sedih ya saat Alano melarangnya pacaran? Kenapa dia jadi memikirkan nasibnya dengan Agam. Mereka kan tidak ada hubungan. Alana sudah mulai ngaco nih, masa iya dia kepikiran dengan kata-kata Agam tadi di taman. Belum lagi Agam menanyakan soal perasaannya. Memang jatuh cinta itu seperti apa? Alana juga tidak tau.


"Kembali ke kamar, tidur. Kalau gak tidur, ikut di kamar Alan."


Alana menggelengkan kepalanya cepat. Dia memilih untuk menurut saja dan berlari menuju kamarnya. Sementara di sisi lain Alano mulai kepikiran. Dia pikir yang harus diwaspadai itu adalah Aiden dan Anggara, ternyata dia kecolongan oleh Agam.


Pasalnya dia tidak bisa dibohongi, Agam mana pernah sih sepeduli itu pada wanita. Pernah ada wanita yang jatuh dihadapannya sampai terluka parah tapi dia biasa saja. Apalagi luka bakar sekecil ini? Kenapa dia malah terlihat sangat peduli pada adiknya?


Setelah selesai persiapan pulang, Alana kini masuk ke bis. Kali ini dia duduk dengan Alano. Semalam dia yang meminta pada Agam agar satu bis dengan Alana.


Ya alasan terbesarnya adalah karena dia tidak mau kalau Alana duduk bersama Agam. Kemarin dia tau dari Agam kalau dia duduk bersama Alana. Sebelumnya dia tidak khawatir, tapi sekarang dia memang harus over protektif demi melindungi Alana.


Alana sih biasa saja, tapi tanpa mereka berdua sadar kalau Agam memperhatikan mereka berdua dari kursi belakang. Dia merasa kepikiran saja akibat kejadian semalam. Namun dia juga biasa saja sih. Dia masih meyakinkan dirinya untuk tidak jatuh hati pada adik sahabatnya.


"Alan," panggil Alana.


"Kenapa?" Tanya Alano seraya menatap ke arah Alana.


"Hp Ana mana?" Pinta Alana dan mengulurkan tangannya pada Alano.


Semua peserta memang tidak boleh memegang ponsel, itu kenapa Alana menintipkannya pada Alano. Berhubung sekarang sudah pulang, jadi Alano mengembalikan ponsel Alana yang dia taruh di sakunya.

__ADS_1


"Mama pasti kangen Ana," gumamnya.


"Kangen lah, gak ada yang berisik. Bisa jadi si Jelly mati," ucap Alano yang membuat Alana langsung membulatkan matanya.


"Gak boleh gitu ih sama kucing Ana, ada dendam apa sih sama Jelly, padahal dia anabul Ana yang cantik, penurut, bulunya halus, matanya biru, cantik!" Kesal Alana.


"Jelek," ledek Alano seraya menarik hidung Alana gemas.


"Aaaaa sakitt!! Awas ya tar Ana laporin ke papa, masa Jelly disumpahin mati. Parah banget, padahal itu hadiah ulang tahun dari papa. Oke nanti diulang tahun sekarang Ana mau minta ke papa bikin peternakan kucing di rumah," ucap Alana sungguh-sungguh.


"Berani?" Tanya Alano seraya menatap Alana tajam.


"Ya Alan sih, kenapa gitu banget sama anabul Ana. Ana sumpahin Alan pacarnya suka anabul kaya Ana," kata Alana.


Alano terkekeh, bisa-bisanya Alana bicara seperti itu. Tapi entah kenapa Alano malah tidak memikirkan wanita sama sekali. Dia memang ingin fokus dulu belajar. "Iyain aja deh."


Alana kembali memajukan bibirnya, membuat Alano gemas dan memeluk adiknya itu gemas. Alana ini terlalu gemas untuk dibagi kepada siapapun. Jadi selama dia masih kecil Alano harus menjaganya.


Dari belakang Agam tersenyum melihat kedekatan Alana dan juga Alano. Dia jadi merindukan Kejora. Dia juga sudah berjanji akan mengajak gadis itu bertemu setelah selesai ospek.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim beberapa pesan pada Kejora agar menunggunya pulang dan bisa bertemu. Setelah itu sebuah senyum terukir di bibir Agam.


Alana yang kebetulan sedang melihat ke belakang langsung menatap ke arah wajah Agam yang nampak sumringah. Sepertinya soal tadi malam Agam memang tidak benar-benar serius.


Katanya orang yang sibuk dengan ponselnya dan tersenyum begitu sedang menghubungi kekasih. Kenapa Alana kecewa ya membayangkan Agam mempunyai kekasih. Alana kembali menatap ke depan.


Membuat Alano yang menatap perubahan wajah Alana kebingungan. Kenapa Alana jadi mendadak sedih begitu. "Kenapa?"


Alana menggeleng lalu memeluk Alano. "Ana ngantuk. Nanti bangunin Ana kalau udah sampai ya?"


Alano mengangguk lalu menyandarkan kepala Alana di dadanya. Tangannya juga terulur mengusap rambut adiknya dengan lembut lalu tak lama dari itu Alana memejamkan matanya. Lebih baik dia tidur daripada memikirkan Agam yang buaya itu.


Alano benar, kalau teman-temannya itu tidak benar. Untuk apa juga Alana terbawa perasaan pada mulut manis Agam yang dia lakukan pada banyak wanita.

__ADS_1


__ADS_2