
"ALANA!!!"
"ALANA KAMU DIMANA?"
Entah sudah ke berapa kali, Anggara dan Agam berteriak di kegelapan, mencari-cari sosok Alana yang masih belum memberikan jawaban. Mereka menyusuri pepohonan lebat, menyusuri jejak sepatu yang mereka duga adalah milik Alana.
"Geras terakhir ngerasa diikutin seseorang di sini katanya." Anggara bergumam saat mereka sampai di sebuah persimpangan. Baru Agam sadari jalan itu memang samar, jika ada orang baru yang melewatinya akan otomatis memilih untuk pergi ke jalur kiri, sementara jalur untuk jalan pintas ke rute jelajah alam mereka adalah ke kanan, dan untuk jalan ke pemukiman warga lurus.
"Ly yakin, Gam?" Tanya Anggara sebelum mereka menuju jalur itu. Agam lalu mengangguk, kemudian mereka melangkahkan kaki ke jalur kiri. Ini menakutkan sebenarnya, tetapi mereka tidak ada pilihan. Entah mereka akan bertemu Alana, atau justru berhadapan dengan hal lain yang mungkin akan berbahaya.
Baru saja mereka akan meneruskan langkah, Agam menarik tangan Anggara agar dia berhenti melangkah. Sontak Anggara terpaku di tempat, bertanya-tanya kenapa Agam menahan langkahnya.
"Kenapa?" Bisiknya yang dijawab dengan jari telunjuk oleh Agam, mengisyaratkan Ilham untuk diam. Mereka mendengar sebuah suara daun-daun kering yang bergesekan. Tak berapa lama Kedua mata pemuda itu menangkap ada ular besar yang melintas. Ular sanca yang bisa membelit siapapun yang melawannya.
Agam dan Anggara memutuskan untuk bergeming sampai ular itu selesai melintas. Baru melangkah saja sudah ada hambatan ular sebesar betis mereka. Bagaimana dengan kondisi di dalam sana? Agam tidak sempat memikirkan itu, yang dia pikirkan hanya harus menemukan Alana secepatnya. Pun begitu juga dengan Anggara yang berharap semoga Alana baik-baik saja.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Memang masih ada jejak kaki, tetapi jejak itu hilang setelah mereka menyusuri beberapa meter.
"Jejaknya, hilang," gumam Agam yang disetujui oleh Anggara.
"Iya. Apa mungkin Alana masih ada disekitar sini?"
Agam menggeleng. "Mungkin juga udah jauh," jawabnya. Agam juga tidak tau pastinya, tetapi hatinya mengatakan begitu.
Kedua pemuda itu menyapukan pandangan ke sekeliling. Tidak ada apapun yang bisa mereka jadikan tanda adanya Alana, hanya pohon-pohon besar yang tinggi menjulang serta semak-semak belukar. Agam lalu mengarahkan pandangannya ke suatu arah. Tempat yang gelap dan rimbun.
__ADS_1
"Gua mau masuk lebih jauh, kalau lu berubah pikiran, lu bisa balik," ucap Agam. Ya bagaimana pun diantara mereka berdua harus ada yang selamat kan kalau di dalam sana tidak sesuai perkiraan bagaimana?
Anggara pun menggeleng tegas. "Gak, Gam. Kita ke sini bareng, keluar juga bareng," jawab Anggaea dengan mantap. " Apapun yang terjadi, gua ikut lu, gua juga turut andil di kasus ini."
Mereka lalu melangkahkan kaki menuruti kata hati Agam. Sudah cukup jauh mereka berjalan seraya memanggil-manggil nama Alana, namun juga tak kunjung menemukan gadis itu. Sudah pukul tujuh lebih, hampir setengah delapan malam. Kabut sudah mulai turun membuat mereka sedikit kesulitan melihat jika saja tak mengenakan senter.
Lalu tubuh mereka menegang mendengar suara yang samar-samar seperti orang menangis. Suara itu nampak jauh.
"Lu denger kan, Gam?" Tanya Anggara kemudian Agam menganggukkan kepalanya.
"Alana!"
Anggara berinisiatif memanggil Alana, barang kali suara itu memang milik Alana. Tetapi tidak ada jawaban, suara itu malah menghilang, membuat mereka sempat merinding. Lalu beberapa saat kemudian dia mendengar sebuah teriakan.
Agam semakin tidak tenang, terlepas dia tidak tah apakah itu suara manusia atau suara-suara yang lain, ia tak menggubrisnya. Yang ia pikirkan hanya Alana, Alana, dan Alana.
"Gua ke sana, lu ke sana," perintah Agam pada Anggara seraya menunjuk arah yang berlawanan, Agam ke kiri dan Anggara ke kanan.
Perlahan Agam melangkahkan kakinya, membiarkan dirinya masuk lebih jauh di hutan itu. Begitu sampai di titik yang dia tunjuk tadi, dia berdiri di sana. Dia memejamkan mata, memfokuskan diri seraya mengucapkan dalam hati, "Saya di sini, Alana. Kamu di mana?"
Cukup lama dia berdiri, namun tak mendapatkan apa-apa. Namun saat dia ingin kembali, dia mendengar sebuah suara daun kering yang dipijak dengan terburu-buru. Lantas Agam mematikan senternya. Menajamkan pendengarannya yang menangkap suara itu semakin dekat. Lalu ....
BRUKK!!!
Suara sesuatu terjatuh. Agam belum berani berbalik badan, tubuhnya juga menegang. Dia takut itu wajar, kan? Lalu dia mendengar sebuah napas yang tersengal-sengal. Beberapa detik setelahnya, Agam memberanikan diri untuk membalikkan badan.
"AAAAA MAMA, PAPA, ALAN!! HUAAA," teriaknya.
__ADS_1
Seorang perempuan sudah bersimpuh di depannya. Agam lantas menyalakan senternya. Mengarahkan ke objek yang ada di hadapannya.
"Kak Agam!"
"Alana!" Setelah menyadari bahwa Alana lah yang berada di hadapannya, Agam membantu gadis itu berdiri.
"Ini beneran, kakak, kan? Bukan Kak Agam jadi-jadian, kan?" Tanyanya lagi setelah tubuh mereka sejajar dengan suara parau. Astaga, perempuan ini masih sempat berpikir macam-macam. Tidak tahukah ia jika Agam mempertaruhkan banyak hal demi mencari dirinya?
"It's me," jawab Agam menggenggam sebelah tangan Alana yang dingin. Ada jejak air yang belum kering di wajah Alana, Namun belum sempat Agam membersihkannya, jejak itu tertimpa kembali dengan air mata yang tiba-tiba tumpah.
Alana terisak, membuat Hati Agam sedikit nyeri. "Aku takut, Kak! Aku takut banget, aku takut gelap. Aku mau pulang! Jangan tinggalin aku!"
Lantas Agam mengusap kepala Alana dengan kedua tangannya dan menariknya kedalam dekapan dada. Dia Membiarkan Alana mendengarkan detak jantungnya yang sedang berdetak tak beraturan.
"Kakak boleh hukum aku habis ini, kakak boleh marahin aku habis ini, lakuin apapun, kak! Aku terima! Tapi aku mau pulang. Jangan tinggalin aku ya." Racauan itu keluar beruntun dari bibir Alana. "Aku takut!"
"Diam, Alana," perintahnya. Entah sadar atau tidak, setelah Agam mengatakan itu, Alana memeluk tubuh Agam erat-erat. Tubuh Alana gemetar hebat. Agam memakluminya, berada di dalam hutan dengan kondisi gelap siapa yang tidak takut? Dia yang laki-laki pun sempat ingin menyerah.
"Aku mau pulang, Kak! Aku takut!" Dengan sendirinya Agam merengkuh perempuan itu, membelai rambut halus Alana dengan perlahan berusaha menenangkan Alana yang masih terkejut dengan situasi ini. Sementara dalam hati Agam mengucap syukur, karena Tuhan telah melindunginya, juga telah mempertemukan Alana kembali dengannya.
"Aku lihat ular! Aku takut!" Alana terisak seraya meremas baju Agam dengan erat.
"Aku takut tahu, Kak! Aku takut!" Teriaknya semakin histeris.
"All is well," bisiknya di telinga Alana. Pria itu Hanya mengeratkan pelukannya sampai Alana merasa lebih baik. Perempuan itu berangsur-angsur tenang walau tubuhnya masih gemetar. Agam lalu mengurai dekapan.
"Saya sudah bilang jangan ikut, kenapa masih nekat pergi? Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Kalau kamu gak ditemukan gimana? Saya harus bilang apa sama Tante Abella, harus jelasin apa sama mama kamu?" Omelnya pada Alana.
__ADS_1
"Maaf, Kak Agam," lirih Alana yang terdengar tulus di telinga Agam. Alana menunduk, tak berani menatap Agam.
Tangan Agam lalu terulur meraih dagu Alana. Kedua pasang netra itu saling mengunci satu sama lain. Agam yang lebih dulu mengikis jarak. Kini wajah Agam semakin mendekat dengan wajah Alana. sementara Alana hanya bisa menelan ludahnya susah payah dan memejam kan matanya. Apakah Agam akan menciumnya sama seperti cerita pada novel romansa yang dia baca?