Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Kembaran Posesif


__ADS_3


Pulang sekolah setelah selesai mandi Alana langsung menuju kamar Alano dan mengetuk pintunya.


"Alannnn!!"


Mendengar panggilan itu Alano menghela napas, dia sedang bermain game bersama teman-temannya, tapi karena tau Alana akan marah padanya jadilah Alano membuka pintu.


"Apa, Na?"


"Mau ikut Alan main game," pinta Alana.


"Ada temen-temen Alan," balasnya datar.


"Emang kalau ada temen-temennya Alan gak boleh main sama Alan?" Tanya Alana memajukan bibirnya. Dia kesepian sih, semenjak kemarin Alano sibuk dengan teman-temannya jadi tidak ada yang mengajaknya bicara.


"Gak boleh."


Lalu Aiden keluar dari kamar Alano dan tersenyum ke arah Alana. "Mau ikut ngumpul?"


Alana sebenarnya malas harus bicara dengan Aiden tapi Alana mengangguk, kalau Alano tidak mengizinkannya biar Aiden yang mengizinkannya agar Alana bisa ikut.


"Mau."


"Gak boleh!" Tukuh Alano.


"Kenapa sih, lagian Alana paling cuma pingin diajak ngobrol, liatin doang gak akan ganggu, iyakan, Na?" Tanya Aiden memberi sedikit pembelaan pada Alana.


Alana mengangguk, benar sekali perkataan Aiden dia tidak akan menganggu kok, dia hanya ingin punya teman saja. Kan temannya di sini hanya Alano, masa iya Alano mendiamkannya seperti ini?


Alano menghela napasnya, apalagi melihat kaos putih kebesaran dan juga hotpant jeans yang Alana pakai. Dia tidak mau deh kalau Alano jadi bahan mata jahat teman-temannya.


"Sekali gak boleh gak boleh, Na. Sana ke kamar atau main sama Jelly," balas Alano.


Alana meneguk air liurnya, kenapa sih Alano tidak mau menemaninya, apa teman-teman Alano lebih asik ya dari pada dirinya. "Ana gak asik ya, Alan?"

__ADS_1


Aiden juga bingung kenapa Alano tidak mau mengajak Alana, padahal yang lain pasti fine-fine saja kalau Alana bergabung, lagi pula dia adiknya Alano, tidak mungkin mereka tidak mengizinkannya.


"Gak gitu, Na ... Udah ke kamar sana, Alan mau main lagi. Nanti malam Alan temenin nonton little pony kesukaan Ana." Alano membalikkan tubuh Alana dan sedikit mendorongnya untuk masuk ke kamarnya. Setelah itu Alano kembali menutup pintu kamarnya dan bermain bersama yang lainnya.


Alana duduk di tepi ranjang, kalau tau Alano berubah begini dia tidak mau meninggalkan Oma dan Opanya. Di sana juga dia memiliki banyak teman masa kecil jadi dia tidak kesepian.


Mungkin memang semakin beranjak dewasa dia harus memahami kalau dunia Alano bukan lagi tentangnya. Banyak orang yang lebih asik untuk diajak bicara daripada mendengarkan Alana yang hanya bisa membuat kepalanya pusing. Alana cukup sadar kok untuk hal itu sekarang.


.


.


.


Di kamar Alana, dia sedang fokus membaca novel di meja belajar. Namun tiba-tiba Alano datang menghampirinya. Sebenarnya mereka tadi bertengkar tidak sih. Karena Alana merasa tidak diajak bermain oleh Alano dan Alano juga terasa dingin padanya atau mungkin membuat batasan?


Alano fokus pada teman-temannya. Biasanya kan Alano selalu bersamanya, wajarkan dia cemburu. Dia juga merasa kesepian karena kalau bermain dengan Jelly harus di taman belakang, menyebalkan sekali.


"Ana ... "


"Apa? Butuh Ana ya makanya kesini? Bukannya Ana gak asik ya buat diajak main makanya Ana gak boleh main sama Alan lagi, Alan gak mau main sama Ana lagi," Ketusnya.


"Gak mau!"


"Liat dulu sebentar Alana Anindhita Alaric!" Paksa Alano. Ya kalau tidak dipaksa Alana akan menolak berbaikan dengannya. Dia nantinya juga akan tersiksa kalau didiamkan oleh Alana.


"Ana tau, Alan selalu khawatir kalau Ana terlalu deket sama temen Alan." Alano kali ini jujur pada Alana tentang ke khawatirannya.


"Ana gak deketin mereka loh Ana cuma mau ada temen aja, ngobrol sama Alan. Ana juga gak suka kok sama temennya Alan jadi Ana gak akan caper atau gimana-gimana. Emang Alan pikir Ana–"


"Dengerin dulu please ... "


"Apa?!"


"Ana gak akan deketin mereka, tapi mereka belum tentu. Alan gak akan biarin mereka nyakitin Ana dengan cara deketin Ana. Alan gak mau Ana kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Ana mau sekolah di sini, bukan mau cari pacar loh Alan."


Alano menghela napasnya, bukan itu maksud Alano. Tapi ini lebih kepada teman-temannya yang sudah ada gerak-gerik menyukai Alana dan meminta izin padanya.


Meskipun mereka bersahabat, Alano tau bagaimana karakteristik mereka dan Alano tau kalau mereka tidak akan pernah serius dengan satu wanita. Mereka akan melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian wanita yang mereka incar.


Sekarang Alana tidak tertarik, tapi kalau nanti dia tertarik bagaimana? Tidak, lebih baik mencegah daripada mengobati. Alano akan memprotect Alana sebaik mungkin. Jadi dia mengatakan apa saja yang boleh dan yang tidak boleh Alana lakukan. Termasuk jatuh cinta pada salah satu temannya.


"Alan berlebihan, Ana gak suka diatur-atur kaya gitu! Lagian Ana gak akan suka kok sama mereka. Kenapa Alan jadi suka ngatur-ngatur Ana, gak boleh temenan sama ini, sama itu. Kemarin aja Alan kaya curigain temen Ana. Padahal dia baik."


Iya Alana memiliki teman pria kemarin yang menyapanya di parkiran. Lalu dengan cepat Alano menarik tangannya dan bilang kalau Alana tidak boleh terlalu dekat dengan pria di sekolahnya. Memang Alano ini sama seperti Papanya sepertinya.


"Na, Ana percaya kan kalau Alan sayang sama Ana? Papa selalu bilang kalau Alan harus jagain Ana, jadi tolong nurut."


Alana menghela napasnya, kalau Alan berkata seperti itu mau bagaimana lagi. "Yaudah tapi harus nepatin janji nonton little pony sekarang!"


Alano mengangguk, setelah itu dia menarik Alana keluar kamar dan mengajaknya ke ruang keluarga. Aneh, biasanya orang tuanya sedang asik menonton tapi mereka malah di kamar. Jadilah hanya mereka berdua.


Alano pasrah sebenarnya kalau menemani Alana menonton kartun. Dia seperti menemani anak kecil yang tergila-gila dengan cocomelon. Pasti akan diputar ulang episodenya dan itu menjengkelkan apalagi kalau Alana sudah bernyanyi.


"Pony kecilku, pony kecilku~" Suara Alana mulai terdengar di pendengaran Alano. Nah iya itu yang Alana nyanyikan. Bikin jengah jengah sebenarnya.


"Na ini episode yang waktu itu," ucap Alano.


"Seru tau ini dia kaya mau bikin party gitu, tapi harus ngundang semua warganya, seruuu!!"


Mendengar itu Alano mengangguk saja, lagi pula dia juga yang menjanjikan Alana menonton film kesukaannya itu. Ini baru jam 9 malam namun.


Terdengar suara-suara aneh dalam kamar orang tuanya. Alana langsung memeluk Alano. "Itu Mama di KDRT papa gak sih, Alan?" Tanya Alana kaget.


Alano memejamkan matanya gemas, salah sepertinya mengajak Alana menonton di sini. Pantas saja orang tua mereka sudah ngamar segini hari.


"Engga, mereka lagi ... Ituu olahraga!" Kata Alano mencari alasan.


"Masa sih, tapi itu mama kaya kesakitan gitu. Atau kita samperin aja ya? Ana takut!" Alana akan berdiri tapi Alano menarik tangannya.

__ADS_1


"Jangan, gak kenapa-kenapa kok Mama. Biar aja lagi olahraga, nonton lagi aja nonton atau emm kita ke atas aja ke balkon liat bintang, mau?" Tawar Alano.


Alana mengangguk cepat, membuat Alano menghembuskan napasnya lega. Alana ini memang polos sepertinya. Lagian ini masih siang tapi orang tuanya itu ... Ah sudahlah, mereka memang masih sangat muda dan produktif. Tidak heran kalau masih suka begituan sering-sering.


__ADS_2